Kamis, 21 Juni 2018

Berkunjung ke Monumen Kresek

Jembatan Kresek

Lebaran tahun ini, saya dan keluarga mudik ke Madiun, sebenarnya desanya di Caruban, cuma waktu beli tiket dapatnya yang tiket KA Sancaka, dimana kereta iniitidaj berhenti di stasiun kecil - Caruban - sehingga harus turun di stasiun Madiun.

Saya tidak akan cerita bagaimana suasana mudik lebaran bersama keluarga besar -dari ayah- karena seperti biasa momen mudik lebaran selalu berkesan 😊, yang akan saya ceritakan adalah hari terakhir di Madiun.

Jadi, meskipun tiap tahun mudiknya ke Caruban, saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Madiun. Baru tahun ini saya bisa tahu Madiun itu seperti apa (hmm.. ketahuan katroknya nih saya 😂). Di hari terakhir sebelum balik ke Surabaya sambil menunggu waktu karena tiket pulang baru jam sembilan malam, saya diajak oleh keluarga Caruban main ke Monumen Kresek, Madiun.

Jarak tempuh dari rumah (Caruban) ke Monumen sekitar satu setengah jam, itupun lewat jalan 'dalam' karena sebagian jalan utama Madiun waktu itu masih macet (mohon maaf waktu itu belum sempat tanya jalan 'dalam' yang saya maksudkan. Nanti apabila ada info akan saya update). Tapi setelah masuk ke jalan utama banyak petunjuk jalan menuju ke lokasi kok. Sepanjang perjalanan menuju lokasi akan disuguhkan pegunungan di sebelah kanan dan jalanan mulai sedikit menanjak. Jalanan perais saat kita hendak melakukan perjalanan ke Malang.

Perjalanan semakin indah saat melewati jembatan Kresek, sebagai penanda bahwa kita sudah sampai di daerah Kresek. Dengan latar gunung wilis dan suara air mengalir di bawah jembatan semakin membuat adem. Kami pun berhenti sejenak untuk mengabadikan momen sambil menikmati degan yang dijual di ujung jembatan.

pemandangan di Jembatan Kresek
Oke, perjalanan berlanjut ke Monumen Kresek.
Denah Monumen Kresek
Monumen ini dibangun untuk mengenang para korban kekejaman PKI di tahun 1948 silam. Terdapat beberapa spot yang dibangun untuk mengabadikan sebagian kepingan sejarah ini. 

17 nama korban tertulis di sini

Tampak depan

Pemandangan dari atas


Kekejaman PKI mengacungkan golok





Suasana sore
Selain tempat untuk menceritakan sejarah, monumen ini juga sebagai tempat rekreasi atau bersantai bersama keluarga. Tempatnya pun  ramah dengan anak-anak, karena terdapat taman bermain untuk anak. Meskipun monumen ini menceritakan tentang keganasan PKI tapi suasana yang ditampilkan tidak ada kesan menakutkan sama sekali, sehingga dapat membuat pelajar/anak-anak nyaman untuk belajar sambil bersantai di sini.

Semakin sore tempat ini semakin ramai didatangi pengunjung. Oh iya satu lagi, tempat sholat dan toilet di sini bersih.

Itulah sedikit cerita dari kunjungan saya dan keluarga di Monumen ini. Semoga bermanfaat 😉

Selamat lebaran dan berkumpul bersama keluarga besar 🙏😊


Note :
Tidak ada tiket masuk alias gratis.
Hanya ada pembayaran parkir kendaraan.

Sabtu, 14 April 2018

Cerita di antara Pagi, Siang, Sore, dan Malam


Siang, banyak cerita tersimpan yang kukira telah menghilang
ternyata, hanya tertutup bayang-bayang


Siang ini benar-benar panas, tidak hanya cuaca di luar tapi juga kepal beserta isinya. Aku pusing memikirkan ceritaku yang hilang. Sebenarnya aku tidak yakin cerita yang telah aku tulis itu masih ada di laptop putihmu atau tidak, tapi aku yakin tentang satu hal, bahwa kamu pasti akan menghapus ceritaku. Di saat seperti ini bukan laptop atau kamu yang aku khawatirkan, tapi cerita yang telah aku tulis dengan mengorbankan tiga puluh malam dengan hanya tidur tidak kurang dari dua jam setiap harinya. Aku takut. Benar-benar takut jika cerita itu akan benar-benar hilang. Kamu tahu pasti betapa aku membanggakan cerita itu kepadamu.


