Cerita kita di
Februari ini adalah proyek pribadi, dimana selama satu bulan di Februari ini
aku akan mencoba menulis setiap hari dengan judul yang berbeda (semoga
kesampaian sih, hehe). Ada beberapa judul cerita bersambung dengan judul
berbeda di tiap minggunya. Jadi, akan ada empat cerita dalam cerita kita di
Februari ini. So, selamat menikmati sajian terhangat di Februari ini :)
Sabtu, 02 Februari 2013
Kamis, 22 November 2012
Tidurlah Sayang
Tidurlah sayang.
Ibu akan selalu di sini mendampingimu.
Jangan takut sayang.
Ibu tidak akan pernah beranjak untuk meninggalkanmu.
Aku memeluk erat bayi
mungilku yang baru lima bulan yang lalu aku lahirkan. Bayiku tidak meminta
untuk dipeluk, hanya saja aku ingin memberikan pelukan hangatku kepadanya, agar
dia bias tidur nyenyak mala mini.
Dalam remang cahaya
lampu, aku memandangi wajahnya yang cantik. Hidung dan matanya adalah milik Mas
Dhani, suamiku. Sementara bibir dan pipinya yang tembem persis punyaku. Aku
mengelus pipinya, memandanginya sekali lagi, bayiku tetap diam tidak menangis.
Kupegang dahinya, ah sepertinya suhu tubuhnya panas. Jangan-jangan bayiku
sakit. Kuperhatikan lagi wajahnya, benar dia sedikit pucat. Aku kembali
merengkuhnya, aku tidak tahu harus minta tolong kepada siapa karena Mas Dhani
belum juga datang kemari.
Bayiku tidak menagis
sedikitpun. Ah, dia anak yang pintar tidak mau menyusahkan ibunya.
Entah
mengapa Mas Dhani yang biasanya datang kemari ketika hari beranjak gelap kali
ini tidak kunjung datang untuk menjemputku. Dia mengatakan setiap hari bahwa
akan membawaku pulang, tapi sampai saat ini selalu saja ada alas an untuk
kembali membuatku tidur di tempat asing ini.
Ruangan ini tidak begitu
luas, etahlah aku juga tidak dapat mengira-ngira hanya saja ruangan ini lebih
mirip dengan ruangan di salah satu rumah sakit. Hanya ada aku seorang, meskipun
terkadang ada beberapa perempuan yang tidak aku kenal menyambangiku dan
menanyakan keadaanku, seperti malam ini aku rasa ada seorang perempuan yang
sedari tadi melihatku. Peduli sekali mereka, pikirku. Tapi aku tidak peduli,
meski hanya sendirian yang terpenting aku bisa bersama dengan bayiku, itu sudah
cukup.
***
Esok harinya…
Aku tidak tahu kapan
datangnya tiba-tiba Mas Dhani sudah berdiri di sebelah ranjangku. Aku
bangun seketika dan menyapanya. Dia tersenyum seperti biasa, sangat tampan.
“Maaf, kemarin aku tidak
bisa datang kemari, ada rapat di kantor.” Katanya membuka pagiku.
Aku hanya tersenyum.
Lalu aku lihat Mas Dhani sedang menatapu lekat-lekat. Anehnya dengan
tatapan
iba. Lalu dia memeluk dan mencium keningku. Setelah itu dia menoleh ke belakang
pada seorang peempuan cantik berbaju putih, sepertinya aku pernah melihat
perempuan itu di sini, tapi entah kapan.
Mas Dhani berjalan
mendekati perempuan itu.
“Maafkan saya Pak Dhani,
saya turut berduka cita atas apa yang menimpa istri Anda.”
“Justru saya yang harus
minta maaf pada Bu Dokter karena selama hamper tiga minggu ini harus meluangkan
waktu ekstra untuk menjaga istri saya.”
“Tidak masalah, Pak.
Saya tahu ujian yang sedang dijalani istri Anda tidaklah mudah, meski saya
belum pernah mengalaminya, tapi sebagai perempuan saya paham bagaimana
terguncangnya persaan istri Anda ketika harus menerima kenyataan bahwa bayi
yang baru lima bulan dilahirkannya meninggal dunia, apalagi setahu saya Anda
telah menunggu selama hamper tujuh tahun untuk bisa memiliki keturunan. Jagalah
istri Anda sebaik mungkin, saya yakin perlahan-lahan istri Anda akan sembuh.”
