Senin, 15 Juli 2013

Kejutan (sebelum) Ramadhan

Alhamdulillah....akhirnya bisa menulis di blog lagi setelah lama tidak memposting secuil kalimat pun.
Sebelumnya saya pribadi ingin mengucapkan :

"Selamat menjalankan Ibadah puasa 1434 H"

Ramadhan ini aku ingin menceritakan sebuah kejutan di awal bulan Ramadhan ini. Baru-baru ini aku mengikuti lomba menulis yang diadakan Nulisbuku.com yang bertajuk proyek menulis dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Aku mendapatkan info tersebut dari twitter nulisbuku dan info selengkapnya tentang lomba di sini
Oke, akhirnya aku mulai mencari-cari ide apa yang tepat untuk tema "Kejutan Sebelum Ramadhan" hmm...sedikit pusing juga sih, apalagi tenggang waktu yang diberikan hanya lima hari. Ya LIMA HARI!! mulai dari 1-5 Juli 2013. Aigoo :( tapi untungnya cerita yang harus dibuat tidak begitu panjang. MaksImal 1000 kata atau setara empat halaman A4. 
Ditengah-tengah kesibukan tugas kantor aku mulai mencuri-curi waktu istirahat untuk mengetik. Kan kalau lagi puasa gini tidak mungkin cari makan siang yaudah sambil ngantuk-ngantuk aku mulai menggerakkan jari jemari untuk mengetik sebuah judul. SETOPLES KACANG METE.
Kenapa Setoples Kacang Mete? sebenarnya aku pernah menulis dengan judul yang sama, namun disini dengan isi yang berbeda. di blog ini dulu sudah pernah ada postingan tentang setoples kacang mete, namun di cerpen yang  kuikutkan lomba saya modifikasi dan  kembangkan dengan imajinasi yang baru tentunya. Taraaa.... jadilah sebuah cerita pendek yang baru. Fresh from the oven :p
Selama beberapa hari tentunya aku menunggu pengumuman yang akan dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2013. Aku terus stalking twitter nulisbuku, siapa tahu ada pengumuman-pengumuman penting.
Sabtu, 13 Juli 2013, pukul 20.25 WIB
Lepas sholat tarawih, aku berleha-leha mencari angin segar. Aku sama sekali lupa kalo ada pengumuman dari nulisbuku. Langsung aku mengambil handphone dan membuka twitter nulisbuku. Ah benar ternyata pengumuman siapa yang lolos sudah ditulis di bog nulisbuku.
Aku mencari apa ada namaku di sana. Di buku #1 kategori perorangan (kategori yang saya ikuti) dimana di buku satu merupakan cerpen terbaik yang menjadi finalis. Tidak kutemukan namaku di sana. Oke, tidak masalah siapa tahu masih masuk ke dalam 200 karya yang dibukukan lainnya.
Buku# 2 : tidak ada
Buku# 3 : tidak ada
...
...
...
Hingga buku# 15 di kategori perorangan tidak juga kutemukan judul cerpenku di sana. Hmm...oke, berarti memang tidak lolos dan bukan rejeki. Hiks. :'(
Minggu pagi, 14 Juli 2013
Bangun pagi, seperti biasa yang aku lihat pertama kali adalah handphone apakah ada sms, atau pemberitahuan lainnya. Dan ternyata ada satu mention di twitter, begini isinya :
Alamaaak...apa dia salah mention ya? atau aku yang salah lihat?? hmm.. bahkan saking nggak percayanga aku sempat membalasnya dengan bertanya kita satu buku di buku berapa?? kemudian dijawabnya di buku# 8. Ku buka kembali blog nulisbuku dan melihat pengumumannya, ternyata benar!!
Cerpenku yang bergaris merah :)

Alhamdulilaah.... ternyata memang aku yang semalam salah lihat. hehe :D
Info lengkap pemenangnya bisa di cek di sini
Buku ini bisa dibeli secara online di nulisbuku.com, juga ada keterangan cara membelinya di sini
Seluruh royalti dari penjualan buku ini nantinya oleh nulisbuku akan disumbangkan kepada lembaga panti asuhan untuk menyantuni anak yatim piatu.
So, buat kamu yang ingin membaca cerita-cerita keren sekaligus beramal bisa langsung membeli buku "Kejutan Sebelum Ramadhan" ini looh :D

Jumat, 19 April 2013

Lucunya Kartini Kecil

Masa kecil memang selalu indah untuk dikenang, apalagi bagi kalian yang tentunya pernah merasakan karnaval. Entah karnaval dalam rangka hari Pahlawan atau karnaval memperingati Hari Kartini, tidak peduli jalannya jauh yang penting karnaval itu menyenangkan, apalagi di make-up yang sangat jarang dilakukan untuk anak kecil. Beriringan sambil bercanda dan dilihat orang-orang di jalan, ibarat artis dadakan, hhehehe :D

Ngomong-ngomong soal karnaval saya punya sedikit cerita. Saudara kecil saya yang pagi tadi tepatnya pukul 5.00 sudah membangunkan saya, kalian tahu untuk apa? Saya diminta untuk me'make-up' dirinya untuk karnaval. Hmm... --"

Oke, memang beberapa hari sebelumnya dia sudah "membooking" saya untuk mendandaninya, awalnya sempat ragu apa iya saya bisa mendandani, memoles wajah gadis kecil itu dengan sapuan bedak dan goresan pensil alis??

