Rabu, 17 Januari 2018

Jejak


photo by : Renna


Sebatang rokok yang terselip diantara telunjuk dan jari tengah itu masih utuh. Sama sekali belum tersentuh api. Gelang hitam berseling merah yang terbuat dari tali itu juga masih menemani pergelangan tangan yang kini mulai menghitam terbakar matahari. Sepatu converse buluk yang entah kini telah berubah warna antara kuning muda, abu, tidak jelas apa warnanya padahal sepatu itu dulu putih bersih. Sudah pasti sepatu itu telah menemani pemiliknya berjalan bertahun-tahun hingga rupa sepatu itu sungguh miris.

“Nih korek!” seseorang menyodorkan korek api  kepadanya.

“Terima kasih Mas, saya tidak sedang ingin merokok.” Jawabnya sopan.

“Terus? Ngapain daritadi rokok itu hanya kamu pegang, diputer-puter diantara jemari?”  tanya orang itu yang merupakan seorang penarik becak. Dia menyalakan api dari pemantiknya didekatkan pada sebatang rokok yang hendak dihisapnya.

“Nggak apa-apa Mas, iseng saja, hehe..” tawa yang garing. Memperhatikan tukang becak yang sebenarnya masih muda, paling hanya beberapa tahun di atasnya. Tapi garis wajah yang tegas sekilas membuat orang itu tampak lebih tua.

“Lagi ada masalah?” tanya orang itu lagi yang entah hanya iseng bertanya atau lama-lama merasa terganggu dengan tingkah pemuda disampingnya yang sedari tadi hanya memutar-mutar sebatang rokok di tangannya.

“Aku Joni, tukang becak di sini.. terminal ini sepi bus sudah jarang mampir paling sehari hanya ada satu bus, beberapa penumpang angkot yang biasanya nunggu juga semakin jarang lewat di sini.” Dia menyesap lagi rokoknya. Lalu mematikannya, merasa tidak enak berbicara dengan orang yang baru ditemuinya dengan berhiaskan kepulan asap rokok. “Panggil aja aku Bang Joni” lanjutnya.

Pemuda disampingnya tersenyum, tercetak dua lesung di pipinya. “Saya Jejak.” 

Joni menunggu lanjutan dari kata-kata Jejak. Namun hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“Jejak? Kamu nunggu siapa di sini?” tanya Joni.

“Kenapa Abang di sini? Bukannya tadi Abang bilang kalau di sini sepi?” Jejak bali bertanya.

Joni tertawa, lalu beranjak ke toko penjual minuman yang berada di sebelah tempat mereka duduk. Tak berapa lama Joni kembali membawa dua buah botol minuman jeruk dingin. Mengulurkan satu untuk Jejak. Awalnya Jejak heran, memangnya raut mukanya terkesan sangat kehausan dan tidak sanggup membeli minuman? Oh, separah itukah wajahnya siang ini?

“Aku tahu kamu punya banyak uang, aku membelikan ini bukan karena mengasihanimu, tapi aku anggap kamu adalah tamu di sini.” Seolah Joni paham yang sedang dalam pikiran Jejak.

“Eh, iya, Makasih Bang.” Jejak membuka botol dan meneguk sedikit isinya. 

“Ah... segarnya.” Joni hampir menghabiskan satu botol dalam sekali tegukan. “Kamu tadi bertanya kenapa aku masih tetap menunggu penumpang di sini walaupun terminal ini sudah sepi?” Joni menoleh ke arah  Jejak.

Jejak mengangguk.

“Aku memang sedang tidak menunggu penumpang di sini, tapi aku sedang menunggu istriku. Dia pergi merantau tiga tahun lalu. Dia berkata akan pulang dua bulan sekali setiap hari pasar rame, kamu tahu, di daerah sini setiap dua bulan sekali akan ada pasar rame, pasar dimana penjual dan pengunjung berasal dari beberapa daerah dan berkumpul di balai desa. Ramai sekali. Istriku memintaku untuk menunggunya di tempat keberangkatannya dulu, yaitu di terminal ini...”

Jejak seksama mendengarkan cerita Joni.

“.....dia melakukannya di tahun pertama, mulai jarang di tahun kedua, dan hingga tahun ketiga ini dia tidak pernah datang.” Lanjutnya.

