Minggu, 10 Februari 2013

Kembang Gula

Episode #4


          “Hai, Kembang. Aku tidak datang terlalu malam kan?”
Kembang membukakan pintu. ‘Ya Tuhan, Engkau tidak salah kan telah mengirimkan malaikatMu ke rumahku?.’
            “Si.. silahkan masuk Mas Bhima.” Jantung Kembang berdegup semakin kencang.
            “Benar nih aku tidak mengganggu kamu?”
            Kembang menggeleng. Bhima tersenyum.
            “Syukurlah kalau tidak mengganggu.”
            “Eh, sebentar aku ambilkan minum dulu, Mas Bhima mau minum apa?”
            “Terserah kamu saja Kembang.”
            “Tunggu sebentar ya Mas?”
            Kembang buru-buru masuk hingga tidak sengaja dia menabrak Yasmin yang juga akan ke dapur. Yasmin sewot, sementara Kembang berlalu tanpa menghiraukan kakaknya tersebut. Kembang menuangkan jus stroberi ke dalam dua gelas. Jus stroberi ini telah dia persiapkan sejak sore tadi. Berulang-ulang dia cicipi agar manisnya pas, tidak berlebihan atau kekurangan. Lalu dia beralih ke meja makan, disana telah dipersiapkan camilan dalam dua setoples yang berbeda, serta tidak ketinggalan dua buah kembang gula yang dia beli sepulang sekolah tadi. Semua sajian itu dia letakkan di atas nampan yang cukup besar, sehingga semua bisa diangkut sekali jalan.
            “Memangnya siapa yang datang sih? Pacar kamu? Kok aku lihat dari tadi kamu ribut menyiapkan ini itu.” celetuk Yasmin.
            “Ada deeh!” Kembang sedikit kesusahan membawa nampan tersebut.
            Yasmin nyengir, lalu tiba-tiba hidungnya mengendus sesuatu yang tidak beres. Sepertinya dia kenal bau wangi itu.
            “Eh tunggu-tunggu! Kamu pakai parfum kakak ya?”
           Kembang menghentikan langkahnya lalu berbalik, “sst.. jangan keras-keras, lagiapula aku cuma pakai sedikit kok, hehe”
            “Dasar, mau pacaran tapi nggak modal!”
          “Aduh, dengar yaa kakakku yang paling cantik yang bentar lagi mau merit, tolong adikmu ini ya? Lagian kalo parfum ini bisa buat cowok di ruang tamu itu jadi pacar aku, aku akan mengabulkan apa saja yang kakak minta, oke?”
           “Iya, iya, tapi parfumku itu bukan wewangian dari dukun yang bisa menjamin cowok di depan itu jadi pacar kamu loh ya? Kalau tidak bisa jadi pacarnya yaa, maaf parfumku tidak membantu deh! Hahaha…”
            Giliran Kembang yang nyengir, lalu buru-buru kembali ke ruang tamu.
            “Maaf ya Mas lama.”
            “Eh, nggak apa-apa kok.”
            “Ini ada sedikit camilan dan kembang gula yang khusus aku beli buat Mas Bhima loh?!”
         Bhima terkejut, tidak menyangka Kembang akan menyajikan kembang gulanya. Lalu dia tertawa ringan.
            “Kembang, Kembang, ternyata kamu memang penggemar jajanan ini ya?”
            Kembang mengangguk. “Mas Bhima nggak pernah nyoba?”
            “Pernah sih,tapi  dulu waktu masih SD.”
         Kembang ber-O ria. Dalam hati sebenarnya dia bingung, mau diajak ngobrol masalah apa lelaki tampan didepannya ini. Takut-takut nanti bahasan tidak seru dan suasana jadi garing.
            “Diminum Mas!?”
            Bhima mengambil segelas jus stroberi dan meminumnya sedikit. Lalu dia menoleh sekeliling. “Kamu lagi sendirian di rumah? Kok sepi?”
