Sabtu, 28 November 2015

Nyanyian Ibunda



Detak jarum jam yang kini tengah menunjukkan angka 10 malam terdengar begitu nyaring, hanya detak jantung Kinan yang bias menandingi kecepatan detak jarum jam tersebut. Kinan tak banyak berucap, dia hanya bergumam untuk dirinya sendiri. Matanya tak juga kunjung untuk menutup untuk menghapuskan lelah hari ini yang telah dilalui Kinan.
Kinan memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Mungkin kepalanya capek karena sudah lama menatap langit-langit kamar bercat putih ini, toh juga cicak-cicak yang biasanya menjadi teman dikala terjaga seperti ini sudah tidak ada lagi disekitar lampu. Semilir terdenga rsebuah senandung dari bibirnya. Alunan lagu yang tidak jelas namun memiliki irama tersendiri bagi Kinan, karena kakinya yang tertutup selimut terlihat bergerak-gerak seolah mengikuti irama lagu yang sedang dinyayikannya.
Di malam yang sama ditempat yang berbeda, Bunda juga masih terjaga. Bunda miring kekiri menjadikan lengannya sebagai alas dikepala menjadi pengganti bantal. Bukan karena tidak ada bantal, tapi karena Bunda sudah terlalu capek beberapa bulan terakhir ini sering tidak bias tidur karena memikirkan Kinan, menggulingkan badan ke kanan ke kiri, hingga akhinya menemukan posisi yang pas untuk memulai memejamkan mata meskipun pada akhirny ausaha itu masih gagal.
Sayup-sayup terdengar senandung dari kamar Bunda, awalnya perlahan namun lama lama terdengar juga oleh Ayah yang sedang tidur diluar.
"Hmm..laguini" gumam Ayah.
Mata Ayah berkaca-kaca mendengar senandung yang sedang dilantunkan Bunda. Pikiran Ayah melayang pada kejadian beberapabulanlalu.
***
"Kinan, tolong sini bantu Bunda Nak!" Panggil Bunda yang sedang mencuci baju. Bunda meminta tolong Kinan yang sedang bermain kelereng dengan Banyu, adiknya.
"Iya Bun, sebentar" sahutnya sambil membersihkan kedua tangannya yang penuh kotoran tanah, mengusapkannya pada celana pendek coklatnya.
Kinan berjalan sedikit berlari menghampiri Bunda, tanpa mengucapkan kata Bunda meminta tolong Kinan untuk mematikan air kran karena ember cucian Bunda sudah penuh. Kinan dengan sigap memutar kran air.
“Sudah Bun?” tanyanya, sekaligus memastikan jika Bunda tidak memerlukan bantuannya lagi dia segera kembali bermain dengan Banyu.
Bunda mengangguk. Tersenyum. Lalu bernyayi, mengalunkan sebuah lagu yang sangat indah dan membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan mengangguk-anggukkan kepala atau menggerakkan kaki mengikuti irama. Kinan berbalik, memandang Bunda yang sedang asyik mencuci sambil bersenandung.
Kinan berjongkok di depan Bunda. “Bunda itu lagu apa sih? Kok setiap hari Bunda nyanyi itu dan tiap kami mau tidur juga Bunda menyanyikan lagu yang sama”
“Ini lagu dari nenek kamu, lagu yang sarat akan makna. Nanti kalau kamu sudah besar kamu akan tahu makna sebenarnya. Bahwa hidup itu memang tidak selalu mudah, bahkan lebih banyak susahnya tapi itulah hidup yang memang dituntut sebuah perjuangan demi kebahagiaan yang dipanen setelah mengalami beratnya perjuangan itu.”
Kinan hanya mengerutkan kening tidak mengerti apa yan diucapkan Bundanya. Wajar saja, usianya baru enam tahun dan Banyu adiknya berusia empat tahun. Mereka masih terlalu kecil untuk memahami penjelasan bunda.
“Maksudnya, kalau Mas Kinan dan Dek Banyu sedang mengalami kesusahan, jatuh dari sepeda, atau terpeleset ketika sedang main bola jangan menangis, bukan, kalian boleh menagis tapi hanya secukupnya, lalu bernyayilah, nanti rasa sakit itu akan hilang” Ayah datang memberikan penjelasan yang sepertinya membuat Kinan cukup mengerti.
“Ooh.. begitu, baiklah nanti Kinan dan Dek Banyu akan bernyanyi seperti apa yang Bunda nyanyikan...” baru saja Kinan menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba terdengan Banyu menangis sambil memegangi tangannya. Kinan berlari menghampiri adik tersayangnya. Ayah dan Bunda menatapnya dari kejauhan dan mengembangkan senyumnannya ketika melihat Kinan mulai mengajari Banyu nyanyian untuk menghilangkan rasa sakit karena gigitan semut merah.
Kinan dan Banyu memang anak-anak Bunda yang cerdas. Rumah menjadi ramai ketika mereka berdua sedang bermain bersama. Tak masalah rumah menjadi kotor, bagi Bunda itu tandanya mereka juga sambil belajar.