"Boleh laah, sekalian buat percobaan," batinku, lalu HAHAHAHA*ketawa setan :D

Alhasil, Sabtu pagi saya bangun menyiapkan peralatan make-up yang saya punya. Aku menyuruhnya duduk di depanku.
 "Oke, angkat kepalanya" Kataku, aku membersihkan wajahnya lalu mulai memoleskan foundation. Well, setelah foundation teroles dengan rata....Ahh langkah-langkahnya di skip saja, toh pasti yang lain sudah ahli berdandan sendiri kan? hehe. Langsung saja lah pokoknya aku mencoba memake-up sebisaku, xixi.

tik..tok...tik...tok bunyi detik jam. Satu jam berlalu, akhirnya riasan selesai lengkap dengan sanggulnya*Oh iya disini saya juga menyanggulnya loh :|
Finally done!! ahahahaha....*bisa juga ternyata ya..wkwkw :)
Aku melihat hasil kerja kerasku selama satu jam tadi. Hmm, lumayan deh*menghibur diri sendiri :p pokoknya nggak menor-menor banget lah, dan nggak aneh-aneh juga udah mending.Hihihi

Mau tahu hasilnya???
ini niih...

















Begitulah hasil riasan sederhanaku :)

Musim-musin karnaval seperti ini memang menyenangkan, apalagi melihat semua gadis-gadis kecil dari berbagai sekolah, mulai Playgroup, TK, sampai SD berkebaya dan bermake-up, tampak begitu lucuu dengan pipi yang memerah karena sapuan blush-on, bibir merah merekah dengan lipstiknya, ahh... pokoknya ngegemesin melihat mereka saling bergandengan tangan berjalan dengan didampingi para gurunya.

Hmm, semoga semangat Kartini juga tumbuh di hati para generasi cilik penerus bangsa ini ^^,

Jumat, 22 Maret 2013

Resep Vanilla Cupcake

Mini Vanilla Cupcake


“Fiuhh?!! Akhirnya jadi juga!!” Itulah kalimat pertama ketika aku membuka oven dan mendapati cupcake buatanku mengembang sempurna.

“Alhamdulillah” Itu kata kedua setelah meyakinkan kalo cupcakes tidak “bantat” haha…lumayan laah ada sedikit kemajuan.

Ya ya, bagaimana tidak kalo dihitung-hitung cupcake kali ini adalah percobaan ketigaku dalam membuat cup cake. Hasil dua cupcake sebelumnya “TETOOOT, GAGAAAL!!!” *sambil nunduk.

Hihi, dua kali percobaan dua kali pula gagal tapi ambisi untuk bisa membat cupcake yang mengembang sempurna belum pernah padam. Alhasil, waktu jalan-jalan ke toko buku untuk membeli novel, aku sempatkan mengintip ke rak “RESEP MASAKAN”. Karena selama ini resep-resep yang aku contek semua berasal dari “ubek-ubek” si Mbah Google :p

Ini niih resepnya
*dikutip dari salah satu resep di toko buku
**dengan modifikasi bahan sesuai selera
Bahan :
-         -  4 kuning telor
-         -  2 putih telor
-         - 75 gr gula pasir
-         - 1 sdt ovalet
-     - 70 gr tepung terigu protein rendah (kunci) *karena tidak menemukan terigu kunci, maka aku coba pake terigu segitiga
-         - 10 gr susu bubuk
-         - 1 sdt vanili bubuk
-         - 30 gr margarine, lelehkan

Hiasan :
-          Buttercream white *warnanya siih sesuai selera
-          Sprinkles* hiasan kecil seperti permen, bisa juga dengan choco chips

How to make???
-          1. Kocok telor, gula, dan ovalet hingga mengembang dan kaku
-          2. Masukkan tepung terigu, susu bubuk, dan vanili bubuk, aduk rata*ayak terigunya terlebih dahulu
-          3. Tambahkan margarine yang sudah dilelehan tadi, aduk rata
-    4. Tuang adonan ke dalam cup kertas yang telah dipersiapkan sebelumnya*kalo aku pake cup kertas berukuran 4cm
-       5. Oven adonan hingga matang dan angkat*naah, ini nih di resep aslinya adonan dikukus, tapi aku salah baca resep jadinya aku oven, tapi hasilnya juga mengembang kok J
-         6. Tunggu hingga dingin baru diberi hiasan sesuai selera.
-          7. Jadi 10 cupcake  :D


Dalam resep ditulis dikukus, sementara punyaku  dioven. Hasilnya mengembang, cuma kurang sedikit lembut dan sedikit keras. Entah itu karena pengaruh kukus-mengukus tadi atau karena terigu yang harusnya pake Kunci biru tapi aku pake Segitiga biru dimana segitiga termasuk terigu protein rendah sedangkan kunci protein rendah*hmmm…lain kali aku akan mencoba dengan terigu kunci biru.