            “Ah, tidak ada kakakku di rumah kalau ayah, ibu, sama adik lagi keluar. Si adik minta dibelikan tas baru.”
            Ganti Bhima yang ber-hmm ria. “Oh iya, aku boleh makan kembang gula ini? Rasanya rindu masa kecil ketika pertama kali melihatmu membawa kembang gula ini waktu itu.”
             Tuh kan akhirnya kepingin juga. Batin Kembang, “tentu boleh dong.”
          Bhima membuka bungkus plastik kembang gula. Perlahan dia keluarkan kembang gula berwarna merah muda itu, lalu ditatapnya sejenak sebelum mulai mengambil sedikit ujungnya. Kembang gula yang berbahan dasar dari gula memang rasanya sangat manis. Jika sudah menyentuh lidah maka hanya dalam hitungan detik kembang gula akan meleleh dengan sendirinya. Kembang gula sangat mudak menyusut ukurannya jika terkena angin, karena itu diperlukan plasktik besar untuk membungkus kembang gula tersebut.
            Bhima seakan kembali ke masa-masa SD, bayangan tentang masa kecilnya ketika dia bisa sesuka hati membeli jajanan tanpa harus memikirkan apakah jajanan tersebut benar-benar bersih atau aman untuk dikonsumsi. Yang penting jajanan itu manis dan lucu bentuknya.
            “Mas Bhima, kalau makan kembang gula itu jangan terlalu lama, nanti kembang gulanya keburu habis dimakan angin. Mending makan gulanya kayak gini.” Kembang mempraktekkan cara menikmati kebang gula, yaitu dengan mengambil segenggam lalu meremasnya hingga membentuk sebuah bulatan kecil yang mengeras, lalu dimasukkan ke dalam mulut dan biarkan bulatan itu melumer dengan sendirinya. Karena bulatan itu keras, seakan-akan seperti sedang makan permen.
            “Kalau diremas-remas gitu kan jadinya keras?!”
            Kembang mengangguk, “tapi nanti seperti makan permen, melumernya lebih berasa manisnya.”
            Bhima tertawa, kali ini lebih lepas. “Kamu ada-ada saja Kembang, makan kembang gula saja pake ada triknya segala.” Bhima lalu mempraktekkan cara yang disarankan Kembang.
        Kembang tersenyum melihat Bhima tertawa lepas, baginya Bhima itu laki-laki paling sempurna. Meskipun usia Bhima bukan remaja lagi tapi dia tidak ragu untuk berteman dengan anak sepertinya yang notabene masih bersifat seperti anak kecil walau usianya sudah delapan belas tahun. Dia memang tidak berharap banyak, bisa dekat dan menjadi teman seperti saat ini pun sudah cukup baginya, lagipula tidak mungkin Bhima mau menjadi pacarnya. Bhima sudah cukup dewasa dan pastinya dia lebih memilih perempuan yang bersifat dewasa pula, bukan yang masih suka kembang gula seperti dirinya.
        Hari-hari berikutnya hati Kembang semakin tidak keruan. Entah perasaan apa yang tengah dirasakannya saat ini, apakah dia terlalu percaya diri dengan menganggap Bhima menyukai dirinya ataukah Bhima hanya menganggapnya sebagai adiknya saja. Kedatangan Bhima yang pertama kali ke rumahnya merupaka kunjunga laki-laki pertama pula seumur hidup Kembang. Dia belum pernah sekalipun pacaran disaat teman-teman perempuannya sibuk bercerita tentang pacarnya masing-masing.
            Banyak hal yang belum diketahui Kembang termasuk kedatangan Bhima ke rumahnya pada malam itu bukanlah kedatangan terakhir Bhima.