Jejak hanya menatap laki-laki disampingnya, bingung harus mengatakan apa.

“Jadi, karena aku telah berjanji kepadanya untuk selalu menjemputnya,  maka di sinilah aku sekarang, menunggunya dengan becak kesayanganku.”

“Tapi Bang, bagaimana kalau istri Abang tidak pernah datang?” tanya Jejak, yang langsung dibalas dengan tatapan dari Joni.

“Eh, maksud saya bukan seperti itu Bang.....” buru-buru Jejak meralat pertanyaannya.
Joni menepuk ringan bahu Jejak, seolah mereka adalah dua sahabat yang sudah lama akrab. “Ya, aku tahu maksud pertanyaanmu. Jangankan kamu yang baru bertemu denganku, di sini setiap hari, semua orang yang ada di terminal ini selalu menanyaiku bahkan mereka menganggapku laki-laki bodoh yang mau saja menunggu istrinya yang sampai saat ini satu suratpun tidak pernah kudapat.”

“Lalu....?”

“Lalu?” Joni mengulangi pertanyaan Jejak. “Lalu seperti yang kamu temui siang ini, aku masih di sini menunggunya. Karena aku telah berjanji, aku tidak bisa mengingkarinya.”
Jejak tiba-tiba teringat dia pernah berjanji pada seseorang.

“Jejak, kamu tahu hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian, hanya sebuah kematianlah hal yang pasti. Tapi kamu akan menemukan suatu kepastian jika kamu menepati setiap perkataan yang telah kamu ucapkan.”

Jejak pernah berjanji kepada seseorang untuk kembali.

“Aku telah berjanji pada istriku untuk menunggunya, maka sebisa mungkin aku menepatinya hingga aku mendapat suatu kepastian, meskipun kepastian itu adalah untuk selalu menunggu. Aku tidak bisa menyalahkan istriku yang telah melupakan janjinya hingga membuat kepulangannya seolah-olah tidak pasti untukku, karena hal itu biarlah menjadi urusannya yang terpenting aku akan tetap di sini untuk menunggunya.” Joni menyilangkan kakinya

“Kamu tahu, jangan pernah mengubah dirimu hanya untuk dicintai oleh orang lain, cukup perbaiki apa yang ada di dalam diri kamu sehingga jika suatu saat nanti orang yang pergi darimu itu kembali, kamu masih menjadi orang yang sama dimatanya.” Joni mengedarkan pandangan. “Karena tidak selamanya menunggu itu membosankan, kadang terselip pula satu titik kebahagiaan yaitu KEMBALI. Dimana kembalinya kita sangat dinanti-nantikan oleh semua orang yang menunggu kita.” Lanjutnya.

Mata Joni tampak berbinar, dari kejauhan tampak seorang perempuan turun dari sebuah bus antar kota kemudian berjalan menuju ke arahnya. 

Jejak turut beranjak, menyambut kehadiran istri Joni. Setelah berbasa basi singkat Jejak melangkahkan kembali kakainya, menuju ke rumah yang telah dua tahun ini hanya ada dalam angan-angannya saja, seseorang yang mungkin masih tetap sama menunggunya untuk pulang seperti apa yang dilakukan Bang Joni terhadap istrinya.
***
Rumah penuh tanaman itu masih sama seperti dua tahun lalu, rindang dengan mawar yang tetap cantik.

Senin, 08 Januari 2018

Sore dan Aroma Kopi

photo by : Richard Nando

Sore ini, di sebuah kedai kopi. Aku duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sinar matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela di atas pintu. Aku suka duduk menatap sinar yang jatuh berwarna jingga ini.

Secangkir kopi kupesan, bukan untukku karena aku tidak begitu suka dengan kopi. Aku hanya akan meminumnya jika benar-benar membutuhkannya untuk  sekadar membantuku menunda rasa kantuk yang datang, sewaktu lembur mengerjakan laporan misalnya. Aku lebih menyukai aromanya, ya tidak dipungkiri aroma kopi sangatlah menggoda, bahkan lebih membuat candu daripada secangkir kopi itu sendiri. Dan sore ini aroma kopi yang dihidangkan di mejaku sangat pas dinikmati sambil menunggumu datang.