Aku mengubek kotak masuk email, barangkali kamu iseng telah mengirimkannya padaku tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Nihil, tidak ada pesan masuk darimu barang satupun. Mungkin semua akan lebih mudah jika aku masih bisa menghubungimu, menanyakan apa kamu masih menyimpan laptop putihmu.. ah bukan, lebih tepatnya apa kamu masih menyimpan ceritaku yang kutitipkan di salah satu folder datamu. Tapi, kamu telah memutus semua media komunikasi denganku sejak dua bulan terakhir ini.

Aku membutuhkan cerita itu, karena cerita itu belum selesai, masih menggantung. Aku harus segera membuat kalimat penutupnya agar cerita itu utuh hingga akhir, entah itu sad ending atau happy ending, aku belum memutuskannya. Sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mungkin buatku untuk menulisnya ulang, karena aku tidak mau menulis lagi cerita yang sama sebanyak dua kali. Kalaupun aku menulis, tentunya aku akan menulis cerita dengan tokoh dan alur cerita yang berbeda.


“Bip” suara notifikasi email masuk. Aku membukanya, karena tidak kenal siapa pengirimnya, hanya subjek email yang langsung menarik perhatianku.


lanjutkan ceritamu, Sekar.


Ada namaku tertulis di sana. Tidak ada pesan apapun di badan email selain tulisan sebuah nama. Aksara, dan sebuah lampiran file ceritaku yang ada di laptop putihmu. Meskipun aku tidak ingat pasti, aku yakin dulu aku telah membuat lebih dari 150 halaman, tapi tidak lebih dari 200. Sementara file cerita yang terbuka di hadapanku ada 212 halaman. Ada 50 halaman dengan cara penulisan yang aku kenal. Tulisan Aksara.


Perlahan aku membaca lima puluh halaman, hingga aku terpaku di kalimat terakhir pada paragraf penutup.


Sekar, ceritamu selama ini tidak hilang, masih utuh seperti sedia kala. ceritamu masih tentang aku, maukan kamu melanjutkan cerita itu lagi denganku?


***

Senja, bukan akhir untuk berpisah,
hanya pertanda bahwa esok akan tiba,
dan kita kembali bercerita


Senja, bukan akhir untuk berpisah, hanya pertanda bahwa esok akan tiba, dan kita kembali bercerita. Kutipan itu kamu gunakan untuk membuka paragraf baru, seolah hendak melanjutkan ceritaku yang belum selesai. Aku kembali membuka email darimu dan membacanya ulang. Duduk di kursi kerjaku menghadap ke jendela barat sambil menikmati tenangnya cahaya jingga sore ini, ditemani dengan secangkir kopi.


Lima puluh halaman yang kamu tulis seolah membuka alur ceritaku kembali yang sebenarnya hendak aku selesaikan dengan satu paragraf pamungkas. Tapi, kamu menambahkan cerita lain, mengajak pembaca terbang kembali menikmati cerita manis seperti di awal ceritaku. Dan aku tidak suka. Aku hanya ingin menyelesaikannya.

“Bip” bunyi itu terdengar lagi. Kubuka kotak masuk emailku. Dari kamu, Aksara.


Sekar,
bagaimana dengan lanjutan ceritamu yang aku tulis? apa kamu menyukainya? aku tidak yakin kamu akan menyukainya.
maafkan aku, Sekar. aku tidak bermaksud lancang untuk melanjutkan cerita itu tanpa persetujuanmu, tapi aku ingin cerita itu berakhir indah, seperti seharusnya.


“Berakhir indah apanya. Aku yang berhak memutuskannya” Aku menggerutu. Enak saja. Lalu kulanjutkan lagi membaca paragraf keduanya.


aku ingin kembali bersamamu, Sekar, kembali untuk melanjutkan cerita hidupku bersamamu yang belum selesai. oke, kamu pasti berfikir aku ini egois, setelah apa yang aku lakukan kepadamu aku dengan entengnya memintamu kembali bersamaku. maaf, aku benar-benar menyesal. aku berharap kamu bisa memaafkan aku.