==bersambung==

Kamis, 07 Februari 2013

Kembang Gula


  Episode #3     

         "Okelah, kalau jadi besok malam aku ke rumahmu, kamu tidak ada acara kan?”
           Cepat-cepat Kembang menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, aku selalu di rumah sepulang sekolah, kecuali jika ada belajar kelompok atau seperti hari ini ada makan siang bersama teman.”
Malam ini angin bertiup sepoi, udara dingin, seakan sebentar lagi langit akan menumpahkan apa yang sejak tadi ditahannya. Kembang tidur tengkurap di ranjangnya menulis buku harian sambil sesekali memandang langit yang kian ramai dengan kilat cahaya. Memandang langit malam itu membayangkan bagaimana besok malam akan ada Mas Bhima yang datang ke rumah. Kunjungan laki-laki yang pertama kali buatnya. Kali ini dia bisa sedikit pamer pada kakaknya. Sungguh malam ini Kembang tidak bisa memejamkan matanya, bahkan kalau bisa tidak perlu ada malam ini, langsung ada besok malam dimana Mas Bhima akan duduk manis di rang tamu, bercengkarama dengannya. Membayangkan hal ini semakin membuat hati Kembang berdesir.
Tepat jam dua pagi Kembang baru tertidur, mungkin karena kecapekkan membayangkan apa yang terjadi besok. Ya, hari ini Kembang hanya tidur tiga jam karena jam lima selruh penghuni rumah ini wajib bangun, setelah melakukan ibadah bersama yang dipimpin oleh Ayahnya, Kembang memutuskan untuk sedikit menambah jatah tidurnya. Namun, sebelum Kembang menjatuhkan kepalanya di atas bantal, Ibunya sudah memanggil.
“Kembaaang!! Sini bantu Ibu menyiapkan bekal untuk Ayah dan Wangi!!??”
“Aduuh, Ibu ini ada-ada saja, kan masih ada Mbak Yasmin.” Gerutunya. “Iyaaa, sebentar Bu!! Memangnya Mbak Yasmin tidak ada?” Biasanya Yasmin, kakak kembanglah yang membantu Ibu di dapur, sementara Kembang meskipun tidak boleh untuk kembali melanjutkan tidur, dia berkutat dengan buku-buku pelajarannya. Kembang adalah anak yang rajin dan selalu takut kalau ada buku pelajarannya yang ketinggalan.
“Mbak Yasmin baru saja berangkat, dia ada piket di kantor!” Sahut Ibunya.
“Ah, ada-ada saja melati satu itu, hooaaammm…” Kembang dengan berat mata turun dan membantu ibunya di dapur.
“Kamu masih ngantuk ya? Memangnya semalam tidurnya jam berapa?” Ibu hanya menoleh sekilas menatap wajah putri keduanya ini, lalu pandangannya kembali ke penggorengan.
“Hoaaamm…. Semalam Kembang tidak bisa tidur, Bu”
“Kenapa?” Tanya Ibunya kembali tanpa menoleh.
“Soalnya, “ Kembang buru-buru menutup mulutya, baru ingat kalu malam ini Mas Bhima akan datang main ke rumahnya.
“Soalnya kenapa?”
“Ehh, tidak Bu, ya cuma nggak bisa tidur saja. Oh iya, Ibu nanti ke pasar? Kembang boleh minta tolong nggak Bu, tolong belikan beberapa camilan soalnya nanti malam ada teman Kembang yang main ke rumah. Bisa ya Bu?”
“Memangnya siapa yang datang? Tumben Gendhis main malam-malam?” dikiranya teman Kembang yang datang nanti malam adalah Gendhis, sahabat Kembang.
Kembang memindahkan ikan yang tadi telah ditiriskan ke atas piring. “Bukan Gendhis, lagian mana boleh Gendhis keluar malam-malam? Dia kan anak perempuan satu-satunya, Bu. Nanti yang datang teman baruku, namanya Bhima, oh iya Ibu kenal tidak sama orang yang tianggal di Blok sebelah? Yang rumahnya warna abu-abu dan ada pohon mangganya di depannya?”