Kinan saat ini duduk di banku TK B, sedangkan Banyu masih diikutkan Bunda untuk belajar di kelompok bermain di balai RW tempat mereka tinggal. Setiap pagi Bunda sendiri yang mengantar dan menjemput mereka yang kata tetangga terlihat seperti anak kembar karena postur tubuh mereka hampir sama. Kurus. Jadilah Bunda selalu membelikan baju dan celana yang ukurannya sama, kadang juga dengan warna yang sama karena tak jarang mereka berdua bertengkar berebut pakaian jika pakaian yang dibelikan tidak senada.
Tiap malam tiba, Ayah dan Bunda secara bergantian membacakan dongeng untuk mereka, guna meningkatkan daya imajinasi mereka.
“Aku mau jadi buto ijo nya Yah!” kata Kinan ketika Ayah mendongengkan cerita buto ijo.
“Aku mau jadi kancil!” Sahut Banyu tak mau kalah.
“Iya, nanti si kancil akan aku makan. Hauum!!” Kinan menggoda dengan seolah-olah akan menerkam adiknya.
“Aku nanti lari, biar nggak dimakan.” Jawab Banyu,
“Nanti tetap Buto Ijo yang menang, kan buto itu raksasa yang besar! Iya kan Yah?” Kinan meminta pembelaan dari Ayah.
Kalau sudah begitu maka malam-malam di rumah sederhana mereka akan ramai kembali, berebut siapa yang paling kuat antara Buto dan kancil.
Sementara Bunda lebih banyak menyanyikan lagu yang sama ketika meninabobokan mereka berdua, karena dengan nyanyian dari suara Bunda yang halus menentramkan hati.
Tersenyumlah..
Bernyanyilah...
Tak usah kau bersedih, mari berkumpul
Aku akan datang saat kegelapan bersamamu
Karena rembulan datang tanpa cahaya
Hanya malam yang mampu menatapnya
Penggalan lirik lagu yang dinyanyikan bunda membuat mereka segera terlelap.
***
            Tidak terasa air mata Ayah jatuh di pipi mengingat betapa cerianya kedua putranya. Keduanya begitu ceria dan sehat. Semangat mereka tiap pagi ketika berangkat sekolah pun selalu diingat Ayah. Beberapa bulan lalu Ayah masih mengingat betapa bahagianya Kinan, yang pagi itu berpamitan sekolah dengan senyum dan tangan melambai dengan riang. Banyak bercerita ketika naik sepeda di perjalanan menuju ke sekolahtanpa Ayah tahu bahwa itu adalah salam untuk yang terakhir kalinya.
Dokter memvonis Kinan terkena tumor di batang otaknya. Bagaikan disambar petir di siang bolong, kabar tersebut merenggut keceriaan Kinan seketika. Dua bulan sudah Kinan hanya bisa tergolek lemah di ICU dengan segala peralatan medis yang menempel di tubuh kecilnya.
"Mas Kinan kemana Bu?" Tanya Banyu yang hanya tahu bahwa Kinan sedang sakit tanpa tahu bahwa kakaknya akan istirahat cukup lama di rumah sakit.
"Mas Kinan kan sedang sakit, sayang.." jelas Bunda.
"Kapan pulangnya? Adek nggak bisa main kelereng lagi sama Mas Kinan kalau Mas Kinan tidak pulang."Ucapan Banyu semakin membuat Bunda ternyuh.
"Mas Kinan akan segera pulang, makanya Adek berdoa ya biar Mas Kinan cepat sembuh."
Bunda memeluk Banyu, lirih terdengar nyanyian Bunda yang membuat Banyu semakin erat mendekapnya. Entahlah, jika dibilang kuat Bunda juga tidak begitu yakin menghadapi cobaan yang sedang terjadi pada Kinan. Jika boleh, lebih baik Bunda yang menggantikan posisi Kinan saat ini. Namun bunda tahu, seperti lirik lagunya Karena rembulan datang tanpa cahaya. Hanya malam yang mampu menatapnya. Bahwa kita tidak akan pernah bisa melihat indahnya padang bulan tanpa adanya gelap malam, kita tidakakan merasakan indahnya kehidupan yang diaturNya tanpa adanya cobaan dariNya pula.
Ruangan putih dengan bau khas obat-obatan menyengat ketika memasukinya. Di ranjang paling ujung, terlihat Kinan sedang berbaring di hari tepat dua bulan dia tergolek di sini, terlentang, karena Kinan masih belum sepenuhnya bisa menggerakkan kaki ataupun tangannya, hanya gerakan-gerakan kecil di jari jemarinya. Meskipun selama dua bulan ini Kinan hanya bisa berkomunikasi melalui mata dan suara lirihnya yang hampir tidak terdengar, tapi semangat Kinan sangat luar biasa. Setiap malam ketika berkunjung, Bunda selalu menyanyikan lagu sambil memeluk erat anak sulung tercintanya hingga Kinan benar-benar tertidur pulas.Nyanyian Bunda memberikan semangat tambahan kepada Kinan.
"Bunda akan selalu di sini dengan nyanyian Bunda untuk memberikan semangat kepadamu Nak, Kinan juga jangan bersedih yaa.. ingat kata Ayah, kalau jatuh atau sakit kita boleh menangis secukupnya, tapi ingat kamu harus tetap berdoa dan bernyanyi untuk bisa menghilangkan rasa sakut itu." Bunda mencium kening Kinan yang bersih.
Malam ini langit-langit ruangan putih itu diramaikan oleh tiga ekor cicak yang sedang berkejaran. Kinan menatap binatang kecil itu sambil bersenandung lirih, lagu Bunda. Kinan tak kunjung bisa memejamkan mata, kakinya bergerak-gerak mengikuti irama lagu yang dinyanyikannya. Cukup lama, hingga Kinan pun terlelap.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co