Aku menatap sekeliling, dimana belum banyak pengunjung sore ini ke kedai. Baru tiga meja yang sudah diduduki oleh pelanggan, ehm... empat dengan mejaku. Kuperhatikan bunga di mejaku yang tampak sedikit kering, tampak dari ujung daunnya yang mulai berwarna kekuningan. Oh, mungkin mereka lupa mengganti segenggam bunga ini. Atau, mereka memang sengaja membiarkan bunga kering itu sebagai seni. Tapi tidak masalah buatku, aku justru menyukainya. Seolah aku berada di tempat yang sudah memasuki musim gugur.

Kulirik jam dinding bergambar dedaunan. Klasik. Jarumnya menunjuk angka 4 lewat 29 menit. Kamu terlambat datang. Aku yakin itu. Tapi ternyata aku salah, kamu tepat berdiri di pintu masuk saat jarum panjang tepat di angka enam.

Aku melihatmu berjalan ke arahku. 

"Terima kasih telah menungguku, jangan beranjak. Tetaplah duduk bersamaku, aku akan berbagi cerita tentang rasa ini bersamamu" Katamu sambil menyesap kopi yang mungkin aromanya sudah tidak harum lagi.

***
*Cerita fiksi ini terinspirasi dari sebuah foto di atas.

Kamis, 21 September 2017

Mendaki Gunung Lewati Lembah


Mendaki gunung, adalah satu hal yang belum pernah saya lakukan, tapi selalu ingin saya cicipi meskipun sedikit. Ya, Ranukumbolo adalah salah satunya yang ingin saya datangi dan melihat langsung keindahan danau yang katanya menjadi surga tersembunyi di lereng gunung Semeru. 

Saya sendiri memang tidak hobi mendaki gunung, tapi tidak hobi bukan berarti tidak ingin mencobanya bukan? Karena saya tahu pastinya ada suatu hal yang menarik dalam perjalanan selama pendakian dan itu yang bikin saya penasaran. Baiklah mendaki gunung sesekali bolehlah, heuheuheu.....

Lokasi Ranu Pane : menunggu registrasi
Saya bersama dua teman saya berangkat dari Surabaya menuju ke Malang menggunakan transportasi umum. Setelah samapai di Terminal Arjosari Malang, kami bertiga menuju ke Tumpang untuk bertemu dengan teman mendaki lainnya di basecamp salah satu teman mendaki.

Total kami bersembilan. Hanya ada dua perempuan diantara kami yaitu saya dan Ilmi. :) saya tidak mengenal satu pun diantara mereka, tapi itulah asyiknya bisa mendapatkan teman-teman baru.

Berangkat dari basecamp ke Ranu Pane mengendarai Jeep yang sudah disewa sebelumnya untuk mengantar dan menjemput kami di Pos Ranu Pane. Sesampainya di sana sudah banyak pendaki yang menunggu untuk melakukan registrasi. Hampir 2 jam menunggu akhirnya selesai juga briefing dan registrasi, dll, kami baru bisa memulai perjalanan sekitar jam 10 pagi. Sebelum mulai penanjakkan kita sarapan dulu, biar kuat. hehehe.


perapian di Pos 1


Setelah sekitar satu setengah jam perjalanan sampailah kita di Pos satu. Di Pos satu ini terdapat penjual minuman, jajanan gorengan, dan semangka. Cuaca sudah mulai dingin di sini. Kami beristirahat sejenak.

POS 3
Perjalanan cukup lancar meskipun sedikit-sedikit berhenti, maklum ini adalah pendakian pertama dan sebelumnya tidak pernah berjalan seeeeeejauh dan membawa beban seberat ini *karena membawa beban tubuh saja sudah begitu berat :p :D.

Mendekati Pos tiga yang menurut saya jarak terjauh dari pos 2 (dibandingkan jarak pos 1 ke pos 2) tenaga ini benar-benar habis. Sungguh, rasanya aku tidak kuat melanjutkan untuk ke Pos 4. :'( huhuhu..... di sini kami (terutama Saya dan Ilmi) harus beristirahat lebih lama. Apalagi medan untuk ke Pos 4 nanti agak nanjak.