“Terima kasih, Dok.”
Aku mencoba
menebak-nebak apa gerangan yang sedang dibicarakan suamiku dengan perempuan
cantik itu, tapi tidak satu kata pun yang berhasil kudengar. Mas Dhani kembali
menghampiriku. Dia mengambil bayiku secara perlahan, mungkin Mas Dhani kangen.
“Perempuan itu ingin
mengajak bayi kita berjalan-jalan. Udara pagi di luar sangat segar. Kamu tidak
perlu khawatir dia orang yang baik. Boleh kan?”
Aku tersenyum mengangguk.
Mas Dhani menggendong
bayi kami, dia tampak senang sekali lalu diberikannya kepada perempuan itu.
Perempuan cantik itu lantas menoleh kepadaku, tersenyum.
“Dok, maaf saya boleh
minta tolong?”
Seakan-akan dokter
cantik itu paham apa yang diminta Dhani.
“Saya akan mengganti
guling yang sudah kotor ini dengan yang baru.”
Sabtu, 03 November 2012
Cinta untuk Kasih -#FF2in1 Adera-Terlambat-
Pagi ini jam sudah menunjukkan
angka delapan, itu berarti seharusnya aku sudah berada di kelas untuk kuliah
jam pertama. Tapi kenyataannya, saat ini aku masih terpaku di depan cermin. Aku
memandang wajahku sendiri sambil terus menarik nafas panjang-panjang. Jantung ini
rasanya tak mau barang sedikit saja menurunkan kecepatannya.
“Kasih, aku mencintaimu, hmm..
sebenarnya sudah sejak pertama kali kita bertemu dulu….” Aku kembali
mengacak-acak rambutku.
“Aahh!! Kok jadi puitis begini
sih! Hmm, gimana ya caranya biar cara mengungkapkannya tidak terlalu mellow.” Kali ini aku mengusap wajahku. Akhirnya
aku putuskan biar saja nanti mengalir apa adanya yang penting hari ini aku
harus nembak Kasih. Apapun yang
terjadi, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengungkapkannya.
Segera kuambil tas dan kunci
motorku. Kukenakan jaket dan helm, lalu kupacu motor kesayangan ini dengan
kecepatan sedang sembari komat-kamit
sendiri seolah-olah Kasih, gadis yang sangat aku cintai telah duduk manis
dibelakang sambil memeluk mesra pinggang ini. Ah seandainya.
***
“Ja, Jadi semalam Robby dan kamu
sudah…”
Kasih mengangguk ragu, sepertinya
dia tidak nyaman memberitahuku dengan cara seperti ini.
“Maaf Jarot, bukan aku tidak
menyukaimu hanya saja Robby..”
Seketika itu juga sebuah panah
tepat menusuk jantungku. Bahkan bongkahan es juga ikut luruh dan jatuh tepat di
kepalaku. Bayang-bayang Kasih yang duduk manis di boncengan motorku seraya memeluk erat pinggangku lantas sirna.
“Jarot, kamu tidak apa-apa? Ma,
maafkan aku ya? Sungguh sebenarnya aku tahu tentang perasaanmu padaku, tentang
semua perhatian yang kamu curahkan kepadaku selama ini. Hanya saja..” dia
menunduk.
“Hanya saja aku tidak menyangka kamu akan mengatakannya saat ini,
sudah lama aku menanti kata-kata ini darimu, Jarot. Karena sebelum Robby
menyatakan cintanya semalam, aku masih menyimpan rasa cinta itu untukmu.” Lanjutnya,
aku tidak begitu mendengarkan bukan karena aku marah padanya tapi entahlah
rasanya seluruh saraf dan inderaku tidak berfungsi dengan baik saat itu.
“Maafkan aku Kasih.” Hanya itu
yang dapat kuucapkan, aku berbalik dan berjalan gontai meninggalkannya. Air mata ini menetes tanpa kutahan.