Sabtu, 14 November 2015

One Day Escape -Part 2

Masih di Madura. Setelah hampir dua jam berkeliling menyusuri bukit kapur Arosbaya, kami berenam memutuskan untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya yaitu Hutan dan Pantai Nepa yang kurang lebih 30 menit perjalanan.

Jalanan di Bangkalan yang lurus dengan pemandangan rumah penduduk yang terlihat sepi di siang hari. Oh iya sepanjang perjalanan lurus ini banyak masjid megah yang cantik dibangun di sini.

Untuk menuju ke Pantai dan Hutan Nepa kami melewati perkampungan rumah warga, sebelum memasuki wilayah pantai terdapat petunjuk bahwa setiap pengunjung harus ijin terlebih dahulu kepada Juru Kunci. Akhirnya kami menemui si juru Kunci yang semula aku membayangkan si juru kunci adalah seorang bapak-bapak tua dengan surban dan pakaian putih. Tapi ternyata setelah kami memasuki halaman rumah yang megah dan besar, kami hanya bertemu seorang perempuan muda (yang mungkin anak atau salah satu kerabatnya). Ibu muda itu mengambil sebuah buku dan memintaku untuk mengisi daftar kunjungan ke pantai serta tujuan mengunjungi tempat itu, tak lupa kita memberi uang sebagai sumbangan setelah mengisi daftar kunjungan itu.
Tidak ada tiket masuk, hanya parkir mobil sebesar Rp. 10.000,-

jalan menuju Pantai Nepa
Siang hari yang sangat terik, serasa matahari tepat berada di ubun-ubun. Panasnya minta ampun. Tapi kami masih tetap semangat untuk berjalan menuju pantai dan semakin penasaran dengan hutan nepa yang katanya terdapat banyak kera di dalamnya. So, kami ingin membuktikannya, bukan untuk mencari saudara masing-masing dari kami, hahaha tapi untuk membuktikan sebanyak apa sih kera nya :D
Gerbang memasuki Hutan Nepa

mengaktifkan radar mencari saudaranya.. hehe :)
Kami mulai berjalan menyusuri hutan namun belum juga nampak penampakan kera-kera kecil hingga hampir setengah perjalanan hanya ada satu-dua ekor kera yang sedang 'nongkrong' di atas dahan pepohonan. Barulah menjelang ujung hutan ini ada banyak sekali kera-kera yang sedang asyik duduk dan menikmati camilan mereka di sebuah pendopo.

ini dia Didit yang sedang ulang tahun, senang bgt kayaknya ketemu saudara. Hehe :D

Setelah masing-masing dari kami puas bertemu dan berkejaran dengan dengan kera-kera kecil disana, kami berenam cuss ke Pantai Nepa yang letaknya tepat di depan gerbang masuk ke hutan kera ini tadi.