Sebegitu pengecutnya kamu hingga kamu hanya berani mengirim email tanpa berusaha bertemu denganku dan menyampaikannya langsung. Aksara, kamu masih saja seperti dulu, egois.


sampai saat ini aku tidak berani bertemu langsung denganmu Sekar, bukan karena aku tidak ingin, tapi karena aku takut. aku memang pengecut. aku tidak berani menatapmu secara langsung setelah apa yang aku lakukan. karena itu melalui surat ini aku ingin meminta ijin kepadamu terlebih dulu, jika memang kamu berkenan, minggu depan ketika aku sampai di indonesia aku akan langsung menemuimu.


aku menulis surat ini di kala senja dengan semburat jingganya yang indah. Aku harap kamu pun akan membacanya di saat senja. Aku menunggu kabar baik darimu esok hari, saat hari baru dimulai.


Aku memandang matahari yang perlahan mulai menghilang.


***

Malam, ketika rindu masih tersimpan
di satu tempat yang nyaman
tanpa pernah terungkapkan


Dua bulan lalu…


Malam ini adalah malam yang di bulan yang kedelapan saat kamu pergi tanpa berpamitan langsung, hanya melalui pesan singkat kamu mengabarkan bahwa kamu telah memiliki cinta yang lain. Hatiku sakit sekali kala itu, tapi tidak sesakit malam ini yang aku tidak tahu kenapa bayangan tentang kamu masih saja muncul membawa rindu kepadamu, rindu yang hanya bisa aku simpan sendiri tanpa bisa kubagi dengan yang lain, apalagi denganmu.


Benar kata Dilan bahwa rindu itu berat, dan aku hampir saja tidak kuat. Akhirnya aku meletakkan rindu itu di satu tempat yang nyaman, ya hanya aku simpan saja tanpa pernah aku sapa lagi, agar beban rindu itu berkurang. Dan cara yang aku gunakan ini cukup berhasil. Rindu itu pun tidak tumbuh, tidak pula berkembang, rindu menetap dengan manis di salah satu ruang kosong. Biarlah dia di sana, tidak akan pernah lagi aku buka, kecuali kamu memintanya langsung untuk mengambilnya.
Malam ini…


Aku tidak tahu bahwa tempat nyaman itu tidak akan terbuka kecuali ada yang mengetuknya. Kamu melakukan itu di sore ini, saat aku menerima suratmu lagi setelah sekian lama. Rindu yang tidak terungkapkan itu sedikit bergerak, hanya sedikit karena ketukan darimu.

***


Pagi, ketika cerita mulai dicari
dan kembali untuk dibagi


Aku tidak pernah melewatkan dinginnya pagi. Selepas dua rakaat, aku duduk manis di atas atap rumah -dulunya hendak dibuat tempat menjemur cucian, tapi tidak jadi- di sana ada sebuah tempat kecil yang muat untuk satu kursi dan satu meja. Di situlah aku menikmati dinginnya pagiku.


Aku bangun pagi bukan karena ingin berlomba dengan ayam tetangga tentang siapa yang melek lebih dulu, si ayam jago atau aku. Ada beberapa alasan kenapa aku menyukai bangun di pagi buta. Pertama, aku ingin menjadi yang pertama mengucap syukur atas kehidupanku di hari yang baru. Kedua, banyak cerita yang ingin aku cari selama satu hari penuh dan aku tidak mau cerita itu kurang karena waktu sudah keburu malam dan aku harus kembali tidur, maka dari itu aku bertekad memulai semuanya jauh lebih awal.


Secangkir teh manis dengan kepulan asap dan baunya yang harum semakin menambah semangatku menanti pagi. Kupejamkan mata, membiarkan wajahku tersapu lembut oleh dinginnya udara. Kuhirup perlahan bau embun, aroma teh yang masih panas, serta bau tanah yang rupanya masih basah karena hujan semalam.


Matahari pagi mulai menyembul di balik perbukitan yang tampak jelas di tempat aku duduk pagi ini. Sinarnya mulai menyapa siapa saja yang menatapnya saat itu. Aku tersenyum, pagi ini benar-benar pagi yang berbeda.