Nah, sekian sedikit resep cupcake dari hasil pencarian di toko buku.
Selamat mencobaaa :D

Senin, 25 Februari 2013

Kembang Gula


Episode #9

Surat Untuk Kembang


Hai Kembang, ketika kamu membaca surat ini, aku tidak tahu apakah aku masih ada di dunia ini atau tidak. Tapi aku berharap aku masih ada dan bisa bertemu denganmu lagi.
Kembangku apa kabar? Gimana test masuk universitasnya? Sukses kan? Aku yakin kamu pasti diterima. Percaya deh! Karena jika aku bertemu sama kamu aku ingin kamu bilang bahwa kamu diterima di fakultas kedokteran.

“Kamu jahat Mas Bhima. Jahat!” Kembang membaca tulisan pembuka di surat yang dia terima pagi ini, tepat di saat pengumuman ujian seleksi.
Sehari setelah ujian seleksi masuk perguruan tinggi sebulan lalu, Kembang langsung mampir ke rumah Bhima. Tapi tidak ada siapa-siapa. Handphone Bhima pun juga tidak aktif, Kembang tidak tahu lagi harus menghubungi siapa. Dia hanya bisa menunggu. Menunggu hingga satu bulan berikutnya ketika seorang bapak-bapak mengantarkan surat untuknya. Bapak itu mengaku sebagai ayah Bhima.
Aku kangen kamu Kembang. Kangeeeen banget. Kalau kamu ada disebelahku sekarang ini pasti akan aku peluk. Jujur aku sebenarnya tidak sanggup untuk tidak bertemu denganmu, jangankan selama sebulan ini, sehari tidak bertemu kamu dan kembang gulamu aku sudah tidak sanggup makan, tidak bisa tidur, hahaha… pasti kamu kira aku lagi gombalin kamu ya? J
            “Bodoh! Jangankan tidur dan makan, aku bahkan hampir tidak bisa bernafas.” Emosi Kembang meluap-luap. Rasa sakit dan sedih bercampur menjadi satu. Air mata mulai jatuh dari sudut matanya.
Sebelumnya aku minta maaf jika mungkin surat yang aku tulis ini terlalu panjang buat kamu. Karena aku tidak tahu harus melakukan apa ketika aku sedang merindukanmu selain menulis surat ini. Karena banyaaak sekali yang ingin aku ceritakan ke kamu. Kita mulai darimana ya enaknya? Hmm, gimana kalau aku akan memulainya dari kesan pertama kali aku bertemu kamu.
            “Kamu menuliskan ini ketika merindukanku? Aku minta maaf Mas, aku bahkan tidak pernah melakukan apa-apa selama merindukanmu selain mengumpatmu dan berfikiran yang jelek-jelek padamu, Mas.”
Pertama kali melihat kamu sewaktu kamu nabrak aku dengan sepeda pink yang keranjangnya selalu penuh dengan bunga dan kembang gula. Untung yang kamu tabrak itu aku, coba kalau nenek-nenek pasti sudah jatuh terjengkang deh! Waktu itu kamu sedang asyik main HP sambil naik sepeda kan? Saat itu aku melihat kamu memang seperti para abg jaman sekarang pada umumnya yang entah dimanapun dan kapanpun selalu ada HP ditangan, haha.
            Kembang membayangkan Bhima yang sedang tertawa. Kedua lesung pipit dipipinya sangat jelas terlihat.
Waktu itu kamu menawariku kembang gula kan? Kamu ingat tidak waktu aku tanya kamu kenapa kamu suka sekali makan kembang gula? Kamu jawab biar manis kayak kembang gula. Tapi aku tidak setuju dan aku bilang makan kembang gula sebanyak apapun nggak bakalan bikin kamu tambah manis, kamu tahu kenapa? Karena kamu itu sudah cantik, Kembang. (Ah, saat ini kamu pasti sedang tertawa membaca ini karena kamu kira aku menggombal lagi ya? J )
            “Tertawa? Aku sedang menangis Mas, bahkan air mataku tidak bisa berhenti mengalir membaca suratmu ini!”
Kamu jangan tertawa keras-keras loh ya? Aku serius, kamu itu cantik Kembang. Seperti sekuntum mawar yang baru mengeluarkan kelopaknya. Indah. Sejak ketemu kamu, entah kenapa aku ingin lebih dekat dengamu, makanya waktu itu aku memberanikan diri untuk main ke rumah kamu. Oh iya kamu tidak tahu kan kalau waktu itu aku deg-degan ketika minta izin sama kamu kalau aku ingin main ke rumah kamu?
            Kembang tersenyum.
Lanjut lagi ya? Waktu aku main ke rumahmu, kamu selalu memberi kembang gula untukku. Terus kamu mempraktikkan cara makan gula ala kamu. Dalam hati aku berfikir, kamu itu lucu juga ya makan kembang gula yang biasanya tinggal sobek, lalu dimakan kamu memperkenalkan cara baru, yaitu dibulet-buletin, diremas hingga keras, baru dimakan. Katamu biar lebih keras dengan begitu lebih lama melumernya. Haha ada-ada saja. Tapi, sebenarnya aku tidak begitu suka makan kembang gula, kamu tahu kenapa? Karena makan kembang gula itu manisnya hanya sekejap. Baru dimasukkan mulut sudah habis melumer. Apalagi jika tidak segera dimakan, kembang gula akan cepat menyusut terkena angin. Sia-sia dong aku beli kembang gula yang besar kalau nantinya menyusut gara-gara angin? Iya kan?