Pantai Nepa

Didit selalu eksis dengan senjatanya : Tongsis :)

Pantai Nepa. Captured by Eva


Karena panas Madura yang sangaaat... emmmm -.- akhirnya setelah dirasa cukup menikmati pantai dan mengabadikan beberapa momen kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali. Niat awal kami ingin langsung ke air terjun yang letaknya tidak jauh dari Pantai ini. Tapi ada pendapat dari salah satu bapak yg duduk duduk di sekitar pantai, katanya ada waduk yang bagus dan jaraknya sangat dekat. Berhubung bapak tersebut meyakinkan bahwa waduk tersebut memang bagus, akhirnya kami pergi ke waduk itu.

Apakah waduk itu memang benar-benar bagus seperti apa kata bapak tersebut? Let's find out in One day escape-Part 3 ;)

One Day Escape part 1 -> shespebe.blogspot.co.id/2015/11/one-day-escape-madura-part-i.html?m=1

Kamis, 12 November 2015

One Day Escape (Madura) -Part I

Madura. Trip kali ini saya dan teman-teman berenam kembali meng-explore Madura, di Bangkalan tepatnya. Setelah terakhir Februari beberapa bulan lalu akhirnya kami kembali ke Madura lagi, dengan beberapa tempat tujuan seperti Bukit Arosbaya, Pantai dan hutan Nepa.

Kami merencanakan hari dan tanggal berangkat sambil mengumpulkan pasukan yang siap untuk diajak sehari menyusuri Madura.

Minggu, 25 September 2015. Titik temu di parkiran rumah sakit Dr. Soetomo. Awalnya sih janjiannya jam 6 pagi, tapi yaah harap maklum ini Indonesia yang jam nya agar 'sedikit' molor yang mungkin karena terbuat dari karet, heheheheh :D yang pada akhirnya kita (yang pada akhirnya juga terkumpul enam orang) berangkat sekitar jam 8 lebih ...

Perjalanan dari Surabaya ke Madura seperti biasa melewati jembatan Suramadu yang panjang nan indah (ceileeh) dengan suasana Minggu pagi yang sepi, mobil melaju dengan mulusnya tanpa halangan suatu apapun dan Alhamdulillah touch down Madura Island *yippiee. Perjalanan darat dilanjutkan hingga menuju Bangkalan Kota dengan pembahasan "nasi Bebek" dimana sepanjang perjalanan semenjak turun dari jembatan banyak ditemui kedai-kedai yang menawarkan Nasi Bebek termasuk 'Bebek Sinjay' yang sudah benar-benar tidak asing lagi di telinga dan lidah pembaca sekalian. Apalagi ada salah satu teman kami, Didit yang berulang tahun. Yesss.... pembahasan Bebek melipir ke arah traktiran nasi Bebek. Horeee : D, tapi karena waktu masih belum menunjukkan jam makan siang dan sebagian dari kami baru saja sarapan, akhirnya dengan bujuk rayu traktiran nasi Bebek dioper ke jam pulang nanti. (Alhamdulillah)

Bukit kapur Arosbaya ini letaknya terpencil, karena harus melewati jalan sempit yang hanya muat untuk satu mobil saja, sebelum masuk ke jalanan yang sempit itu terlihat juga wisata Aermata yang letaknya berdekatan dengan bukit kapur Arosbaya ini. Karena jalanan yang sempit dan berkelok, jadi tiap tikungan kita was-was jangan-jangan ada mobil yang datang dari arah berlawanan, waah... bisa gawat :(

Bukit Kapur Arosbaya

gua-gua di dalam bukit kapur
Itulah penampakan dari bukit Arosbaya. Bukit kapur-kapur dengan bentuk sedemikian rupa yang ramai dikunjungi meskipun panasnya minta ampun, tapi tetap tidak mengurangi kesempatan untuk mengabadikan momen, hehehe... kalau berkunjung ke tempat ini jangan lupa bawa kaca mata hitam dan pastikan botol minumanmu terisi karena saking panasnya hingga membuat tenggorokan kering.
potret kita berenam


Kita berkeliling selama hampir dua jam. Jangan ditanya berapa banyak foto yang kita ambil karena sudah pati sangat buanyakk...!!! sayang sekali dengan pemandangan yang begitu keren jika hanya dinikmati lewat indera pengelihatan ini saja, jadi sebanyak mungkin kita memotret bagian-bagian yang unik. Berikut beberapa penampakan bukit Arosbaya



Erwa dan Didit



di bukit kapur ini juga masih ada beberapa pekerja yang mungkin untuk mengelola batu kapur di sini, karena masih ada mobil pick-up yang terkadang melintas di sepanjang jalanan kapur ini.

mobil dan beberapa pekerja masih tampak di bukit ini
Semakin siang, bukit kapur ini semakin banyak pengunjungnya karena sewaktu kita bersiap untuk kembali ke parkiran sudah banyak motor yang terparkir di tempat parkir. Saking banyaknya pengunjung, kadang ada juga pengunjung yang 'sedikit' jahil dengan meninggalkan jejak mereka di sini, bukan sampah melainkan coretan nama atau apalah yang terukir di dinding kapur. Kan sayang banget....