Pagi ini rasanya satu tempat nyaman yang dulu ada sebongkah rindu kusimpan rapat-rapat di dalamnya kini menghilang. Lega. Aku telah membukanya, bukan untuk aku pupuk kembali agar tumbuh, tapi aku mengembalikannya.


Sesuai dengan apa yang diminta Aksara, aku telah membalas emailnya dini hari tadi. Aku menyetujui untuk melanjutkan kembali ceritaku, tapi tidak dengan ide ceritanya melainkan dari ide ku sendiri. Hanya butuh satu paragraf penutup bagiku untuk menyelesaikan cerita yang belum usai itu. Aku menerima permintaan maafnya. Ajakannya untuk kembali memulai cerita bersamaku aku artikan dengan keinginannya mengambil rindu yang telah aku simpan dengan baik-baik. Aku memberikannya dengan perasaan yang lapang.


Aksara, terima kasih atas semuanya, baik tawaranmu atau usulan ceritamu. betul sekali katamu bahwa cerita itu memang harus berakhir indah dan bahagia, namun kamu lupa satu hal bahwa standar kebahagiaan bagi setiap orang itu berbeda, pun denganku. Bagiku bahagia jika bisa mengakhiri cerita kita seperti ini.


Di pagi yang indah ini, mari sama-sama mulai mencari cerita kita masing-masing dan kembali membaginya dengan orang-orang tersayang kita. Kita mungkin akan melanjutkan cerita bersama-sama tapi di kertas dan jalan cerita yang berbeda. Nikmati pagi ini dengan bahagia, Aksara. Terima kasih.


Tidak ada rasa menyesal setelah membalas surat itu, karena memang demikianlah seharusnya tidak ada penyesalan. Kisah dalam hidup itu seperti saat kita sedang menjalani hari-hari, apa yang terjadi di pagi hari tidak selalu mempengaruhi yang terjadi nanti siang, sore, ataupun malam. Akan selalu banyak cerita berwarna di hari-hari yang kita jalani. Karena itu aku tidak pernah melewatkan pagi, akan selalu ada kesempatan berbeda di tiap pagi yang datang.

****

Rabu, 17 Januari 2018

Jejak


photo by : Renna


Sebatang rokok yang terselip diantara telunjuk dan jari tengah itu masih utuh. Sama sekali belum tersentuh api. Gelang hitam berseling merah yang terbuat dari tali itu juga masih menemani pergelangan tangan yang kini mulai menghitam terbakar matahari. Sepatu converse buluk yang entah kini telah berubah warna antara kuning muda, abu, tidak jelas apa warnanya padahal sepatu itu dulu putih bersih. Sudah pasti sepatu itu telah menemani pemiliknya berjalan bertahun-tahun hingga rupa sepatu itu sungguh miris.

“Nih korek!” seseorang menyodorkan korek api  kepadanya.

“Terima kasih Mas, saya tidak sedang ingin merokok.” Jawabnya sopan.

“Terus? Ngapain daritadi rokok itu hanya kamu pegang, diputer-puter diantara jemari?”  tanya orang itu yang merupakan seorang penarik becak. Dia menyalakan api dari pemantiknya didekatkan pada sebatang rokok yang hendak dihisapnya.

“Nggak apa-apa Mas, iseng saja, hehe..” tawa yang garing. Memperhatikan tukang becak yang sebenarnya masih muda, paling hanya beberapa tahun di atasnya. Tapi garis wajah yang tegas sekilas membuat orang itu tampak lebih tua.

“Lagi ada masalah?” tanya orang itu lagi yang entah hanya iseng bertanya atau lama-lama merasa terganggu dengan tingkah pemuda disampingnya yang sedari tadi hanya memutar-mutar sebatang rokok di tangannya.

“Aku Joni, tukang becak di sini.. terminal ini sepi bus sudah jarang mampir paling sehari hanya ada satu bus, beberapa penumpang angkot yang biasanya nunggu juga semakin jarang lewat di sini.” Dia menyesap lagi rokoknya. Lalu mematikannya, merasa tidak enak berbicara dengan orang yang baru ditemuinya dengan berhiaskan kepulan asap rokok. “Panggil aja aku Bang Joni” lanjutnya.

Pemuda disampingnya tersenyum, tercetak dua lesung di pipinya. “Saya Jejak.” 