“Pak Ramlan? Memangnya kenapa?”
“Pak Ramlan itu punya anak laki-laki yang kuliah di Jogja nggak Bu?”
Ibu mengangguk, kali ini dia sedang mencicipi sayur sop andalannya.
“Nah, yang mau datang nanti malam adalah Bhima, anak Pak Ramlan. Kembang baru kenal kemarin lusa, soalnya Kembang pernah nggak sengaja nabrak dia.”
“Oooh, jangan-jangan kamu semalam nggak bisa tidur karena nggak sabar nunggu malam ini ya? Anak Ibu sedang jatuh cinta rupanya.”
Kembang meringis, itulah Ibunya selalu menyenangkan, Ibu Kembang seperti sahabat sendiri.
“Siapa yang mikirin anak itu?”
“Ah, sudah siap” Ibunya telah selesai menyiapkan sarapan pagi. “Ibu pernah ketemu sama anak Pak Ramlan, dia ganteng, baik hati pula.”
“Idih, Ibu apaan sih!”
            Obrolan pagi itu bersama Ibunya semakin membuat Kembang tidak sabar menanti malam tiba. Di sekolah pun Kembang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik, pikirannya melayang membayangkan jam berapa kira-kira Mas Bhima akan datang, baju apa yang akan dikenakannya, parfum Mbak Yasmin yang mana yang akan dipakainya, topik apa yang akan dibahas nanti malam. Aah, kenapa siang ini berjalan lamban sekali?.
            Bel pulang yang dinantikan akhirnya berdering juga. Buru-buru Kembang mengambil sepedanya, hingga dia tidak mendengar Gendhis memanggilnya berulang kali. Tak lupa Kembang membeli dua bungkus kembang gula untuk tambahan camilan nanti malam.
            “Biarpun makan kembang gula ini tidak menambah kadar kemanisanku, tidak peduli yang penting berkat kembang gula ini aku bisa berkenalan dengan Mas Bhima.” Ujarnya lirih.
            Dalam perjalanan pulang, Kembang celingukkan di depan gang rumag Bhima. Barangkali dia akan kembali bertemu. Tapi setelah hampir satu jam menunggu Kembang menyerah juga, toh nanti malam Bhima akan main ke rumahnya.
            Malam yang dinantikan sejak sehari sebelumnya akhirnya datang juga. Dengan menggunakan baju yang menurutnya tidak terlalu berlebihan hanya sekadar menyambut teman di rumah Kembang menambah tingkat percaya dirinya dengan menggunakan parfum Yasmin. Mumpung Yasmin belum pulang dia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya mematut diri di meja rias Yasmin.
            “Udah, ah cukup nanti kalau bedaknya terlalu tebal jangan-jangan Mas Bhima malah ilfeel.” Kepalanya diputar ke kanan ke kiri meyakinkan tidak ada yang berlebihan malam itu. Wajah Kembang tanpa ulasan make up terlihat cantik alami dengan sapuan tipis bedak Yasmin.
            Bel berdering. Dengan perasaan berdebar-debar, Kembang berjalan menuju pintu. Aduh kok jadi deg-degan gini ya?. Kembang semakin mendekati pintu. Dalam benak Kembang dibalik pintu itu terdapat seorang pangeran berkuda putih. Jatuh cinta untuk yang pertama kalinya bagi Kembang di usianya yang ke delapan belas tahun.
            Pintu di buka.
            “Selamat malam, Kembang. Aku tidak datang terlalu malam kan?”