Jangan pernah melakukan ini yaa!!

Kita boleh menikmati setiap tempat wisata dan mengabadikannya, tapi jangan sampai mencemari dan merusak tempat wisata ini yaa.... :)

Sehari di Madura kita tidak hanya berkunjung di sini tapi masih ada tiga tempat lain yang tidak kalah seru. Cerita akan dilanjutkan di part II yaa... :D


FYI : tidak dikenakan tiket masuk di bukit Arosbaya, hanya ada biaya untuk parkir  di sini Rp. 20.000,- (untuk mobil)



Senin, 01 Juni 2015

Higga Pagi Datang Kembali







dok. pribadi


Aku pernah membaca di sebuah novel yang sangat aku sukai, di sana ada kutipan yang kurang lebih isinya begini “aku sangat menyukai pagi karena akan ada harapan dan kesempatan baru pada setiap pagi yang datang”. Menurutku memang benar, karena pagi merupakan awal untuk membangun impian dan harapan baru.
            “Morning, Sugar!” sapamu sambil tersenyum. Ah, sungguh ini adalah pagi yang indah kesekian yang kulalui bersama sapamu. Sugar, adalah panggilan sayangmu padaku-katamu waktu itu, walau kedengarannya aneh, membayangkan kamu memanggilku gula.
            Mimpi untuk bisa sarapan berdua dengan orang terkasih, memasak makanan kesukaan, membuatkan kopi, kini semua mimpi itu sempurna sudah aku capai.
            “Apa mimpimu semalam?” tanyaku sambil mengambil dua buah cangkir satu untuk kopi-dia memang penyuka kopi, dan secangkir teh untukku. Menyiapkan seduhan kopi termanis untuknya. Semanis senyumku pagi ini.
            Kamu menggeleng. “Nggak tahu, lupa!”
            “Hmm….” Sahutku, lalu beranjak dari dapur dengan dua cangkir, satu untukmu kopi susu dengan dua sendok gula, sesuai takaran favoritmu.
            “Hari ini aku ada perjalanan bisnis ke Jakarta. Kemungkinan besok malam baru pulang.” Pamitmu sambil menyeruput kopi.
            Aku mengambilkan nasi, menuanginya dengan sayur sop, kutambakan dua biji perkedel, dan satu sendok sambal kecap pedas. Sarapan kesukaanmu.
            “Memangnya harus kamu ya yang pergi?” tanyaku.
            Kamu mengangguk.
            Entah kamu menyadarinya atau tidak, raut mukaku sudah berubah kecut. Dasar laki-laki selalu saja dengan mudahnya melupakan suatu hal yang penting.
            “Kamu kenapa?” Oh, rupanya kamu menyadarinya.
            Aku yang sedari tadi hanya menunduk, kini kuangkat kepalaku menatapnya. Menatap laki-laki yang sudah dua tahun ini menjadi pasangan hidup. Menjadi pelengkap diantara kekuranganku, kamu memang tidak romantis tapi kamu selalu mengerti apa yang aku mau meskipun aku tidak mengungkapkannya. Dan harusnya kamu paham tentang perubahan moodku pagi ini.
            Sugar, jangan begitu dong ah!” kamu mengusap lembut puncak kepalaku. Lalu mengecup ringan dahiku. Sungguh, inilah yang selalu membuatku meleleh jika sedang marah kepadamu. You are not a romantic person, but you are unpredictable.
            Aku masih saja cemberut. Mencubit pinggangmu. Kamu tertawa, menghindarinya. Aku sedikitpun tak mengendurkan cubitan di pinggangmu. Kita berdua tertawa.
            “Sudah, cukup! Hahaha…” kamu menggenggam kedua tanganku memintaku untuk menghentikan cubitan padamu.
            “Wah, sudah siang aku harus berangkat ini! Bye Sugar, I love you, always as sweet as sugar.” Kamu memegang kedua pipiku lembut, mendekatkannya pada wajahmu dan seketika kecupan itu tiba-tiba mendarat manis di dahiku.
            Lalu kamu beranjak.
            “Dasar tukang pemberi kejutan!” aku tersenyum. Rasa dongkol karena dia lupa bahwa besok adalah hari pernikahan kita yang ke dua mendadak sirna.
***
            Aku bukan baru mengenalmu beberapa bulan, tapi semenjak kita masih ingusan. Ya, kamu adalah teman masa kecilku menghabiskan waktu sepanjang hari mengejar kupu-kupu, bermain lompat tali, gobak sodor, bola bekel, hingga boneka barbie. Kita masih sama-sama berumur lima tahun. Dan itu dua puluh tiga yang lalu tepatnya.