Joni menunggu lanjutan dari kata-kata Jejak. Namun hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“Jejak? Kamu nunggu siapa di sini?” tanya Joni.

“Kenapa Abang di sini? Bukannya tadi Abang bilang kalau di sini sepi?” Jejak bali bertanya.

Joni tertawa, lalu beranjak ke toko penjual minuman yang berada di sebelah tempat mereka duduk. Tak berapa lama Joni kembali membawa dua buah botol minuman jeruk dingin. Mengulurkan satu untuk Jejak. Awalnya Jejak heran, memangnya raut mukanya terkesan sangat kehausan dan tidak sanggup membeli minuman? Oh, separah itukah wajahnya siang ini?

“Aku tahu kamu punya banyak uang, aku membelikan ini bukan karena mengasihanimu, tapi aku anggap kamu adalah tamu di sini.” Seolah Joni paham yang sedang dalam pikiran Jejak.

“Eh, iya, Makasih Bang.” Jejak membuka botol dan meneguk sedikit isinya. 

“Ah... segarnya.” Joni hampir menghabiskan satu botol dalam sekali tegukan. “Kamu tadi bertanya kenapa aku masih tetap menunggu penumpang di sini walaupun terminal ini sudah sepi?” Joni menoleh ke arah  Jejak.

Jejak mengangguk.

“Aku memang sedang tidak menunggu penumpang di sini, tapi aku sedang menunggu istriku. Dia pergi merantau tiga tahun lalu. Dia berkata akan pulang dua bulan sekali setiap hari pasar rame, kamu tahu, di daerah sini setiap dua bulan sekali akan ada pasar rame, pasar dimana penjual dan pengunjung berasal dari beberapa daerah dan berkumpul di balai desa. Ramai sekali. Istriku memintaku untuk menunggunya di tempat keberangkatannya dulu, yaitu di terminal ini...”

Jejak seksama mendengarkan cerita Joni.

“.....dia melakukannya di tahun pertama, mulai jarang di tahun kedua, dan hingga tahun ketiga ini dia tidak pernah datang.” Lanjutnya.

Jejak hanya menatap laki-laki disampingnya, bingung harus mengatakan apa.

“Jadi, karena aku telah berjanji kepadanya untuk selalu menjemputnya,  maka di sinilah aku sekarang, menunggunya dengan becak kesayanganku.”

“Tapi Bang, bagaimana kalau istri Abang tidak pernah datang?” tanya Jejak, yang langsung dibalas dengan tatapan dari Joni.

“Eh, maksud saya bukan seperti itu Bang.....” buru-buru Jejak meralat pertanyaannya.
Joni menepuk ringan bahu Jejak, seolah mereka adalah dua sahabat yang sudah lama akrab. “Ya, aku tahu maksud pertanyaanmu. Jangankan kamu yang baru bertemu denganku, di sini setiap hari, semua orang yang ada di terminal ini selalu menanyaiku bahkan mereka menganggapku laki-laki bodoh yang mau saja menunggu istrinya yang sampai saat ini satu suratpun tidak pernah kudapat.”

“Lalu....?”

“Lalu?” Joni mengulangi pertanyaan Jejak. “Lalu seperti yang kamu temui siang ini, aku masih di sini menunggunya. Karena aku telah berjanji, aku tidak bisa mengingkarinya.”
Jejak tiba-tiba teringat dia pernah berjanji pada seseorang.

“Jejak, kamu tahu hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian, hanya sebuah kematianlah hal yang pasti. Tapi kamu akan menemukan suatu kepastian jika kamu menepati setiap perkataan yang telah kamu ucapkan.”

Jejak pernah berjanji kepada seseorang untuk kembali.

“Aku telah berjanji pada istriku untuk menunggunya, maka sebisa mungkin aku menepatinya hingga aku mendapat suatu kepastian, meskipun kepastian itu adalah untuk selalu menunggu. Aku tidak bisa menyalahkan istriku yang telah melupakan janjinya hingga membuat kepulangannya seolah-olah tidak pasti untukku, karena hal itu biarlah menjadi urusannya yang terpenting aku akan tetap di sini untuk menunggunya.” Joni menyilangkan kakinya

“Kamu tahu, jangan pernah mengubah dirimu hanya untuk dicintai oleh orang lain, cukup perbaiki apa yang ada di dalam diri kamu sehingga jika suatu saat nanti orang yang pergi darimu itu kembali, kamu masih menjadi orang yang sama dimatanya.” Joni mengedarkan pandangan. “Karena tidak selamanya menunggu itu membosankan, kadang terselip pula satu titik kebahagiaan yaitu KEMBALI. Dimana kembalinya kita sangat dinanti-nantikan oleh semua orang yang menunggu kita.” Lanjutnya.