Setengah jam lebih saya masih leyeh-leyeh di Pos 3, mager, hahaha. Setelah cukup pulih tenaga, oke saya berdiri dan melanjutkan penanjakkan kembali menuju pos 4. Tapi baru beberapa langkah dari Pos 3 sudah ada tangga yang cukup menanjak (di sini hanya ada bantuan tali untuk pegangan) satu, dua, tiga anak tangga, angkat tangan tidak kuat. BENAR-BENAR habis tenaga. jadi tiap tiga atau empat anak tangga saya berhenti. 

Di tengah perjalanan menuju Pos 4 *dengan tenaga yang tinggal secuil* kami berpapasan dengan gerombolan bapak-bapak yang hendak turun, salah satu dari mereka menyeletuk. "Ayo semangat Mbak! di atas ada artis, Hamish.!" katanya sambil menepuk-nepuk dua tangan memberikan semangat.

"Yakali Hamish beneran, paling hanya bualan buat menyemangati kami saja" batinku.

Puncak Semeru yang berawan

Perjalanan kembali berhenti untuk istirahat. Rasanya ingin melepas tas carrier dan tidur sejenak. Sudahlah kita jalan sesampai-sampainya, sampai di Ranukumbolo malampun tidak apa-apa. Lalu salah satu teman kami, Didit masih memiliki amunisi yaitu Madu kemasan sachet. dibagilah kami satu-persatu. Mungkin dalam kondisi biasa saya tidak pernah menyukai yang namanya madu dan tidak akan mau memakannya. Tapi entah apa yang membuat saya menerima dan langsung menyesap sedikit demi sedikit isinya sambil mulai berjalan.

Oke, ini bukan endorse atau promoin iklan madu ya, tapi sumpah, baru meneyesap setengah dari isi, rasanya tenaga kembali saat itu juga. Badan langsung enak, tidak lesu seperti sebelumnya (ini benar-benar pengalaman yang saya sendiri takjub dengan khasiat madu yang langsung terasa nyata). Perjalanan kembali semangat, apalagi Pos 4 tinggal sebentar lagi.

Danau Ranukumbolo, dari Pos 4
Akhirnya, hamparan air danau yang berkilau terkena pantulan sinar matahari menjelang sore tampak juga. Kembali sejenak kami beristirahat sambil menikmati sore dari atas. Angin semilir semakin menambah keinginan untuk tidur di sini, hehehhe.

"Eh, ada Bang Hamish loh, kalin nggak mau foto bareng?" Celetuk salah satu teman kami yang sedang bercengkrama dengan orang-orang di Pos 4.

Berhubung saya, Ilmi, dan Didit sudah Mager, kita menyahut bahwa kita tidak mau foto, udah capek, niat saya sih biar saya rekam atau foto Bang Hamishnya sendiri aja buat ajang pamer ke temen-temen :D

Ternyata ketika Bang Hamish lewat, teman saya yang menawari itu langsung mengeluarkan handphone meminta ijin untuk foto dengan Bang Hamish. Tahu nggak apa yang kami *yang sedang istirahat ini* lakukan? kami langsung berlari dan bergabung untuk foto bersama Bang Hamish. Wooow, ini momen langka, rejeki nggak akan kemana, meskipun hanya foto bersama Bang Hamish doang :)
Bang Hamish dan Ranukumbolo
Hehhe, lumayan bertemu dengan Bang Hamish bisa menambah tenaga untuk melanjutkan perjalanan yang kurang sidikit lagi.

almost there :D

Hari ke - 2
Malam hari yang sangat dingin akhirnya digantikan dengan hangatnya mentari pagi. Yeay, akhirnya terkabul bisa melihat sunrise di Ranukumbolo :)

sunrise
Morning Sugar :)

Ternyata kehangatan matahari pagi tidak bertahan lama, karena kabut kemudian datang perlahan tapi pasti, membuat hampir seharian turun hujan ringan. huhuhu... tidak bisa kemana-mana deh! hanya berkutat di tenda memasak sarapan, lalu agak sorean memasak spageti. Yumm.

Masak Sayur Sop
Spaghetti Gunung
selamat makan
Ternyata mereka tidak hanya bisa dalam mendaki gunung saja, tapi juga merupakan koki yang handal *jadi ketahuan siapa yang tidak bisa masak ini, hehehe*


masak ini dan itu
Hampir seharian hujan, baru sore hari hujan reda tapi cuaca masih tetap berkabut. Daripada hanya di tenda, akhirnya sebagian dari kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Ayak-ayak.