Sabtu, 27 Oktober 2012
Resep 'Mini Cookies'
Beberapa waktu lalu, tepatnya menjelang lebaran aku menemukan beberapa resep kue yang aku dapatkan dari sebuah tabloid. Kalau tidak salah tabloid NOVA, tapi aku lupa edisi ke berapa. Pokoknya melihat gambar-gambarnya lucu makanya aku jadi tertarik. Padahal aku pribadi hanya bisa memasak sayur yang simple-simple saja seperti sayur asem, sayur bening, tapi entah untuk bikin kue rasanya kok ada "chemistry" tersendiri dalam memasak kue. Jadi meski tidak bisa memasak (dalam hal ini memasak menu makanan sehari-hari yang rumit-rumit, seperti sayur lodeh, semur, gule, dll) aku mencoba membuat kue untuk lebaran nanti. Yaitu sebuah Mini Cookies, yang resep dasarnya aku dapat dari tabloid NOVA sementara hiasannya aku kreasikan sendiri sesuka hati.
Ini dia resep 'Mini Cookies'-ku
1. Vanilla Cookies, bahan-bahan :
- 150 gr Mentega
- 75 gr gula halus
- 1 butir telor sedang
- 1 sdm maizena
- 1 sdm susu bubuk (kalo susu ini aku pakai susu Dancow yang sachetan)
- 375 gr terigu (aku pakai terigu segitiga biru)
How to make??
- kocok rata mentega dan gula halus
- masukkan telor, aduk dengan spatula (mikser)
- masukkan tepung maizena & susu bubuk, aduk hingga rata
-masukkan terigu sedikit demi sedikit, hentikan penambahan terigu jika adonan sudah kalis
-giling adonan, cetak sesuai selera, lalu panggang dalam oven.
Hiasan :
-lelehkan dark chocolate
-celupkan permukaan cookies secara perlahan
-taburi dengan kacang/sprinkle\
-diamkan hingga coklat beku
-tata dalam toples.
Nah, itulah resep dasar pembuatan cookies, lalu untuk hiasan disini aku membuat cookies choco star dan choco nut.
Cookies choco star dan choco nut pada dasarnya sama, yaitu dengan menyelupkan bagian permukaan atas cookies pada coklat yang telah dilelehkan sebelumnya, lalu ditaburi dengan sprinkle (disini aku menyebutnya dengan star), dan sebagian ditaburi dengan kacang yang telah ditumbuk terlebih dahulu.
Selamat mencoba! :))
Ini dia resep 'Mini Cookies'-ku
1. Vanilla Cookies, bahan-bahan :
- 150 gr Mentega
- 75 gr gula halus
- 1 butir telor sedang
- 1 sdm maizena
- 1 sdm susu bubuk (kalo susu ini aku pakai susu Dancow yang sachetan)
- 375 gr terigu (aku pakai terigu segitiga biru)
How to make??
- kocok rata mentega dan gula halus
- masukkan telor, aduk dengan spatula (mikser)
- masukkan tepung maizena & susu bubuk, aduk hingga rata
-masukkan terigu sedikit demi sedikit, hentikan penambahan terigu jika adonan sudah kalis
-giling adonan, cetak sesuai selera, lalu panggang dalam oven.
Hiasan :
-lelehkan dark chocolate
-celupkan permukaan cookies secara perlahan
-taburi dengan kacang/sprinkle\
-diamkan hingga coklat beku
-tata dalam toples.
Nah, itulah resep dasar pembuatan cookies, lalu untuk hiasan disini aku membuat cookies choco star dan choco nut.
Cookies choco star dan choco nut pada dasarnya sama, yaitu dengan menyelupkan bagian permukaan atas cookies pada coklat yang telah dilelehkan sebelumnya, lalu ditaburi dengan sprinkle (disini aku menyebutnya dengan star), dan sebagian ditaburi dengan kacang yang telah ditumbuk terlebih dahulu.
![]() |
| Cookies choco nut |
![]() |
| Cookies choco star |
Di Sudut Mata Ini
Di sini, di ujung jalan yang
biasa kita lewati berdua ini, aku berdiri di depanmu. Kau menatapku dengan
tatapan tajammu.
“Maaf,
aku harus pergi. Aku tidak membawamu turut serta.” Kamu mengucapkannya dengan
mantap, tanpa memerdulikan perasaanku.
“Tapi…”
“Arin,
mereka orang tuaku, aku tidak bisa menolak perjodohan ini!”
“Apa
kamu masih mencintaiku?”
Arman
perlahan mengangguk. Perjodohan dengan gadis pilihan kedua orang tuanya. Sebenarnya
dia pernah mengatakan hal ini sewaktu dia menolak mentah-mentah perjodohan itu.