Mata Joni tampak berbinar, dari kejauhan tampak seorang perempuan turun dari sebuah bus antar kota kemudian berjalan menuju ke arahnya. 

Jejak turut beranjak, menyambut kehadiran istri Joni. Setelah berbasa basi singkat Jejak melangkahkan kembali kakainya, menuju ke rumah yang telah dua tahun ini hanya ada dalam angan-angannya saja, seseorang yang mungkin masih tetap sama menunggunya untuk pulang seperti apa yang dilakukan Bang Joni terhadap istrinya.
***
Rumah penuh tanaman itu masih sama seperti dua tahun lalu, rindang dengan mawar yang tetap cantik.

Senin, 08 Januari 2018

Sore dan Aroma Kopi

photo by : Richard Nando

Sore ini, di sebuah kedai kopi. Aku duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sinar matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela di atas pintu. Aku suka duduk menatap sinar yang jatuh berwarna jingga ini.

Secangkir kopi kupesan, bukan untukku karena aku tidak begitu suka dengan kopi. Aku hanya akan meminumnya jika benar-benar membutuhkannya untuk  sekadar membantuku menunda rasa kantuk yang datang, sewaktu lembur mengerjakan laporan misalnya. Aku lebih menyukai aromanya, ya tidak dipungkiri aroma kopi sangatlah menggoda, bahkan lebih membuat candu daripada secangkir kopi itu sendiri. Dan sore ini aroma kopi yang dihidangkan di mejaku sangat pas dinikmati sambil menunggumu datang.

Aku menatap sekeliling, dimana belum banyak pengunjung sore ini ke kedai. Baru tiga meja yang sudah diduduki oleh pelanggan, ehm... empat dengan mejaku. Kuperhatikan bunga di mejaku yang tampak sedikit kering, tampak dari ujung daunnya yang mulai berwarna kekuningan. Oh, mungkin mereka lupa mengganti segenggam bunga ini. Atau, mereka memang sengaja membiarkan bunga kering itu sebagai seni. Tapi tidak masalah buatku, aku justru menyukainya. Seolah aku berada di tempat yang sudah memasuki musim gugur.

Kulirik jam dinding bergambar dedaunan. Klasik. Jarumnya menunjuk angka 4 lewat 29 menit. Kamu terlambat datang. Aku yakin itu. Tapi ternyata aku salah, kamu tepat berdiri di pintu masuk saat jarum panjang tepat di angka enam.

Aku melihatmu berjalan ke arahku. 

"Terima kasih telah menungguku, jangan beranjak. Tetaplah duduk bersamaku, aku akan berbagi cerita tentang rasa ini bersamamu" Katamu sambil menyesap kopi yang mungkin aromanya sudah tidak harum lagi.

***
*Cerita fiksi ini terinspirasi dari sebuah foto di atas.

Kamis, 21 September 2017

Mendaki Gunung Lewati Lembah


Mendaki gunung, adalah satu hal yang belum pernah saya lakukan, tapi selalu ingin saya cicipi meskipun sedikit. Ya, Ranukumbolo adalah salah satunya yang ingin saya datangi dan melihat langsung keindahan danau yang katanya menjadi surga tersembunyi di lereng gunung Semeru. 

Saya sendiri memang tidak hobi mendaki gunung, tapi tidak hobi bukan berarti tidak ingin mencobanya bukan? Karena saya tahu pastinya ada suatu hal yang menarik dalam perjalanan selama pendakian dan itu yang bikin saya penasaran. Baiklah mendaki gunung sesekali bolehlah, heuheuheu.....

Lokasi Ranu Pane : menunggu registrasi
Saya bersama dua teman saya berangkat dari Surabaya menuju ke Malang menggunakan transportasi umum. Setelah samapai di Terminal Arjosari Malang, kami bertiga menuju ke Tumpang untuk bertemu dengan teman mendaki lainnya di basecamp salah satu teman mendaki.