            Kamu adalah anak tetanggaku yang kata Bunda sangat menjengkelkan, karena orang tuamu selalu pamer kehebatanmu dalam olahraga, kepintaranmu di sekolah, hingga kemerduan suaramu yang sudah belajar membaca Al-Quran.
            “Dikira cuma anaknya saja yang sehebat itu? padahal kamu juga pintar loh Nduk!” begitu kata Bunda.
            Tapi entah mengapa meskipun kedua orang tua kita sering cek-cok bahkan untuk hal masakan siapa yang paling enak, kita masih terus bermain sepanjang waktu bersama yang lain, tidak memerdulikan konflik dua kubu.
            Tujuh tahun kita bersama, sampai juga pada perpisahan karena kamu harus pindah mengikuti Papamu yang pindah tugas ke Bali. Aku, yang pada hari kepindahanmu tidak bisa mengucapkan secara langsung salam perpisahan karena sedang dirawat di rumah sakit akibat demam berdarah. Jujur, aku sangat sedih hingga aku tidak merasakan lagi pahitnya obat, karena semua terasa hambar tanpa canda tawamu yang biasanya selau menjahiliku.
            Esoknya aku mendapat sepucuk surat darimu, aku membacanya setiap hari sebelum tidur berharap kamu sudah duduk manis di teras rumahku menjemputku untuk naik sepeda keliling komplek.
Halo Sugar,
Ups, maaf aku memanggilmu Sugar. Nggak apa-apa kan? Maaf deh kalau kamu nggak suka, tapi sampai kapanpun aku akan memanggilmu Sugar. Hehe (seneng banget godain kamu lewat surat karena kamu nggak bakal bisa cubit pinggang aku :D)
Oh iya, kamu tahu nggak kenapa aku panggil kamu Sugar? Bukan hanya karena kamu manis kayak gula, tapi karena kamu memang benar-benar penyuka gula, masih ingat nggak pertama kali kita ketemu di pasar, kita sama-sama digandeng oleh ibu masing-masing. Aku melihatmu yang waktu itu sedang menikmati gula di genggaman tanganmu. Sejak saat itu aku sudah berniat memanggilmu sugar, tapi aku takut kalau kamu nggak suka, hehe sekai lagi maaf ya? (tapi beneran deh aku suka banget memanggilmu dengan sebutan Sugar :p)
Gimana kabarmu? Kita belum sempat bertemu waktu aku pindah. Aku tahu kamu sedang sakit, sungguh aku ingin sekali berpamitan langsung kepada Oom dan Tante, kamu juga tentunya tapi waktu itu semuanya serba mendadak. Makanya hanya ada surat ini untuk kamu, sebagai ucapan selamat tinggal (yang sebenarnya aku tidak ingin pindah, karena aku sudah kerasan tinggal di samping rumahmu, memiliki teman-teman yang baik dan lucu)
Sugar, aku sekarang tinggal di desa pecatu. Memang tidak ada teman-teman selucu kalian di sini (walau aku sudah punya beberapa teman tapi kalian tetap yang nomor satu. Suer ^^, V) desa ini indah sekali, aku suka menghabiskan pagi dengan bersepeda menghirup udara sejuk. Tiap sore ke pantai melihat matahari terbenam, lalu melihat tari kecak dengan panorama jingga yang…. Ah Sugar ku janji entah kapan itu aku akan mengajakmu kesini menyaksikannya sendiri karena keindahan jingga yang melatarbelakangi tarian ini sungguh KEREN. (Maaf bukan maksud hati untuk pamer, au Cuma ingin berbagi cerita denganmu)
Ingat Sugar, pegang janjiku. Ketika suatu saat nanti kita bertemu lagi sepuluh atau bakan dua puluh tahun lagi aku akan tetap mengajakmu melihat tari kecak di sini. JANJI.
Sugar, sebenarnya aku ingin cerita panjaaaang sekali, ah bukan, aku malah ingin bertemu denganmu dan menceritakannya sendiri kepadamu sambil menikmati pisang goreng Bunda di teras rumahmu. Sayangnya hanya lewat secarik kertas ini yang bisa kuberikan padamu. Minggu depan kita kan ujian nasional masuk SMP, kamu harus belajar yang rajin ya, biar kita sama-sama bisa masuk SMP yang diinginkan.
Baiklah Sugar, sampai disini suratku. Kamu balas ya di alamat ini, aku tunggu loh!
Dadaaah Sugar!
Aku kangen!