==bersambung==


Senin, 04 Februari 2013

Kembang Gula

Episode #2


            “Namaku Kembang, tinggal beberapa blok dari sini, kamu?”
             Kembang sudah menyangka bahwa pemuda ini baik hati.
          “Aku Bhima, tetangga baru kamu. Eh ini apa? Ini bukannya kembang gula ya? Kamu suka jajanan ini?” dia tersenyum.
          Kembang mengangguk “Senang bertemu denganmu, iya aku suka sekali kembang gula, rasanya manis, tapi kata Ibu sih nggak boleh banyak-banyak nanti batuk, hehe.”
            Bhima tersenyum. Lesung pipit langsung tercetak jelas di pipi kanan kirinya. “Kamu masih sekolah? Sekolah dimana? Kamu segede ini masih juga suka kembang gula?”
            Biasanya pertanyaan ‘Kenapa kamu segede ini masih suka kembang gula?’ adalah pertanyaan yang paling dibenci oleh Kembang. Karena setiap orang yang mengenalnya, termasuk teman-teman sekelasnya pasti akan mengajukan pertanyaan yang sama. Tapi sebanyak apa pertanyaan itu pasti akan Kembang jawab ‘Memangnya kenapa kalau sudah segede ini masih suka kembang gula? Apa aku terlihat seperti anak TK waktu sedang makan kembang gula?’. Tapi entah kenapa, pertanyaan Bhima siang ini terasa sangat enak didengarkan, bahkan tidak ada sedikitpun niat Kembang untuk menjawab pertanyaan Bhima dengan jawaban andalannya tersebut.
            “Iya, habis manis sih, siapa tahu semakin banyak aku makan kembang gula, aku semakin manis, hehe” sedetik setelah menjawab pertanyaan Bhima, Kembang reflek menutup mulutnya. ‘Astaga, kenapa aku kecentilan banget sih? Aduuh, bisa ilfeel nanti si Bhima’  umpatnya dalam hati.
            Bhima tertawa, “Menurut aku makan kembang gula sebanyak apapun nggak bakalan bikin kamu tambah manis!”
            Apa? Kenapa Bhima bilang seperti itu sih? Tapi sudahlah, mungkin Bhima tidak suka melihat perempuan yang kecentilan.’
            Kembang hanya tersenyum kecut.
            Kembang tidak akan melupakan hari ini, meskipun dia malu setengah mati kepada Bhima. Kembang dan Bhima menghabiskan siang bersama. Meskipun itu hanya makan bakso di warung dekat kompleks, tapi sangat berharga bagi Kembang.
            “Oh, jadi kamu baru lulus kuliah dari Jogja? Jurusan apa?”
            “Jurusan yang banyak diminati, Akuntansi.”
        Kembang menyeruput es teh nya. “Hmm..aku juga pengin tuh nanti kuliah akuntansi.” ‘Hah, akuntansi? Mana ngerti aku yang begituan’ sungguh Kembang merasa aneh kenapa dia secentil ini sih.
            “Eh jangan, Akuntansi itu susah kalau kamu nggak benar-benar minat. Lagipula bukannya sekarang kamu sekolah jurusan IPA?”
            Kembang nyengir, sebenarnaya dia hanya asal nyeletuk saja waktu bilang mau kuliah di Akuntansi. Bagi Kembang, mungkin Bhima akan kagum melihat siswa kelas XII IPA sepertinya yang mempunyai minat di bidang yang berseberangan, tapi ternyata salah. Bhima malah tidak menyarankannya untuk masuk akuntansi. Huft.
Dua kali Kembang menjawab pertanyaan Bhima dengan sok kecentilan, sebenarnya Kembang sempat mikir juga kenapa bisa dia seaneh itu berhadaan dengan Bhima. Mungkin karena sebelumnya dia belum pernah merasakan sesuatu yang bergetar ketika berbicara dengan lawan jenis, seperti getaran yang dia rasakan sewaktu ngobrol bersama Bhima. Namun, dalam hati Kembang tetap sumringah, menurutnya dua kali kecerobohannya itu mungkin membuat kesan tersendiri bagi Bhima, pertemuan dengan Kembang yang tidak pernah dilupakan. Tapi, apa benar Bhima akan mengingat pertemuan pertama mereka? Atau lagi-lagi itu hanya perasaan Kembang saja?
Sekali lagi Kembang bahagia menghabiskan siang itu bersama Bhima. Walaupun panas menyengat tapi hati Kembang tetap dingin berada disamping Bhima. Sepertinya Kembang sedang merasakan cinta pertamanya.
"Bhima, usia kamu berapa tahun ini?"
Bhima tampak memikirkan sesuatu, "dua puluh tiga, kenapa?"
Suapan terakhir masuk ke mulut Kembang, dia tampak terburu-buru mengunyahnya, bukan sebenarnya buru-buru mengunyah untuk segera menjawab pertanyaan Bhima.
"Tahun ini menginjak delapan belas tahun, ah.. seharusnya aku memanggilmu Kakak, Mas, atau Abang ya?" Suapan terakhir ditutup dengan es teh yang telah berkurang separuhnya.
"Terserah kamu, panggil Bhima saja juga boleh kok."
Kembang menggeleng, "Aku panggil kamu Mas Bhima saja ya? soalnya dari kecil aku pengen punya Kakak laki-laki, eeh ternyata sebelum aku lahir sudah ada satu perempuan cerewet yang siap menjadi kakakku!"
"Iya, terserah, aku juga suka kamu panggila Mas Bhima. Kedengarannya lucu saja, hehe.. Oh iya, kapan-kapan aku boleh tidak main ke rumah kamu?"
Ulalaa..main ke rumah aku? secepat ini dia tertarik sama aku? Ah, peduli amat yang penting dia mau apel ke rumahku.
"Hmm.. boleh kok, dengan senang hati Mas Bhima" Ada suatu desiran aneh kala Kembang menyebut nama Mas Bhima.
"Okelah, kalau jadi besok malam aku ke rumahmu, kamu tidak ada acara kan?"