Tapi, sejak papanya mengancam akan ‘membuangnya’
ke luar negeri dia tidak bisa berbuat apa-apa, dalam hatinya lebih baik
menerima perjodohan itu daripada harus hidup di negeri orang dan jauh dariku. Itulah
alasannya dulu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku tahu secara perlahan dia
telah mencintai gadis itu melebihi cintanya kepadaku. Aku tidak bisa berbuat
apa-apa, selain menangis.
Aku
mengenalnya bukan baru kali ini, sudah lima tahun kami menjalani hari-hari
bersama, suka duka, bahkan ketika dia diusir dari rumahnya karena mabuk, aku
pun masih menerimanya dengan lapang dada.
Arman,
dia balik badan dan berjalan menjauhiku. Di ujung jalan ini aku menatap
punggungnya yang bergerak semaikn jauh hingga hilang di tikungan. Arman, di
sudut mata ini mengalir sebuah tanda cintaku untukmu yang tidak bisa kubendung
lagi.
Rabu, 10 Oktober 2012
Antologi ke #9 -Karena Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu-
![]() |
| Cover Buku Karena Surga di bawah Telapak Kaki Ibu |
Judul: Karena Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
Penulis: Okti Li, Endang Ssn, dkk.
Penerbit Smart-Writing
Tebal: 164 hlm
Ukuran: 14x21 cm
Terbit: September 2012
ISBN: 978-602-18845-2-2
Harga Pre-Order: Rp 36 ribu (belum masuk ongkos kirim)
SMS: "Order Buku Ibu" kirim ke 085763208009
Diskon:
*Diskon 20% minimal order 5 eksemplar dan gratis ongkos kirim.
Sinopsis:
Dekapan cinta Ibu selalu tersedia setiap waktu untukku. Namun, cara Ibu mendekapkulah yang berbeda dari waktu ke waktu. Ketika aku belajar berjalan, Ibu selalu ada untuk membimbingku, memberiku semangat. Ketika aku belum fasih berjalan dan sesekali terjatuh seketika Ibu langsung menggendong dan mendekapku dengan penuh kehangatan. Dalam dekapan cintanya, Ibu memberikan aku semangat untuk terus belajar berjalan. Hingga tepat usiaku menginjak satu tahun, aku bisa berjalan ke sana kemari dengan tak sesekali jatuh lagi. Terima kasih Ibu.
Dapatkah aku menggambarkan keelokan wajah Ibu? Eloknya lebih indah dari matahari dan bulan. Bulatan hitam bola mata yang begitu pekat menawan, sentuhan jemari tangan yang halus melebihi halusnya sutra, tutur katanya lembut dan penuh kasih sayang. Jika aku membayangkan kesempurnaan seorang bidadari maka bidadari itu Ibu.
Kisah-kisah tentang cinta dan bakti kepada Ibu tersusun manis dan inspiratif dalam buku ini. Setiap kita lahir dari rahim Ibu, tumbuh dan besar karena cinta kasih sayangnya tanpa pamrih. Masing-masing kita mempunyai kisah yang tak terlupakan dengan bidadari penuh cinta yang kita panggil Ibu. Dalam buku ini, semuanya tersusun indah, menawan, dan mengharuh-biru kenangan tak terlupa tentang sosok Ibu.
Kontributor:
1) Anak Kangen Ibu: Generasi Babu oleh Okti Li
2) Berkaca pada Mama oleh Ade Tuti Turistiati
3) Bidadari itu Mama oleh Sherlly Ken Anaqah Hamidah
4) Bila Ibu Tersenyum oleh Salma Keant
5) Cepat Sembuh Mama oleh Ritsa Mahyasari
6) Cermin Jiwa Teristimewa oleh Prima Sagita
7) Binarnya Ibu Harunya Pendidikan oleh Rezka Gustya Sari
8) Dalam Perjamuan Rindu oleh Abdullah Saiful Azzam
9) Dekapan Cinta Ibu oleh Festia Gaby
10) Dia Sempurna di Mataku oleh Eva Riyanty Lubis
11) Dialog Hati oleh Asni Ahmad Sueb
12) Dimensi Rindu oleh Riri Maretta R.