            Kembang tertegun, air matanya sudah menetes dari tadi. Membaca surat Bhima bagian ini membuat Kembang berfikir, benar juga apa yang dikatakan Bhima.
            “Iya, memang kembang gula itu manisnya hanya sekejap, seperti kamu Mas yang hanya datang sekejap memberi kenangan manis dalam hidupku.” Kembang mengusap air mata di pipinya.
Kembang maafkan aku ya? Aku tidak bisa menemanimu di hari-hari beratmu menghadapi ujian. Bahkan aku tidak sempat mengirimkan pesan atau telepon untuk memberikan semangat untukmu, aku ingin Kembang tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak menceritakan alasan itu disini karena pasti kamu telah mengetahuinya dari ayah. Dan setelah kamu mendengar semua cerita itu dari ayah, pasti kamu marah sama aku kan karena aku tidak menceritakan itu semua sendiri? Aku tidak sanggup melihatmu menangis di depanku lagi. Cukup sekali aku melihatmu menangis waktu aku main ke rumahmu untuk terakhir kalinya. Tapi jika kamu menangis waktu membaca surat ini, sejujurnya membuatku sedih karena aku tidak berada disampingmu. Padahal aku ingin mengusap air mata di pipimu itu dengan tanganku. Maaf Kembang.
            “Bagaimana bisa aku tidak menangis Mas mendengar keadaanmu dan kini aku membaca suratmu. Meskipun ini hanya sebuah surat rasanya kamu benar-benar sedang berada di depanku, kamu membacakan surat ini. Aku bahkan bisa mencium harum tubuhmu, Mas.”
Oh iya, dibalik surat ini ada sebuah kembang gula jumbo buat kamu. Hmm, memang hanya gambar sih?! Padahal sebenarnya aku ingin memberimu kembang gula berukuran jumbo yang asli, tapi kali ini aku masih belum sempat membelikanmu. Maaf ya? Aku janji suatu saat nanti jika masih ada kesempatan, bahkan jika kesempatan itu hanya secuil aku akan memberikanmu. Oke?
            “Jika memang itu ada kesempatan, aku hanya menginginkan kamu Mas. Bertemu denganmu itu sudah lebih dari cukup.” Kembang mulai sesenggukkan.
Kembang, jika aku pergi dan kamu menemukan orang lain yang bisa membuatmu nyaman, bahagia, dan bisa menerima kamu apa adanya cintailah dia dengan sepenuh hati kamu. Jangan membanding-bandingkan dia dengan aku. Aku tidak ada apa-apanya bagimu. Bagaikan kembang gula aku mungkin hanya memberimu manis sesaat.
            “Kamu memang seperti kembang gula, meskipun manisnya cepat hilang tapi bekas warna merah masih akan membekas di lidah, dan walau bekas itu tidak bertahan lama masih ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa menikmati sebuah kembang gula. Seperti ketika aku mengenalmu, hari-hariku lebih berwarna Mas. Kamu telah mengenalkanku pada sesuatu yang bisa disebut cinta.”
Kembang, mungkin beribu maaf pun tidak bisa menghapus rasa kesalmu padaku. Ini bukan keinginanku Kembang. Jika boleh aku justru ingin bersamamu dan menghabiskan hidup bersama. Membayangkan bagaimana kita menghabiskan masa tua bersama, melihat cucu-cucu kita berlarian mengejar layang-layang. Menatap wajahmu yang sudah keriput. Ahh, maaf aku terlalu berlebihan membayangkannya.
            Jantung Kembang berdegup kencang membaca jika Bhima ingin menghabiskan hidup bersamanya. Apa benar masih ada kesempatan seperti untuknya? Lalu Kembang mengamati paragraf surat. Ada sebuah bekas bercak air yang telah kering tepat pada salah satu katanya. Kembang menatapnya, bercak air itu seperti bekas air mata yang jatuh. Karena pada waktu yang sama air mata Kembang jatuh tepat di samping bekas air mata tersebut. Apa Mas Bhima juga menangis waktu menulis surat ini?
Kembang, mungkin sampai di sini tulisanku untukmu. Bukan karena aku kehabisan tinta tapi aku kehabisan kata-kata. Karena rangkaian kata-kata indah pun tidak bisa mengalahkan betapa indahnya hidup denganmu, betapa bahagianya aku bisa dekat denganmu.
Hmm, hampir lupa! Kembang, apa aku pernah bilang padamu bahwa aku mencintaimu? Sepertinya belum kan? Kalau belum maka kalimat terakhir pada suratku akan kutulis bahwa AKU MENCINTAIMU KEMBANG. SELALU.

                                                                Aku, yang selalu merindukanmu
                                                                Bhima Anjasmara

            “Mas Bhimaaaa!!!” Tangis Kembang semakin kencang. Dia memeluk surat itu. Lama sekali. Merasakan perih hatinya. Lalu dia membalik surat dan menemukan gambar untuknya. Gambar itu ditempel menggunakan selotip di balik surat yang kosong. Dalam gambar tersebut tampak seorang laki-laki yang sedang mengulurkan kembang gula jumbo, tidak ada pesan apa-apa lagi selain tulisan ‘kembang gula’.
==bersambung==

Sabtu, 23 Februari 2013

Kembang Gula


Episode #8

Hari ujian seleksi.