==bersambung==

Sabtu, 02 Februari 2013

Kembang Gula


Episode #1         

          Pagi yang basah. Genangan air juga masih tampak di beberapa tepi jalan, bekas hujan semalam. Hujan turun sejak subuh tadi membuat sebagian orang malas untuk keluar. Untung ini hari Minggu, sekolah, kerja, atau kuliah libur, jadi lebih baik menghabiskan hari di atas tempat tidur, menyembunyikan diri dalam pelukan selimut yang hangat. Jalanan hanya ramai oleh beberapa pekerja proyek gorong-gorong komplek yang sedang berlalu lalang memeriksa pekerjaannya, juga ibu-ibu yang sedang memaksakan diri keluar belanja untuk santapan sarapan keluarganya.
            Kamar tidur itu masih terkunci rapat. Bukan karena penghuninya masih tidur, hanya masih malas keluar saja. Seluruh tubuhnya kecuali kepala memang masih terbungkus selimut hangat, sejak tadi dia menatap rintik hujan di balik jendelanya di lantai dua. Kembang memang gemar melihat rinai hujan. Menikmati setiap tetesannya, beberapa kali dia menuliskan kata-kata di jendelanya yang tertutup embun.
            “Kembang” Pertama-taman ditulis namanya sendiri, lalu beralih sedikit di bawahnya.
            “Cinta”. Dia menggambar sebuah lambang hati.
            “Bhima” Nama itu ditulis di bawah lambang hati.
            Dia menatap tulisan itu sejenak. Lalu dihapusnya. Ganti dia menulis nama-nama keluarganya. Mulai Ibu, bapak, kakak, dan adiknya.
            “Bhima” kembali dia menuliskan kata itu. Lalu dihapusnya sekali lagi.
            “Kenapa aku memikirkan dia sih? Dia saja belum tentu memikirkan aku!”
          Dia mengalihkan pandangan ke bawah, tampak ibunya yang sedang berbelanja di gerobak Pak Hamid, penjual sayuran keliling di kompleksnya. Dia terperanjat, tepat di belakang Ibunya tampak sosok yang sangat dia rindukan, Bhima. Sedang apa dia disana? Pikirnya, ah seandainya dia bisa turun dan menyapa Bhima saat itu juga.
            Dia beranjak duduk dan memperhatikan pemuda itu. Ingatannya melayang pada saat pertama kali bertemu dengan Maru.
***
            “Kalau jalan hati-hati, perhatikan jalannya, jangan malah memperhatikan HPnya” Pemuda itu menolong Kembang sekaligus sepedanya. Bunga-bunga yang Kembang ambil dari taman turut jatuh berserakkan. Pun demikian dengan kembang gula yang masih terbungkus rapi turut jatuh ke tanah.
            “Untung kamu tidak masuk selokan itu, dan untung yang kamu tabrak itu aku, coba kalau seorang nenek-nenek, kan kasihan!” Pemuda itu jongkok mengambil beberapa bunganya yang masih bisa diselamatkan. Kembang masih terpaku melihat pemuda itu.
            “Ini HP kamu, lain kali jangan terlalu asyik ya?” Pemuda itu menyodorkan HP Kembang, lalu mengusap sekilas puncak kepala Kembang, dan pergi, bahkan sebelum Kembang sempat mengucapkan terima kasih. Kembang masih berdiri ditempatnya terjatuh tadi, menatap punggung pemuda itu hingga masuk ke sebuah rumah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Seolah-olah baru tersadar bahwa sudah cukup lama dia mematung disini, dia bergegas menaiki sepedanya dan pulang.
            Sudah dapat dipastikan, keesokan harinya Kembang menunggu pemuda itu ditempat dia terjatuh tempo hari. Setiap hari sepulang sekolah seperti biasanya, juga dengan bunga dan kembang gula yang menghiasi keranjang sepedanya. Awalnya Kembang hanya berniat untuk mengucapkan permintaan maaf sekaligus terima kasih kepada pemuda itu. Kembang sudah menyiapkan dua bungkus besar kembang gula untuk pemuda itu. tapi nanti kalau mau diajak kenalan, berarti hari ini memang rejeki Kembang.
            “Jangan-jangan dia sudah pulang?” Kembang memanjangkan kepalanya, mencari-cari sosok pemuda itu.
            “Kamu habis jatuh lagi?” suara itu mengagetkan Kembang. Sontak Kembang menoleh. Apa yang dilihatnya siang ini seakan hasil dari berjam-jam dia menunggu. Dia menghembuskan nafas lega.
            “Aku tanya, apa kamu habis jatuh lagi disini?”
            “Ah, tidak, aku tadi hanya emm...hanya kebetulan lewat sini saja emmm...”
            “Oh, syukurlah kalau begitu.” pemuda itu bersiap untuk melangkahkan kakinya sebelum ditepuk oleh Kembang.
            “Tunggu! Apa kamu warga baru di sini?” Rasa ingin berkenalan sudah tidak dapat ditahan lagi.
            “Tidak, kedua orang tuaku sudah lama di sini, kenapa? Apa aku sangat asing bagimu?”
            Kembang mengangguk.”Oh iya, waktu itu aku belum sempat minta maaf dan mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih ya sudah menolongku dan maaf aku sudah menabrakmu waktu itu.” Kembang menjulurkan tangannya. Memberikan satu kantong kembang gula berwarna merah muda, setelah itu dia kembali menjulurkan tangannya untuk kenalan. “Namaku Kembang, tinggal beberapa blok dari sini, kamu?”
            Kembang sudah menyangka bahwa pemuda ini baik hati.
            “Aku Bhima, tetangga baru kamu. Eh ini apa? Ini bukannya kembang gula ya? Kamu suka jajanan ini?” Tanya Bhima sambil memutar-mutar ujung bungkus kembang gula. Mungkin dia heran, masih ada juga ternyata jajanan masa kecil seperti ini.