Salam manis,
Ardhana

Surat darimu masih kusimpan rapi. Aku tidak pernah membalasnya. Bukan karena aku tidak mau membalasnya, tapi karena waktu itu kita masih dua belas tahun, aku bahkan tidak bisa merangkai kata-kata untuk membalasnya meskipun Bunda selalu menawarkan jasa untuk menuliskan apa yang ingin aku katakan. Tapi masa iya aku minta bunda merangkaikan kata-kata bahwa aku sangat kangen padamu? Haha, nggak mungkin! Sebenarnya ketika sudah lulus SMP aku bertekad membalas suratmu, tapi aku urungkan niatku karena aku pikir kamu pasti juga sudah lupa tentangku. Begitu juga denganku yang kini telah memiliki banyak teman dan kegiatan yang mengasyikkan di sekolah hingga aku benar-benar lupa telah memiliki teman kecil sepertimu.
Tuhan memang maha pengatur terbaik, tepat pada waktu-Nya. Tiga belas tahun kemudian kita bertemu di Yogjakarta ketika aku sedang berlibur dengan teman-teman kantor, dan kamu dengan ehm….. kekasihmu. Selain itu Tuhan memang maha pembuat kejutan, karena kekasihmu adalah teman kuliahku, ya aku mengenalnya meskipun bukan teman dekat. Anehnya aku tidak merasa cemburu atau apalah karena memang waktu adalah penyembuh kesedihan yang paling mujarab. Tiga belas tahun aku menjalani hidup tanpa mengingatmu hingga detik ini kita bertemu, di titik nol.
Mungkin kamu tidak akan ngeh bawa orang yang sedang duduk di depanmu sewaktu menikmati wedhang ronde ini adalah aku, sebelum aku meminta segenggam gula untuk kunikmati setelah kehangatan wedhang ronde mengalir ke suluruh tubuh. Begitupun denganku, aku tidak akan pernah tahu itu kamu sebelum kamu menyapaku pelan.
Sugar?”
Tidak ada yang mengerti ketika kamu mengucapkan kata itu baik kekasihmu maupun teman-temanku yang duduk disebelahku. Pasti dikira kamu sedang sok-sok an berbahasa inggris melihatku yang sedang asyik menikmati manisnya gula dalam genggaman. Hanya aku yang menoleh pada sumber suara itu.
***
            Aku mengenalmu, bukan sebagai orang yang romantis tapi kamu orang yang tidak bisa ditebak, suka membuat kejutan. Salah satu kejutan terbesar adalah kamu bersama keluargamu datang ke rumah untuk melamarku. Dua tahun lalu.
            Tidak ada yang bisa menyangka bahwa Tuhan adalah Maha pembuat kejutan. Kekasihmu, meninggal dalam sebuah kecelakaan. Aku datang melayat ke rumahnya dan bertemu denganmu kembali. Sejak saat itu kita kembali aktif berkomunikasi hingga akhirnya hari dimana kamu datang dengan keluargamu melamarku.
            Jujur, aku tidak yakin dengan perasaanku pada waktu itu, di awal kamu menyatakan cinta aku hanya mengangguk menerima lamaranmu tanpa tahu pasti bagaimana perasaanku. Tapi kamu selalu meyakinkanku bahwa cinta itu sederhana, manusianya saja yang membuatnya terlalu rumit. Hingga dua tahun kebersamaan kita kamu selalu membuatku bahagia, membuatku menjadi wanita paling beruntung memiliki kamu karena kamu memberikan cintamu dengan sederhana, membahagiakanku dengan sederhana. Kamu juga telah memenuhi janjimu dengan mengajakku melihat tari kecak di Bali waktu kita bulan madu. Dan kini bagiku bahagia itu sederhana, bisa menemanimu di sepanjang sisa usiaku.
            Kamu, bukan seseorang yang romantis tapi kamu adalah orang yang suka memberi kejutan. Ya, pagi ini di hari tepat ulang tahun pernikahan kita aku menerima sebuah kiriman bunga yang indah plus surat yang aku yakin itu tulisan tanganmu.
            Happy 2nd Anniversary buat kita Sugar, aku tidak akan pernah melupakan hari teristimewa kita. I love you, Sugar :*
        P.S : tunggu kejutan lain ketika aku pulang nanti ya J