            Jam beker doraemon di meja belajar Kembang sudah menunjukkan pukul enam pas. Si Empunya sudah bersiap di depan cermin sejak lima belas menit yang lalu. Dia terus memandang cermin. Sambil komat-kamit dia terus berdoa. Menatap refleksi wajahnya sendiri.
            “Ya Tuhan, semoga hari ini semua berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan apapun.” salah satu kebiasaan Kembang yaitu selalu berdoa di depan cermin, setiap hari bahkan sebelum berangkat ke sekolah. Padahal pagi harinya dia sudah memanjatkan doa yang sama pada saat menjalankan ibadahnya.
            “Satu lagi, semoga setelah dua hari ke depan aku bisa segera bertemu Mas Bhima.” doa ini selalu ada dalam setiap ibadahnya. Rindu itu sudah memuncak, Kembang benar-benar sedang jatuh cinta pada Bhima.
            Pukul enam lewat sepuluh menit. Kembang beranjak dari kursinya yang telah didudukinya sejak tadi. Mengambil tas lalu turun kebawah berpamitan pada kedua orang tuanya.
            “Ayah, Bu, Kembang berangkat dulu, doakan ya?” Tak lupa Kembang mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
            “Apa Ayah antar sampai tempat ujian?”
            Kembang menggeleng, “tidak usah Yah, tempatnya tidak terlalu jauh dari sekolah kok, Kembang bawa sepeda saja.”
            “Benar nih?”
            “Iya, ya udah Kembang berangkat dulu. Assalamualaikum!”

***
            Di sebuah rumah beberapa blok dari rumah Kembang tampak keributan kecil di dalamnya. Kembang sempat menatap lama ketika akan berangkat tadi, namun Kembang tidak menyadari apa yang sedang terjadi di dalam rumah itu.
            Bukan keributan yang terjadi. Tapi rasa panik dari seorang Ayah ketika melihat anak laki-lakinya sedang tidak sadarkan diri. Ayah tersebut berlari keluar rumah, tidak ada taksi yang lewat lalu kembali masuk ke dalam rumah. Anak laki-lakinya tidak sadarkan diri, digoncang-goncangkan pelan tubuhnya juga tidak memberikan respon. Akhirnya sang Ayah memutuskan untuk menelepon ambulan rumah sakit terdekat.
***
           
            Hari pertama ujian dilalui Kembang dengan mudah. Tinggal satu hari lagi, hingga Kembang dapat kembali menemui Bhima. Sepanjang hari itu Kembang tidak pernah absen melihat layar ponselnya, barangkali ada sms masuk dari Bhima. Kembang tidak mengharapkan lebih, cukup satu kalimat penyemangat untuknya. Namun ternyata hingga malam tiba tidak satu pesan pun dari Bhima yang dia terima.
            Di dalam kamar, di sela-sela belajarnya Kembang memandangi jam beker doraemon pemberian Bhima. Tiba-tiba Kembang merasa ada sesuatu yang tidak pas di hatinya. Apa mungkin selama ini hanya perasaannya saja yang menganggap Bhima juga menyukainya? Apa mungkin Bhima hanya menganggapnya sebagai teman yang hanya lewat, artinya hanya sebuah pertemanan singkat biasa? Kembang menutup mukanya dengan kedua tangan.
            “Aaah..... bodoh! Bodoh! Kenapa bisa aku memberinya perasaan lebih?”
            Kembali dia menatap wajah doraemon itu, mengelus-elusnya bak wajah Bhima.
            “Mas Bhima, besok ujian terakhir. Meskipun kamu tidak pernah mengirim ucapan semangat padaku tapi entah kenapa perasaanku berkata bahwa kamu peduli sama aku. Meskipun aku tidak tahu kamu menganggap aku sebagai apa, tapi aku berharap pertemuan kita selama ini akan tetap membekas dalam benakmu.” Kembang bicara pada wajah doraemon yang kini telah berada dalam dekapannya mungkin juga akan terbawa sampai mimpi.
***
            Di depan ruang ICU di sebuah rumah sakit tampak seorang ayah mondar-mandir. Bibirnya tak henti-hentinya melafalkan apa saja yang sekiranya bisa membantu meringankan sakit yang sedang diderita anak laki-lakinya. Satu-satunya yang dimiliki di dunia ini.
***
==bersambung==