Total kami bersembilan. Hanya ada dua perempuan diantara kami yaitu saya dan Ilmi. :) saya tidak mengenal satu pun diantara mereka, tapi itulah asyiknya bisa mendapatkan teman-teman baru.

Berangkat dari basecamp ke Ranu Pane mengendarai Jeep yang sudah disewa sebelumnya untuk mengantar dan menjemput kami di Pos Ranu Pane. Sesampainya di sana sudah banyak pendaki yang menunggu untuk melakukan registrasi. Hampir 2 jam menunggu akhirnya selesai juga briefing dan registrasi, dll, kami baru bisa memulai perjalanan sekitar jam 10 pagi. Sebelum mulai penanjakkan kita sarapan dulu, biar kuat. hehehe.


perapian di Pos 1


Setelah sekitar satu setengah jam perjalanan sampailah kita di Pos satu. Di Pos satu ini terdapat penjual minuman, jajanan gorengan, dan semangka. Cuaca sudah mulai dingin di sini. Kami beristirahat sejenak.

POS 3
Perjalanan cukup lancar meskipun sedikit-sedikit berhenti, maklum ini adalah pendakian pertama dan sebelumnya tidak pernah berjalan seeeeeejauh dan membawa beban seberat ini *karena membawa beban tubuh saja sudah begitu berat :p :D.

Mendekati Pos tiga yang menurut saya jarak terjauh dari pos 2 (dibandingkan jarak pos 1 ke pos 2) tenaga ini benar-benar habis. Sungguh, rasanya aku tidak kuat melanjutkan untuk ke Pos 4. :'( huhuhu..... di sini kami (terutama Saya dan Ilmi) harus beristirahat lebih lama. Apalagi medan untuk ke Pos 4 nanti agak nanjak.

Setengah jam lebih saya masih leyeh-leyeh di Pos 3, mager, hahaha. Setelah cukup pulih tenaga, oke saya berdiri dan melanjutkan penanjakkan kembali menuju pos 4. Tapi baru beberapa langkah dari Pos 3 sudah ada tangga yang cukup menanjak (di sini hanya ada bantuan tali untuk pegangan) satu, dua, tiga anak tangga, angkat tangan tidak kuat. BENAR-BENAR habis tenaga. jadi tiap tiga atau empat anak tangga saya berhenti. 

Di tengah perjalanan menuju Pos 4 *dengan tenaga yang tinggal secuil* kami berpapasan dengan gerombolan bapak-bapak yang hendak turun, salah satu dari mereka menyeletuk. "Ayo semangat Mbak! di atas ada artis, Hamish.!" katanya sambil menepuk-nepuk dua tangan memberikan semangat.

"Yakali Hamish beneran, paling hanya bualan buat menyemangati kami saja" batinku.

Puncak Semeru yang berawan

Perjalanan kembali berhenti untuk istirahat. Rasanya ingin melepas tas carrier dan tidur sejenak. Sudahlah kita jalan sesampai-sampainya, sampai di Ranukumbolo malampun tidak apa-apa. Lalu salah satu teman kami, Didit masih memiliki amunisi yaitu Madu kemasan sachet. dibagilah kami satu-persatu. Mungkin dalam kondisi biasa saya tidak pernah menyukai yang namanya madu dan tidak akan mau memakannya. Tapi entah apa yang membuat saya menerima dan langsung menyesap sedikit demi sedikit isinya sambil mulai berjalan.

Oke, ini bukan endorse atau promoin iklan madu ya, tapi sumpah, baru meneyesap setengah dari isi, rasanya tenaga kembali saat itu juga. Badan langsung enak, tidak lesu seperti sebelumnya (ini benar-benar pengalaman yang saya sendiri takjub dengan khasiat madu yang langsung terasa nyata). Perjalanan kembali semangat, apalagi Pos 4 tinggal sebentar lagi.

Danau Ranukumbolo, dari Pos 4
Akhirnya, hamparan air danau yang berkilau terkena pantulan sinar matahari menjelang sore tampak juga. Kembali sejenak kami beristirahat sambil menikmati sore dari atas. Angin semilir semakin menambah keinginan untuk tidur di sini, hehehhe.