13) Derita = Cinta Nyata oleh Nur Habibah
14) Tetesan Air Mata Cinta oleh Eko Apriansyah
15) Ibuku Pahlawanku oleh Nurul Sufitri
16) Lebaran Tanpa Ibu oleh Alin You
17) Terima Kasih Ibu oleh Annisa Hilda Adliany
18) Ayam Goreng Kakek Kriuk oleh Windi Widiastuty
19) Dongeng Ibu Sebelum Tidur oleh Purba Sari
20) Tentang Ibu oleh Ematul Hasanah
21) Hikmah di Balik Titah Sang Bunda oleh Chinglai Li
22) Ibu dalam Kenanganku oleh Yathi Hasta
23) Ibu dan Hujan Sahabatku oleh Mamiek Kamil
24) Ibu Pahlawan Sejatiku oleh Hengki Kumayandi
25) Ibuku Wonder Women oleh Diewan Wulan Ai
26) Kado Tak Sampai oleh Nurlaili Sembiring
27) Karena Cintanya Memang Berbeda oleh Elang Biru
28) Kasihnya Memang Hangat oleh Rurin Kurniati
29) Kenangan yang Tak Kan Putus oleh Sjahrijati Yati Rachmat
30) Kepada yang Terindu, Ibu oleh Juwita Purnamasari
31) Kidung Rindu untuk Emak oleh Awiek Libra
32) Sayap Putih oleh Ali Syafrudin
33) Medali untuk Ibu oleh Kang Mishbach
34) My Mom, My Hero oleh Cellia Cordhitta
35) Malaikat Senja oleh Ikha Alfhatunnisa
36) Ibuku, Asa yang tak Pernah padam oleh Maya Uspasari
37) Mencium Tangan Ibu oleh Ady Azzumar
38) Pelampung dan Rumah Impian oleh Sofia Orlando
39) Rembulan dari Bunda oleh J. Hanniraya
40) Rindu Ka’bah Bersama Mamak oleh Raudah Abu Hanifah
41) Rumah Mande (Ibu) oleh Irhayati Harun
42) Sebelum Mengekalkan Waktu oleh AD Rusmianto
43) Sehari Sebelum Pernikahan oleh Dian Nafi
44) Selembut Kasih Bunda oleh Eramayawati
45) Seputih Kasih Mama oleh Zahra Qomara
46) Skizofrenia oleh Endah Wahyuni
47) Terima Kasih Ibu oleh Ai Nuryati
48) Tetap Kuat di Kala Senja oleh Elys Zamany
49) Senyuman Ketegaran Ibu oleh Annisa Sofia Wardah
50) Ramadhan Istimewa oleh Apriliana Wakhidah
51) Dewi Kuntiku oleh Arista Dewi
52) Dalam Dekapan Ibu oleh Darmawan Budi
53) Impianku dan Doa Ibu oleh Dewi Syafrina
54) Perempuanku oleh Endang SSN
55) Ibu, Cintaku Tetap Utuh oleh Erpin Leader
56) Ibu, Cintamu Abadi Bersemayam di Hatiku oleh Fath WS
57) Pendonor Daging oleh Sandza
58) 20 Syurga untukmu Mah... Bahkan Lebih oleh Kicaka Alangkara
59) Gadis Pemanjat Atap oleh Okti Li
60) Teknisi yang Andal oleh Mustika Wildasari
61) Masa Kecil dengan Sepatu Roda oleh Nenny Makmun
62) Aku Ingin Dekat Denganmu oleh Nita Sweet
63) Rebahku di Pangkuan oleh Opik Hidayat
64) Katering Ibu Entin oleh Petra Shandi
65) Bolu Kukus oleh Wangi Kesturi
66) Hari Ini Tanpa Mama oleh Riezqy Ananda Syurgawi
67) Dalam Tidak Sadarmu, Ada Namaku oleh Riskaninda Maharani
68) Ibuku, Cinta dan Kesabaran oleh Sucianik Ayda Divi
69) Now I Know oleh Sugiarti Ahmad
70) Menjadi Bolang di Semarang oleh Tha Artha
71) Terima Kasih Bu Bidanku oleh Thera Chibonk
72) Mentari di Balik Awan oleh Tommy Alexander Tambunan
73) Aku, Hujan, dan Ibu oleh Vita Sophia Dini
74) Kenangan Kita, Bu oleh Wery Astuti
75) Hidayah Mama oleh Yulina Trihaningsih
76) Emak dengan Sekantung Jamur Merang oleh Zuifa Sanashalaufa
Selasa, 09 Oktober 2012
Tangan Jono tidak Panjang Lagi
Hari
Senin ini adalah hari pertama Jono masuk kembali ke sekolah setelah liburan
kenaikan kelas. Jono sengaja berangkat lebih pagi karena ada upacara bendera
yang wajib diikuti oleh semua siswa-siswi di SMP Perdamaian. Jono tidak mau
terlambat seperti Senin sebelum-sebelumnya dimana Jono masih menjadi anak yang
bandel dan suka membohongi kedua orang tuanya.