Inilah Ayak-ayak, seperti padang rumput yang sayangnya sekali lagi, karena cuaca berkabut jadi tidak bisa menikmati hangatnya sore.

Ayak-ayak yang berkabut

Hari ke - 3
mi instan Gunung
Adakah yang lebih nikmat selain makan mi instan saat hari Minggu sambil nonton Doraemon? ternyata ada, yaitu menikmati mi instan di hangatnya pagi di atas gunung. hahaha, setelah sekian lama tidak makan mi instan *karena ada bagian tubuh yang alergi jika terlalu sering mengonsumsi mi instan* akhirnya di sini makan mi instan lagi, yippie \^o^/

Hari ketiga ini cuaca sangat cerah. Seneng sih, tapi kan hari ini adalah hari terakhir dan waktunya turun. huhuhu.....

di balik tanjakkan cinta
di pagi hari ketiga yang cerah ceria ini sebelum packing lagi untuk turun kami jalan-jalan ke tanjakkan cinta. Inginnya sih naik tanpa noleh ke belakang sambil menyebutkan nama gebetan, ah tapi apa daya, naik dengan tidak lupa nafas aja udah untung. haahahha, karena tanjakkan cinta benar-benar me-nan-jak. Fiuh!!

Setelah sarapan *menu soto ayam dan mi instan* kami merapikan semua perlatan dan kembali menata isi carrier *sedih rasanya sudah harus kembali :(* Lalu bersama kelompok kami mengabadikan momen di tepi danau Ranukumbolo :D

teman-teman baru
Merekalah teman-teman baru yang menjadikan pendakian pertama saya sangat berkesan. Mereka semua anak yang asyik, koki yang hebat, pendaki yang keren. *apalagi ada salah tiga dari mereka yang suka banget sama K-Drama. Waah, ngalir juga deh obrolan tentang K-Drama. |^-^|\/ .

Terima kasih kepada teman-teman baru ini. *prokprokprok.

**Semoga ada kesempatan di lain waktu untuk melakukan perjalanan bareng kalian lagi. :D




*ini bonus foto, saat perjalanan pulang dari Ranu Pane. \^o^/



Burung Merpati dan Segenggam Jagung


pagupon. Dok pribadi


Pagi sudah hampir beranjak, tugas matahari pagi untuk memberikan kehangatan akan segera berakhir. Pun dengan beberapa orang yang duduk menikmati hangatnya sinar matahari mulai membereskan tikar, kotak sarapan mereka, karena panas sudah mulai menyapa. Para orang tua beranjak, tapi tidak dengan anak-anak kecil yang semakin siang semakin bersemangat untuk datang ke taman ini.

Kota kecil ini hanya memiliki satu taman yang terdapat di sebelah barat batas kota. Taman itu tidak besar, tapi cukup menyenangkan untuk didatangi di tiap akhir pekan bersama keluarga ataupun pasangan untuk sekadar mencari hangatnya pagi, atau piknik ringan dengan membawa beberapa bekal dari rumah untuk dimakan di sini sambil menunggu anak-anak bermain.

Taman ini ada sejak kota ini mulai dibangun, selalu ada perbaikan, penambahan, atau pengurangan oleh Dinas Taman Kota agar semakin cantik. Namun, dari semua perbaikan tersebut ada satu hal yang tidak pernah terusik dari awal yaitu pagupon burung merpati yang terdapat di atas pohon yang letakknya tepat di tengah taman. Entah kenapa setiap melihat pagupon di atas pohon itu seolah menambah kesan kenyamanan di taman ini. Bahwa ada sebuah rumah pohon kecil yang bertengger dan memiliki kehidupan di dalamnya.

Siang yang terik. Masih terlihat beberapa anak perempuan kecil di bawah pohon rindang yang atasnya terdapat pagupon. Panas siang tidak menyurtkan semangat mereka berlima yang tengah jongkok di bawah pohon memilih dan memilah biji jagung yang berjatuhan di bawah. Tertawa ada yang bercerita bahwa salah satu burung di pagupon itu adalah burung merpati milik kakeknya. Burung cantik yang dulu menjadi kesayangan kakeknya yang kemudian membawa merpati itu kesini karena kakenya telah meninggal dunia.