            Aku menggelengkan kepala “tidak! Aku tidak ingin kejutan lain darimu, aku hanya ingin kamu saat ini…!”
Kartu ucapan indah darimu basah oleh butiran air mataku yang jatuh karena sebuah berita jatuhnya pesawat penerbangan dari Surabaya ke Jakarta bertepatan dengan datangnya bunga ini tadi adalah kejutan darimu yang sama sekali tidak membuatku bahagia.
            Hingga pagi datang kembali, kamu tak kunjung datang kembali….
***

Rabu, 18 Februari 2015

Escape to Gili Labak

view of Gili Labak

"Laughter is timeless, 
imagination has no age,
and dreams are forever"
-Walt Disney-

Banyak yang bilang jika usia sudah beranjak dewasa kita bisa mempunyai banyak uang dari hasil kerja keras kita, tapi kita sedikit memiliki waktu untuk bisa rehat sejenak dari rutinitas kerja pergi melihat sekeliling kita. Yup, itu kurang lebih benar :p

Karena itu tanggal 7-8 Februari 2015 kemarin, saya benar-benar menyempatkan diri bergabung dengan teman-teman saya yang sebagian besar adalah "traveller" Ya, trip kali ini adalah ke Gili Labak. Madura.

we're on the boat



Gili labak terletak di Kabupaten Sumenep, Madura. Untuk sampai ke Gili Labak, kita harus menyeberang dahulu melalui pelabuhan Kalianget. Perjalanan di atas kapal kurang lebih 2,5 jam.

the Sailor man

Snorkle
Setelah mengarungi hampir dua setengah jam perjalanan laut, akhirnya pemandangan indah yang dinanti-nanti terlihat juga. Beberapa meter sebelum kapal merapat terumbu karang di bawah laut sudah tampak dari permukaan. Bagus banget :D

Terumbu Karang

My Escape
Oke, tak perlu menunggu lama setelah semua mengambil jatah snorkle masing-masing, kita semua langsung 'nyebur' . Jujur, ini pengalaman pertamaku untuk berenang sambil melihat terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang indah. Sayangnya aku tidak membawa waterproof untuk handphone, jadi yaa... nggak ada foto di bawah laut, hehhe.









the team


Seperti biasa, oleh-oleh dari pantai adalah warna kulit yang semakin eksotis, hahaha :D tapi nggak masalah, yang penting hati senang :D
Thanks a lot kepada teman-teman yang telah mengajak untuk melihat satu tempat indah ini. Well, i'm waiting for the next trip ^^'V

Beranjak Seperempat Abad

Bagaikan peresmian sebuah gedung yang biasanya ditandai dengan pemotongan pita oleh pimpinan, maka tanggal 5 Februari 2015 menjadi hari yang sangat istimewa, yes today i'm officialy 25 year old. Horeee!!! Oh, bagi yang sudah beranjak usia 25 tahun kira-kira bagaimana rasanya usia dua puluh lima itu? apakah ada perbedaan? atau masih sama seperti usia-usia sebelumya? hmm....

Tentunya kejadian pada setiap usia kita tidak akan pernah sama, meskipun kita selalu merasa 'akh sama saja' dan juga pastinya kita selalu mempunyai sederet list things to do ketika beranjak di usia baru, salah satu yang paling utama dalah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Apalagi usia sudah memasuki seperempat abad dimana selain karir yang paling sering akan didengar adalah "Kapan nikah?" (tentunya ini untuk para lajang yang belum menikah, hehehe)

Oke, saya tidak akan bercerita tentang tips atau curhatan tentang 'pertanyaan-pertanyaan' tersebut, yaa karena postingan ini khusus untuk mengabadikan pergantian usia bersama perayaan kecil dari keluarga saya yang besar-besar, haha :D

Berikut beberapa momen indah tersebut :

Kue ultah dari saudara

i love you :*
   
i'm swear this just like my 17 yo
Terima kasih kepada Ayah, Ibu, dan semua keluarga besar. Sungguh, tiada kado terindah kecuali memiliki kalian disetiap hari-hariku.

Now, i'm ready to continue my journey.....
Selamat datang seperempat abad :D








Rabu, 21 Januari 2015

Kisah Seperempat Abad

Aku, kamu, kita
Memiliki kisah pada setiap jengkal usia kita


Usia saat kita membuka mata melihat dunia untuk pertama kalinya
Usia saat kita menggandeng erat tangan ibu kala belajar berjalan
Usia saat kita menangis berebut mainan
Usia saat kita belajar, menuntut ilmu
Usia saat kita tersenyum atas segala pencapaian prestasi
Dan, usia saat kita mulai mengenal cinta

Semua itu telah kita lalui..


Kini kita di sini, menginjakkan satu kaki
Perlahan, 
bersiap untuk memulai kisah di usia seperempat abad..



*Pebe Purbasari
21 Januari 2015