“Pak,
Bu, Jono berangkat dulu ya? Assalamualaikum.” Pamit Jono seraya mencium kedua
tangan orang tuanya.
“Waalaikumsalam.
Hati-hati di jalan ya Nak, jangan lupa selalu bersikap baik dan sopan kepada Bu
Guru dan teman-teman di sekolah.” Pesan Ibunya yang dijawab dengan anggukan
kepala Jono.
Jono
yang sekarang telah berbeda dengan Jono setahun sebelumnya. Dimana waktu masih
duduk di kelas tujuh atau setara kelas satu SMP Jono suka berbohong kepada
orang tuanya. Dia mengambil sebagian dari uang SPP dan buku yang diberikan
untuk jajan dan main playstation bersama teman-temannya.
***
Pagi itu di rumah Jono…
“Pak,
hari ini kata Bu Guru harus melunasi SPP sama uang buku.” Kata Jono, dia baru
saja menyelesaikan kegiatan Masa Orientasi Siswa bagi siswa baru di SMP
Perdamaian.
“Berapa
totalnya, Le?” Tanya Bapak Jono.
Bapak
Jono bekerja sebagai tukang tambal panci yang berkeliling dari kampung satu ke
kampung yang lain. Tidak banyak penghasilan yang diperolehnya setiap hari,
namun bapak selalu berusaha untuk menabung setiap hari guna keperluan sekolah
Jono, seperti SPP dan uang buku ini.
“Tiga
ratus ribu rupiah, Pak.” Jono menjawabnya enteng.
Bapak
yang semula sedang menambal panci ibu menoleh seketika ke arah Jono. “Loh, lah
kok mahal toh Le? Bukannya SPP kamu tiap bulan lima puluh ribu saja?”
sebenarnya Bapak tidak pernah berat hati mengeluarkan uang demi biaya sekolah
Jono, tapi kali ini biaya itu dirasa sangat besar dimana SPP Jono sebulan hanya
lima puluh ribu rupiah saja.
“Kan
tadi Jono sudah bilang Pak, itu uang SPP sama uang buku! Kata Bu Guru kalau
besok tidak dibayar Jono tidak boleh mengikuti pelajaran selama satu minggu,
Pak?!” Jelas Jono.
Bapak
lantas masuk ke dalam kamar dan membuka celengannya. Ada uang Rp 350.000,- di
dalam celengan bapak. Lalu diberikannya Rp 300.000,- kepada Jono, sementara Rp
50.000,- dimasukkan kembali ke dalam celengan bapak yaitu kaleng bekas biskuit.
“Ini
tiga ratus ribu, hati-hati membawanya jangan samapi hilang ya?” Bapak
memberikan uang itu kepada Jono.
“Baik
Pak, terima kasih.” Ucap Jono. Hati kecilnya bersorak gembira. Bagaimana tidak
sebenarnya uang buku hanya sebesar Rp 100.000,- saja jadi total yang seharusnya
dibayar Rp 150.000,- tapi Jono malah minta uang dua kali lipat kepada bapak.
Pagi
ini Jono bangun kesiangan, alhasil dia telat dan tidak mengikuti upacara
bendera di sekolah. Dia mendapat hukuman dari gurunya, yaitu lari lima putaran
mengelilingi lapangan sekolah. Hari Senin berikutnya, Jono malah sengaja datang
telat dan kembali tidak mengikuti upacara bendera.
Sepulang
sekolah Jono mampir ke rental playstation bersama kedua temannya, Radit dan
Gilang. Mereka bertiga main playstation hingga menjelang adzan maghrib. Biaya
sewa semua ditanggung oleh Jono dari sisa uang yang diberikan bapaknya.
Begitulah
kegiatan Jono sepulang sekolah setiap harinya. Hal ini lama-lama membuat orang
tuanya bingung karena Jono selalu pulang terlambat.