"Ih, ini ada kotoran burungnya" Ujar anak berkucir kuda membuang satu biji jangung karena terkena kotoran merpati yang telah mengering.

"Nggak apa-apa, sudah kering juga kan?" Kata anak berpipi gembul dan berambut pendek. Telapak tangan kirinya hampir penuh dengan biji jagung.

Tak lama kemudian ada seorang anak laki-laki yang datang dengan membawa satu keresek hitam. Ngos-ngosan dia menghampiri teman-temannya. 
"Engh.... ini aku bawakan jagung banyak!" serunya bertepatan ada satu merpati yang turun, terbang melandai mendekat ke salah satu anak yang ditangannya ada segenggam jagung.

"Cepet buka gih!" 

Anak laki-laki kecil itu segera membuka plastik yang membungkus biji jagung, lalu masing-masing dari mereka mengambil satu genggaman. 

"Sudah waktunya mereka makan siang" Kata anak perempuan berambut ikal.

Benar saja setelah mereka menggenggam jagung dan menengadahkan tangan, delapan ekor merpati mengepakkan sayap, terbang keluar dari paguponnya dan hinggap ke tangan-tangan kecil, menikmati biji jangung.

Anak-anak itu tertawa riang. Inilah mengapa anak-anak kecil lebih menyukai datang kesini siang hari. Mereka memberi makan pada kawanan merpati yang tinggal di pagupon dan berlomba biji jagung dalam genggaman siapa yang habis lebih cepat.

"Lihatlah, setelah kenyang pasti burung-burung ini akan kembali ke rumahnya dan tidur siang." celetuk anak berkucir kuda yang diamnini oleh teman-temannya.

"Mereka akan tidur di rumah yang nyaman itu bersama ayah, ibu, adik, kakak, kakek, nenek, dan saudara-saudaranya." tambah anak laki-laki.

"Karena memang tidak ada yang lebih nyaman selain tinggal dan menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi dan tidur nyenyak selain di rumah, seperti kita, burung-burung ini pasti akan hidup dengan bahagia dengan keluarganya." Ucap anak perempuan yang sepertinya paling besar di antara mereka.

Biji jagung dalam genggaman anak-anak telah habis dan burung merpati kembali masuk kepaguponnya, hanya ada satu tertinggal yang masih mencari sisa-sisa jagung di bawah, namun tak lama kemudian juga kembali ke dalam rumah pohonnya.

Anak-anak tertawa riang. Setelah membereskan sisa-sisa jagung yang jatuh mereka beranjak pulang. Bahagia bagi mereka tidak rumit, sederhana saja hanya dari segenggam jagung di tangan mereka dan burung-burung merpati di taman ini.


Selasa, 23 Mei 2017

Di Sebuah Kedai Cokelat



Mungkin jantung ini sudah cukup lama tidak berdebar sekencang ini. Debaran yang sama saat pertama kali mendengar ucapan sayang dari seseorang yang sudah lama mendiami lubuk hati. 

Ya, bisa dikatakan aku jatuh cinta padanya. Jatuh cinta seutuhnya. Perempuan itu tidak sempurna, tapi aku menyukai ketidaksempunaannya itu. Dia, yang awalnya tidak bisa memasak sedikitpun, demi aku rela bangun pagi dan membuatkanku bekal untuk kubawa ke kantor. Padahal aku tidak pernah memintanya. Mulai dari sandwich yang mudah hingga kue cokelat favoritku. Dia berhasil membuatnya. Aku semakin menyukainya. 

Kami selalu menghabiskan akhir pekan bersama di sebuah kedai cokelat langganan kami. Dia dengan cokelat hangat dan croissant gurihnya, sementara aku dengan kue coklat dan segelas lemon tea. Aku sangat berbahagia dengannya seolah-olah tidak ada yang lebih membuatku bahagia selain dengannya. 
                                                                       
Namun, apa yang kita inginkan kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Ketika kenyataan tersebut tidak sesuai harapan, ada yang bilang jika kenyataan yang kita terima itu lebih baik dari apa yang kita inginkan. Apa benar? Aku rasa tidak. Karena apa yang dikatakan semua itu hanyalah untuk menghibur diri sendiri saja saat kita tidak benar-benar menerima kenyataan itu. Hanya sebuah alasan lain untuk kita agar menerima, ah bukan, tapi agar kita terpaksa menerima apa yang telah ditakdirkan.