"Eh, ada Bang Hamish loh, kalin nggak mau foto bareng?" Celetuk salah satu teman kami yang sedang bercengkrama dengan orang-orang di Pos 4.

Berhubung saya, Ilmi, dan Didit sudah Mager, kita menyahut bahwa kita tidak mau foto, udah capek, niat saya sih biar saya rekam atau foto Bang Hamishnya sendiri aja buat ajang pamer ke temen-temen :D

Ternyata ketika Bang Hamish lewat, teman saya yang menawari itu langsung mengeluarkan handphone meminta ijin untuk foto dengan Bang Hamish. Tahu nggak apa yang kami *yang sedang istirahat ini* lakukan? kami langsung berlari dan bergabung untuk foto bersama Bang Hamish. Wooow, ini momen langka, rejeki nggak akan kemana, meskipun hanya foto bersama Bang Hamish doang :)
Bang Hamish dan Ranukumbolo
Hehhe, lumayan bertemu dengan Bang Hamish bisa menambah tenaga untuk melanjutkan perjalanan yang kurang sidikit lagi.

almost there :D

Hari ke - 2
Malam hari yang sangat dingin akhirnya digantikan dengan hangatnya mentari pagi. Yeay, akhirnya terkabul bisa melihat sunrise di Ranukumbolo :)

sunrise
Morning Sugar :)

Ternyata kehangatan matahari pagi tidak bertahan lama, karena kabut kemudian datang perlahan tapi pasti, membuat hampir seharian turun hujan ringan. huhuhu... tidak bisa kemana-mana deh! hanya berkutat di tenda memasak sarapan, lalu agak sorean memasak spageti. Yumm.

Masak Sayur Sop
Spaghetti Gunung
selamat makan
Ternyata mereka tidak hanya bisa dalam mendaki gunung saja, tapi juga merupakan koki yang handal *jadi ketahuan siapa yang tidak bisa masak ini, hehehe*


masak ini dan itu
Hampir seharian hujan, baru sore hari hujan reda tapi cuaca masih tetap berkabut. Daripada hanya di tenda, akhirnya sebagian dari kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Ayak-ayak.



Inilah Ayak-ayak, seperti padang rumput yang sayangnya sekali lagi, karena cuaca berkabut jadi tidak bisa menikmati hangatnya sore.

Ayak-ayak yang berkabut

Hari ke - 3
mi instan Gunung
Adakah yang lebih nikmat selain makan mi instan saat hari Minggu sambil nonton Doraemon? ternyata ada, yaitu menikmati mi instan di hangatnya pagi di atas gunung. hahaha, setelah sekian lama tidak makan mi instan *karena ada bagian tubuh yang alergi jika terlalu sering mengonsumsi mi instan* akhirnya di sini makan mi instan lagi, yippie \^o^/

Hari ketiga ini cuaca sangat cerah. Seneng sih, tapi kan hari ini adalah hari terakhir dan waktunya turun. huhuhu.....

di balik tanjakkan cinta
di pagi hari ketiga yang cerah ceria ini sebelum packing lagi untuk turun kami jalan-jalan ke tanjakkan cinta. Inginnya sih naik tanpa noleh ke belakang sambil menyebutkan nama gebetan, ah tapi apa daya, naik dengan tidak lupa nafas aja udah untung. haahahha, karena tanjakkan cinta benar-benar me-nan-jak. Fiuh!!

Setelah sarapan *menu soto ayam dan mi instan* kami merapikan semua perlatan dan kembali menata isi carrier *sedih rasanya sudah harus kembali :(* Lalu bersama kelompok kami mengabadikan momen di tepi danau Ranukumbolo :D

teman-teman baru
Merekalah teman-teman baru yang menjadikan pendakian pertama saya sangat berkesan. Mereka semua anak yang asyik, koki yang hebat, pendaki yang keren. *apalagi ada salah tiga dari mereka yang suka banget sama K-Drama. Waah, ngalir juga deh obrolan tentang K-Drama. |^-^|\/ .

Terima kasih kepada teman-teman baru ini. *prokprokprok.

**Semoga ada kesempatan di lain waktu untuk melakukan perjalanan bareng kalian lagi. :D




*ini bonus foto, saat perjalanan pulang dari Ranu Pane. \^o^/