“Kamu
dari mana saja Nak? Kok jam segini baru pulang, bukannya sekola bubarnya sudah
sejak jam satu siang tadi?” Tanya Ibunya.
“Iya
Bu, tapi Jono dihukum karena uang buku ternyata kurang!” Sahutnya.
“Kamu bilang kemarin uang SPP dan buku hanya
tiga ratus ribu?”
“Iya,
tapi ternyata bukunya ditambah makanya uangnya kurang dua ratus ribu! Kalau
lusa tidak dibayar, Jono tidak boleh mengikuti pelajaran selama satu bulan
Pak!”
Bapak
dan Ibu hanya mengelus dada. Kedua orang tua Jono hanyalah orang biasa yang
tidak mengetahui apa benar atau tidak yang dikatakan oleh Jono, bagi mereka
uang bisa dicari asal Jono bisa melanjutkan sekolah.
Karena
uang tabungan yang tersisa tidak mencukupi, akhirnya bapak seharian harus
berkeliling mencari pelanggan agar mendapatkan tambahan penghasilan. Hingga
larut bapak belum juga pulang. Ibu dan Jono khawatir hingga pukul dua dinihari
bapak belum juga tiba di rumah.
“Assalamualaikum,
Bu Marni!! Bu!!” Ada seseorang yang mengetok pintu dengan tergesa-gesa.
Ibu
yang masih terjaga menunggu bapak pulang membukakan pintu, yang ternyata Ahmad,
tetangga mereka.
“Ada
apa, Mad?”
“Anu
Bu, Pak Guntur kecelakaan di jembatan sana. Katanya tadi ditabrak mobil, tapi
mobilnya melarikan diri.” Suara Ahmad bergetar menyampaikan berita buruk itu.
“Astaghfirullah,
sekarang dimana Pak Guntur Mad?”
Ahmad
mengantarkan Jono dan ibunya ke rumah sakit tempat bapak dirawat. Bapak terluka
ringan di kepala, namun kakinya patah sehingga kaki bapak harus di gips.
“Masya
Allah Pak, kenapa Bapak jadi begini?” Ibu sudah meraung menangis dalam pelukan
Bapak. Sementara Jono yang semula takut belum berani mendekat.
“Bapak
tidak apa-apa, Bu. Mana Jono?” Bapak celingukan mencari Jono yang dari tadi
masih berdiri di pojok ruangan. Dia menangis.
“Sini
Le, ini Bapak sudah dapat uang dua ratus ribu. Besok segera kamu bayarkan ya?
Biar kamu diijinkan mengikuti pelajaran lagi.” Bapak mengulurkan lembaran uang
yang sudah lusuh kepada Jono.
Jono
semakin terisak. Tidak menyangka akibat perbuatannya bapak harus mengalami
semua ini. Dia tidak mau kehilangan bapak. Jono mendekat dan memeluk bapaknya.
“Maafkan
Jono Pak, sebenarnya Jono berbohong kepada Bapak dan Ibu. Tidak ada kekurangan
dalam pembayaran di sekolah Pak. Jono.. Jono menggunakan uang itu untuk main
dan bersenang-senang dengan teman-teman. Maafkan Jono Pak?!” bapak sempat kaget
dengan pengakuan Jono, namun bapak tahu Jono telah jujur dan mengakui
kesalahannya.
“Jangan
diulangi lagi ya Nak, lihat bapakmu. Bapak sudah bekerja keras memenuhi
kebutuhan sekolahmu. Kamu janji pada Ibu tidak akan berbohong lagi.” Ibu
memeluk anak semata wayangnya itu.
Air
mata Jono mengalir semakin deras. “Iya, Bu. Jono janji tidak akan pernah lagi
mengulangi perbuatan tercela itu lagi. Dan jono janji tangan Jono tidak akan
panjang lagi dengan mencuri uang SPP dan buku.” Jono memeluk Ibu dan Bapaknya.
***
Jono menepati janjinya dengan
menjadi anak yang baik. Kenaikan kelas dua Jono meraih peringkat tiga. Dia
telah mendapatkan pelajaran yang berharga setelah kecelakaan yang menimpa
bapaknya. Dan kini Jono menjadi anak yang penurut dan sering membantu pekerjaan
bapak di rumah. Jono juga suka mengajak teman-temannya untuk selalu jujur dan
berbuat baik kepada siapa saja, terutama kepada orang tua.
Langganan:
Postingan (Atom)