Rabu, 20 Februari 2013

Kembang Gula

Episode #7


           Masih dalam selimut tebalnya, Kembang memejamkan mata, setelah mengingat semua tentang Bhima dia kembali beranjak ke jendela kamarnya. Gerimis rupanya belum juga reda, awan masih putih menandakan hujan akan semakin awet hingga nanti siang.
            Melalui jendela kamarnya Kembang melihat sudah tidak ada Bhima di jalanan, ibunya juga nampak sudah masuk ke dalam rumah.
            “Kembang, kamu tidak bangun, Nak?” terdengar suara ibunya memanggil di balik pintu kamar.
            Kembang hanya menggeliat, dia menoleh ke arah jam beker berbentuk wajah doraemon pemberian Bhima malam itu ketika kesepakatan untuk tidak saling bertemu hingga Kembang menyelesaikan ujian seleksinya. Jam itu menunjuk angka 10 tepat.
            “Ayo cepat bangun, semua sudah sarapan loh, kamu tidak mau sarapan?” panggil ibunya lagi.
            Kembang mulai beranjak dari tempat tidurnya ke kamar mandi. Setelah itu dia merapikan kamar tidur dan turun. Di meja makan sudah tidak ada orang, hanya terdapat makanan dan lauk yang disisakan untuknya, rupanya semua sudah sarapan kecuali dirinya.
            “Cepat sarapan, sudah siang ini nanti kamu sakit perut!” Yasmin yang sedang menonton TV menegurnya.
            Ada nasi goreng, telor mata sapi, dan segelas susu yang sudah tersaji di meja makan. Dia mulai menyendok nasi goreng ke dalam piringnya. Kembang sarapan pagi dalam diam.
            Ujian seleksi masuk perguruan tinggi kurang seminggu lagi, namun hatinya sudah tidak kuat menahan rindu yang teramat dalam kepada Bhima. Terhitung sejak kejadian malam itu, berarti sudah hampir empat minggu Kembang tidak bertemu dengan Bhima. Tidak ada telepon atau sms yang masuk.
            “Tadi waktu Ibu belanja, nak Bhima menitipkan ini pada Ibu.” Ibunya mengulurkan selembar kertas yang dilipat menjadi dua. “Ibu kira itu surat, tapi ternyata hanya gambar, maaf ya Ibu reflek langsung membukanya tadi.”
            Kembang terperanjat dan hampir tersedak, buru-buru dia minum. Lalu diambilnya kertas itu dan dibuka. Dalam kertas itu terdapat gambar dua buah kembang gula, bentuknya persisi seperti kembang gula yang selama ini dia makan bersama Bhima. Dia bawah gambar itu terdapat tulisan ‘kembang Gula’. Hanya itu isi dari kertas itu. Tanpa pesan singkat apapun.


            Kembang menghela nafas, walaupun hanya gambar tapi itu sangat berarti baginya, setidaknya selama hampir empat minggu ini Bhima masih memikirkannya. Dia terlalu berburuk sangka. Awalnya dia menyetujui kesepakatan untuk tidak saling bertemu memang karena cerita Bhima tentang kakaknya, tapi tidak disangka tidak sekalipun Bhima menelepon atau hanya sekadar memberikan kata-kata penyemangat melalui pesan singkat. Kembang berfikir semua cerita tentang Ara hanya akal-akalan Bhima yang mungkin tidak bisa menemaninya belajar atau apalah, tapi kertas bergambar kembang gula yang diterimanya pagi ini sedikit mengobati rasa kecewanya.
            “Kamu kapan ujian seleksi itu Kembang?” Tanya Yasmin. “Ah, gambar siapa ini bagus sekali.” Yasmin mengambil kertas itu dari tangan Kembang.
            “Dari Bhima.”
            “Oh iya, ngomong-ngomong soal Bhima, kenapa dia tidak pernah main ke rumah lagi? Dia tidak pernah kelihatan jalan sama kamu lagi. Kalian sedang bertengkar?” selidik Yasmin. Dia kini duduk disamping Kembang.
            Kembang menggeleng. Memang sejak kejadian itu Kembang hanya bercerita kepada Ibunya. Karena Yasmin selalu pulang malam sehngga Kembang tidak enak ingin bercerita kepada kakaknya, takut yasmin terlalu lelah untuk mendengarkan curhatnya.
            “Kami memang sepakat untuk tidak bertemu hingga selesai ujian masuk nanti.”
            “Hah?? Kenapa?”
            Kembang menceritakan semuanya kepada Yasmin, tidak disangka kakak yang terkadang sangat menyebalkan ini mendengarkan dengan seksama, bahkan ketika kembang selesai bercerita Yasmin memeluknya.
            “Adikku sayang, dengar ya? Meskipun aku terkadang menyebalkan tapi Mbak ini tetap kakak kamu dan yang Mbak sayangi selalu itu adalah kamu, jadi kenapa kamu mesti takut cerita sih? Akan selalu ada waktu untuk kamu.” Yasmin melepaskan pelukannya. Dia menoleh melihat sekeliling, memastikan tidak ada ibu ataupun ayahnya di ruangan ini. Lalu dia tersenyum melihat adiknya. “Mbak tahu kamu jatuh cinta sama Bhima itu, dan pasti sekarang kamu sedang menahan rindu kan? Itu wajar kok, dulu waktu mbak sedang kasmaran juga begitu. Tapi yang terpenting sekarang kamu harus bisa menahan itu semua karean sebentar lagi ujian kan? Kamu harus bisa menyelesaikan ujian itu dengan hasil yang sangat memuaskan. Oke?”
            Yasmin yang satu ini memang tidak bisa ditebak. Dibalik sikap cueknya rupanya dia sangat peduli kepada Kembang. Kembang tersenyum dan memeluk Yasmin sekali lagi.
            “Baiklah, kamu belajar lagi sana. Mbak Yasmin mau mandi lalu keluar sebentar.” Yasmin beranjak dari tempat duduknya.
            “HAH??!! Jadi Mbak Yasmin belum mandi? Ihh, dasar pantesan tadi ada bau-bau apa gitu, Idihh!!!” Kembang tanpa sadar menutup hidungnya dengan kertas pemberian Bhima. Lalu buru-buru dia menjauhkan kembali kertas itu dari hidunya dan melihat gambarnya sekali lagi. Mas Bhima, apa kabarmu?