== bersambung ==

Cerita Kita di Februari


Cerita kita di Februari ini adalah proyek pribadi, dimana selama satu bulan di Februari ini aku akan mencoba menulis setiap hari dengan judul yang berbeda (semoga kesampaian sih, hehe). Ada beberapa judul cerita bersambung dengan judul berbeda di tiap minggunya. Jadi, akan ada empat cerita dalam cerita kita di Februari ini. So, selamat menikmati sajian terhangat di Februari ini :)

Kamis, 22 November 2012

Tidurlah Sayang


Tidurlah sayang.
Ibu akan selalu di sini mendampingimu.
Jangan takut sayang.
Ibu tidak akan pernah beranjak untuk meninggalkanmu.

Aku memeluk erat bayi mungilku yang baru lima bulan yang lalu aku lahirkan. Bayiku tidak meminta untuk dipeluk, hanya saja aku ingin memberikan pelukan hangatku kepadanya, agar dia bias tidur nyenyak mala mini.

Dalam remang cahaya lampu, aku memandangi wajahnya yang cantik. Hidung dan matanya adalah milik Mas Dhani, suamiku. Sementara bibir dan pipinya yang tembem persis punyaku. Aku mengelus pipinya, memandanginya sekali lagi, bayiku tetap diam tidak menangis. Kupegang dahinya, ah sepertinya suhu tubuhnya panas. Jangan-jangan bayiku sakit. Kuperhatikan lagi wajahnya, benar dia sedikit pucat. Aku kembali merengkuhnya, aku tidak tahu harus minta tolong kepada siapa karena Mas Dhani belum juga datang kemari.
Bayiku tidak menagis sedikitpun. Ah, dia anak yang pintar tidak mau menyusahkan ibunya. 
Entah mengapa Mas Dhani yang biasanya datang kemari ketika hari beranjak gelap kali ini tidak kunjung datang untuk menjemputku. Dia mengatakan setiap hari bahwa akan membawaku pulang, tapi sampai saat ini selalu saja ada alas an untuk kembali membuatku tidur di tempat asing ini.

Ruangan ini tidak begitu luas, etahlah aku juga tidak dapat mengira-ngira hanya saja ruangan ini lebih mirip dengan ruangan di salah satu rumah sakit. Hanya ada aku seorang, meskipun terkadang ada beberapa perempuan yang tidak aku kenal menyambangiku dan menanyakan keadaanku, seperti malam ini aku rasa ada seorang perempuan yang sedari tadi melihatku. Peduli sekali mereka, pikirku. Tapi aku tidak peduli, meski hanya sendirian yang terpenting aku bisa bersama dengan bayiku, itu sudah cukup.
***
Esok harinya…
Aku tidak tahu kapan datangnya tiba-tiba Mas  Dhani sudah berdiri di sebelah ranjangku. Aku bangun seketika dan menyapanya. Dia tersenyum seperti biasa, sangat tampan.

“Maaf, kemarin aku tidak bisa datang kemari, ada rapat di kantor.” Katanya membuka pagiku.

Aku hanya tersenyum. Lalu aku lihat Mas Dhani sedang menatapu lekat-lekat. Anehnya dengan 
tatapan iba. Lalu dia memeluk dan mencium keningku. Setelah itu dia menoleh ke belakang pada seorang peempuan cantik berbaju putih, sepertinya aku pernah melihat perempuan itu di sini, tapi entah kapan.

Mas Dhani berjalan mendekati perempuan itu.

“Maafkan saya Pak Dhani, saya turut berduka cita atas apa yang menimpa istri Anda.”

“Justru saya yang harus minta maaf pada Bu Dokter karena selama hamper tiga minggu ini harus meluangkan waktu ekstra untuk menjaga istri saya.”