Dia, perempuan itu pergi bersama seseorang yang lain di saat aku telah mempersiapkan cincin untuk melamarnya. Jangan ditanya bagaimana sakitnya hati, remuknya perasaan ini. Aku yakin siapapun yang pernah mengalaminya pasti memahami apa yang sedang aku alami.

Dua tahun berlalu...

Kini debaran itu kembali aku rasakan saat menerima sepucuk surat yang diletakkan di atas sebuah kotak hadiah.

Untuk Alei,

Maaf. Mungkin aku sudah tidak pantas lagi untuk mengabarkan keadaanku kepadamu setelah apa yang aku lakukan dua tahun lalu. Aku sangat menyesal telah meninggalkanmu untuk seseorang yang lain. Laki-laki itu adalah Riang, laki-laki yang dulu pernah bersamaku jauh sebelum bertemu denganmu. Dulu Riang pergi meniggalkanku untuk dinas di luar pulau, awalnya kami sangat baik dalam menjalani hubungan jarak jauh ini. Tapi lama-lama hubungan seperti itu tidak pas buatku, dimana aku menginginkan seseorang yang ada di sampingku dan selalu membuatku nyaman selama berada di sisinya, yaitu kamu, bukan hanya melalui telepon seperti Riang.

Riang tiba-tiba datang ke rumah, memenuhi janjinya yang dulu. Di sini aku merasa menjadi orang paling jahat bagi kalian berdua. Sungguh, kasih sayangku kepadamu itu tulus, Alei. Saat itu aku tidak bisa memutuskan apa-apa, maaf aku sempat terlena dengan Riang yang ternyata tidak pernah mengingkari janjinya. Tapi.... hati ini ternyata sudah memilihmu.

Mungkin kamu bertanya mengapa begitu lama surat ini baru sampai di tanganmu. Ya, karena selama dua tahun ini aku berada di luar negeri, menenangkan hati dan pikiran. Aku sudah memutuskan hubungan baik-baik dengan Riang, karena aku yakin dia pasti akan mendapat perempuan yang lebih baik dariku. Tapi saat aku ingin menyampaikan hal yang sama padamu aku tak sanggup membayangkan kamu bergandengan tangan dengan perempuan lain selain aku, memakan sarapan yang dibuatkan oleh tangan yang bukan tanganku, duduk menikmati kue cokelat bukan denganku. Entahlah rasanya berat sekali untuk melepasmu. Sekali lagi maafkan aku Alei untuk keegoisanku ini.

Besok aku kembali ke Indonesia. Aku tahu ini keterlaluan, tapi apakah kamu mau menjemputku di bandara? Aku tunggu jam 3 sore. Aku tidak memaksa jika kamu tidak mau datang. Maafkan aku.

Salam,           
Kinara.

Jantung ini berdegub kian kencang saat aku menatap tulisan tangan perempuan yang sampai detik ini masih memenuhi seluruh hatiku. Sakit hati ini entah kenapa tiba-tiba luruh.
***
“Kenapa kamu masih tetap baik seperti dulu, Alei? Padahal apa yang aku lakukan terhadapmu sungguh jahat.” 

Lesung pipi itu masih dalam seperti dulu. Mata itu masih berbinar. Segala apa yang ada dalam kehidupan perempuan di sampingku ini aku sangat mengaguminya.

“Kamu ingin tahu kenapa aku masih tetap baik? Karena aku selalu berharap kamu akan kembali padaku suatu saat nanti, jadi aku harus tetap baik seperti dulu saat kamu bersamaku. Aku tidak akan pernah berubah menjadi jahat. Walaupun pada akhirnya kamu tidak bersamaku”
Aku menggengam tangannya. “Cause all of me, loves all of you.”

 ****




P.S : tulisan ini dibuat untuk mengikuti sayembara dari Dapur Cokelat bersama Storial di bulan Februari lalu.