==bersambung==

Senin, 18 Februari 2013

Kembang Gula


Episode #6

“Justru aku datang ke sini untuk mengucapkan selamat tinggal sementara kepada kamu Kembang. Aku minta maaf, tapi kita harus membuat suatu kesepakatan, kita jangan bertemu untuk beberapa bulan hingga kamu benar-benar telah menyelesaikan semua ujian itu. Kita baru akan bertemu jika kamu telah benar-benar masuk di universitas kedokteran.”
Kembang sontak menarik tangannya dari genggaman Bhima. Tidak menyangka Bhima akan berkata seperti itu. ternyata Bhima lebih kejam dari orang tua yang memaksakan kahendak kepada anaknya.
“Apa?? Mas Bhima akan meninggalkan aku dan membiarkanku berjuang sendirian?” Kembang tertawa getir. “Mas Bhima kejam, aku tidak menyangka kamu melakukan ini terhadapku, padahal sebelumnya aku kira kamu adalah kakak terbaik untukku yang akan selalu ada menemaniku untuk melalui ujian-ujian masuk universitas, aku kira Mas Bhima akan memberikan aku semangat selain orang tuaku dan Yasmin, aku kira..” tangis Kembang pecah.
“Untuk apa kamu menyuruhku menjadi seorang dokter jika kamu tidak melihat perjuanganku? Untuk apa kamu menyuruhku menjadi seorang dokter jika kamu akan meninggalkanku seperti ini?” Kembang menutup mukanya dengan kedua tangan, dia sesenggukkan.
Bhima tidak tahu harus mengatakan apa, dia mendekati Kembang mencoba menenangkannya. Bhima memeluknya, pelukan pertama dari seorang laki-laki untuk Kembang. Kembang meronta.
“Lepaskan! untuk apa Mas Bhima masih mencoba menenangkanku? Kamu tahu, pagi itu di depan terminal aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan berjuang menjadi seorang dokter, demi siapa? Demi kedua orang tuaku? Bukan! Mereka berdua tidak pernah memaksakan aku untuk menjadi apa. Demi Yasmin? Bukan! Dia bahkan tidak menyukai bau obat. Demi siapa? Demi kamu Mas Bhima! DEMI KAMU!!” air mata itu semakin deras membanjiri pipi Kembang. Untung saja di rumah sedang tidak ada orang, kedua orang tua Kembang sedang pergi, sementara Yasmin sedang keluar bersama kekasihnya.
Tampak buliran air mulai runtuh dari sudut mata Bhima. Kembali dia mencoba merangkul pundak Kembang. Tapi diurungkannya niat itu mengingat Kembang sangat marah kepadanya.
“Namanya Ara, dia kakak perempuanku satu-satunya. Dia ingin menjadi dokter agar kelak dapat menyembuhkan ibuku yang sakit kanker pada waktu itu. Kanker payudara.” Bhima mengusap pipinya, dia menatap langit-langit rumah Kembang, dia sudah hafal setiap sudut langit-langit rumah itu. Tapi dia menatapnya bukan karena ingin memastikannya tapi dia tidak sanggup untuk menceritakan kisah yang sebenarnya hanya patut dia kenang sendiri.
Kembang mengangkat kepalanya yang sejak tadi dia tenggelamkan dalam tangkupan kedua tangannya. Tanpa mengusap air mata yang sudah membanjiri pelupuk matanya.
“Aku masih kelas satu SMA waktu itu. Ara setiap hari belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan semangatnya tidak mengendur ketika ibu sempat tidak sadarkan diri karena kanker yang menggerogoti salah satu payudaranya justru sebaliknya dia memacu semangatnya agar bisa menembus seleksi ujian masuk perguruan tinggi yang diadakan satu bulan kemudian.” Kini Bhima menunduk, memejamkan matanya kembali dipaksakan pikirannya untuk kembali mengingat sosok Ara. Sementara Kembang masih terpaku di tempatnya.
“Satu minggu sebelum ujian itu diadakan Ara mengajakku untuk keluar jalan-jalan. Dia ingin menghirup udara malam setelah sekian bulan berkutat dengan buku-bukunya. Aku memboncengnya untuk melihat lampu-lampu kota yang berwarna-warni. Ara memeluk pinggangku erat, aku tidak tahu bahwa pelukan itu adalah pelukan terakhir Ara untukku.” Bhima menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sampailah dia pada kenangan yang menyakitkan.
Kembang terperanjat, namun masih tetap di tempatnya. Diusapnya air mata yang menggenang di pelupuk matanya karena pandangannya sedikit kabur karena air mata itu.