“Tidak masalah, Pak. Saya tahu ujian yang sedang dijalani istri Anda tidaklah mudah, meski saya belum pernah mengalaminya, tapi sebagai perempuan saya paham bagaimana terguncangnya persaan istri Anda ketika harus menerima kenyataan bahwa bayi yang baru lima bulan dilahirkannya meninggal dunia, apalagi setahu saya Anda telah menunggu selama hamper tujuh tahun untuk bisa memiliki keturunan. Jagalah istri Anda sebaik mungkin, saya yakin perlahan-lahan istri Anda akan sembuh.”

“Terima kasih, Dok.”

Aku mencoba menebak-nebak apa gerangan yang sedang dibicarakan suamiku dengan perempuan cantik itu, tapi tidak satu kata pun yang berhasil kudengar. Mas Dhani kembali menghampiriku. Dia mengambil bayiku secara perlahan, mungkin Mas Dhani kangen.

“Perempuan itu ingin mengajak bayi kita berjalan-jalan. Udara pagi di luar sangat segar. Kamu tidak perlu khawatir dia orang yang baik. Boleh kan?”

Aku tersenyum mengangguk.

Mas Dhani menggendong bayi kami, dia tampak senang sekali lalu diberikannya kepada perempuan itu. Perempuan cantik itu lantas menoleh kepadaku, tersenyum.

“Dok, maaf saya boleh minta tolong?”

Seakan-akan dokter cantik itu paham apa yang diminta Dhani.

“Saya akan mengganti guling yang sudah kotor ini dengan yang baru.”

Sabtu, 03 November 2012

Cinta untuk Kasih -#FF2in1 Adera-Terlambat-


Pagi ini jam sudah menunjukkan angka delapan, itu berarti seharusnya aku sudah berada di kelas untuk kuliah jam pertama. Tapi kenyataannya, saat ini aku masih terpaku di depan cermin. Aku memandang wajahku sendiri sambil terus menarik nafas panjang-panjang. Jantung ini rasanya tak mau barang sedikit saja menurunkan kecepatannya.

“Kasih, aku mencintaimu, hmm.. sebenarnya sudah sejak pertama kali kita bertemu dulu….” Aku kembali mengacak-acak rambutku.

“Aahh!! Kok jadi puitis begini sih! Hmm, gimana ya caranya biar cara mengungkapkannya tidak terlalu mellow.” Kali ini aku mengusap wajahku. Akhirnya aku putuskan biar saja nanti mengalir apa adanya yang penting hari ini aku harus nembak Kasih. Apapun yang terjadi, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengungkapkannya.

Segera kuambil tas dan kunci motorku. Kukenakan jaket dan helm, lalu kupacu motor kesayangan ini dengan kecepatan sedang sembari komat-kamit sendiri seolah-olah Kasih, gadis yang sangat aku cintai telah duduk manis dibelakang sambil memeluk mesra pinggang ini. Ah seandainya.
***
“Ja, Jadi semalam Robby dan kamu sudah…”

Kasih mengangguk ragu, sepertinya dia tidak nyaman memberitahuku dengan cara seperti ini.

“Maaf Jarot, bukan aku tidak menyukaimu hanya saja Robby..”

Seketika itu juga sebuah panah tepat menusuk jantungku. Bahkan bongkahan es juga ikut luruh dan jatuh tepat di kepalaku. Bayang-bayang Kasih yang duduk manis di boncengan motorku seraya memeluk erat pinggangku lantas sirna. 

“Jarot, kamu tidak apa-apa? Ma, maafkan aku ya? Sungguh sebenarnya aku tahu tentang perasaanmu padaku, tentang semua perhatian yang kamu curahkan kepadaku selama ini. Hanya saja..” dia menunduk. 

“Hanya saja aku tidak menyangka kamu akan mengatakannya saat ini, sudah lama aku menanti kata-kata ini darimu, Jarot. Karena sebelum Robby menyatakan cintanya semalam, aku masih menyimpan rasa cinta itu untukmu.” Lanjutnya, aku tidak begitu mendengarkan bukan karena aku marah padanya tapi entahlah rasanya seluruh saraf dan inderaku tidak berfungsi dengan baik saat itu. 

“Maafkan aku Kasih.” Hanya itu yang dapat kuucapkan, aku berbalik dan berjalan gontai meninggalkannya. Air mata ini menetes tanpa  kutahan.