‘Bhima, Kakak bangga memiliki adik seperti kamu, kamu sangat baik dan mencintai keluarga. Jangan pernah melupakan keluarga meskipun kelak kamu menjadi orang besar. Ingatlah selalu perjuangan Ayah dan Ibu yang mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk menghidupi kita, agar kita menjadi orang yang berguna suatu saat nanti. Oh iya? Kamu mau jadi dokter juga nggak kalau sudah lulus nanti?’ “Itulah kalimat sekaligus pertanyaan terakhir Ara yang belum sempat aku jawab, karena tiba-tiba ada sebuah bus dengan kecepatan tinggi yang melaju keluar dari jalur kiri dan menabrak motor kami, aku sempat berusaha membelokkan motor untuk tetap menjaga keseimbangan agar Ara masih tetap menempel pada tubuhku, tapi aku salah aku malah membuatnya terpental dan….” Bhima sudah tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya. Bahunya tampak berguncang ketika dia sesenggukkan.
Air mata Kembang kembali meleleh, tangannya perlahan ingin menyentuh bahu Bhima, tapi diurungkannya karena sejak tadi kembang sudah memarahinya, Kembang merasa tidak enak. Kembang menatap sosok yang sedang menunduk itu lekat-lekat dan pada saat itu juga Bhima mengangkat kepalanya dengan gerakan yang sangat cepat hingga tidak sadar wajahnya berada hanya sejengkal dari wajah Kembang. Kembang tidak berusaha untuk menjauhinya, untuk beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain, tatapan yang dalam. Bhima semakin mendekatkan wajahnya hingga beberapa senti sebelum kedua hidung mereka bertemu Bhima membelokkan arah kepalanya, dia memeluk Kembang. Pelukan yang hangat, Kembang bisa merasakan pelukan tulus dari Bhima.
“Ara meninggal saat itu juga, sementara aku mengalami luka berat hingga harus dirawat selama beberapa minggu di rumah sakit. Ibu meninggal tujuh hari setelah kepergian Ara.” Bhima sangat pelan membisikkan pada Kembang, ditariknya nafas panjang. “Itu adalah cobaan terberat dalam hidupku. Aku telah merenggut impian kakakku, aku telah menghancurkan harapannya untuk dapat menyembuhkan Ibu, aku juga telah membunuh ibu. Aku menyesal Kembang, sangat menyesal! Rasanya aku ingin bunuh diri saat itu juga, tapi melihat ayah dan kata-kata terakhir Ara aku mengurungkannya. Aku melihat Ayah yang sangat tegar meskipun aku tahu hatinya menangis kehilangan dua orang yang sangat dicintainya sekaligus. Aku menatap matanya yang kosong, aku masih punya Ayah yang berhak untuk kubanggakan, aku mencoba sekuat tenaga untuk dapat membuatnya tersenyum. ” Suara itu semakin lirih hingga yang terdengar hanya suara sesengggukan Bhima. Kembang mempererat tangannya yang melingkar di punggung Bhima.
“Karena itu, aku tidak mau sesuatu yang sama terjadi pada kamu, aku tidak mau karena impian kamu yang tinggal sejengkal hilang ditangaku,” Bhima melepaskan pelukannya, tangannya berpindah ke pundak Kembang. “Lihat aku Kembang, maaf jika aku telah membuatmu terpaksa berjanji untuk menjadi seorang dokter karena aku ingin kamu menyembuhkan mereka yang sedang sakit.”
“Pertanyaan Ara waktu itu, sebenarnya aku ingin menjawab bahwa aku tidak ingin menjadi dokter, karena dengan adanya Ara yang menjadi dokter bagiku sudah cukup, karena Ara akan menjadi dokter yang hebat, jadi untuk apa aku menjadi dokter jika kami telah memiliki dokter yang terbaik. Tapi aku tidak sempat menjawabnya. Jadi Kembang sekali lagi maafkan aku, entah mengapa sejak pertama kali melihatmu aku sudah merasa nyaman bersamamu, aku merasa menemukan Ara dalam dirimu, ah bukan. Kamu bukan Ara kamu adalah Kembang, kalian masing-masing memiliki kemampuan yang luar biasa, kamu tidak akan pernah menjadi seperti Ara, begitu juga Ara yang tidak akan pernah menjadi sosok Kembang. Karena kalian di dunia ini memiliki peran masing-masing. Kamu percaya aku kan Kembang?”
Tanpa ragu lagi Kembang memeluk Bhima. Kali ini lebih erat, tangisnya juga kembali pecah. “Maafkan aku Mas Bhima, maaf. Aku janji akan menjadi dokter bukan karena kamu yang menyuruhku, tapi karena aku ingin. Aku tidak tahu kapan aku meninggal setidaknya, dalam hidupku aku bisa bermanfaat bagi orang lain.”
“Terima kasih Kembang, tapi jika suatu saat nanti kamu bimbang dan kamu menyesal, maka jangan diteruskan. Tidak baik melaksanakan suatu hal karena keterpaksaan belaka. Aku akan pergi untuk sementara, jika memang kita jodoh maka kelak kita akkan bertemu kembali.”
“Tidak, Mas Bhima harus menemuiku setelah ujian itu. mas Bhima mau berjanji kan?”
Bhima hanya tersenyum. Senyum yang mengandung sejuta tanya di benak Kembang.

==bersambung==