Minggu, 23 September 2018

#OneDayTrip Kawah Ijen - Banyuwangi


Banyuwangi. Ya #onedaytrip saya kali ini adalah ke Banyuwangi. Kota di ujung timur Pulau Jawa. Jalan-jalan kali ini dilakukan tiga orang (saya dan dua saudara). Sebenarnya ini adalah acara dadakan yang tidak direncanakan sama sekali. Awalnya kepikiran ke Ijen karena ingin lihat blue fire yang hanya terdapat di dua tempat saja di dunia, nah salah satunya di Ijen ini. Apalagi belum masuk musim hujan, ya sudah berangkat saja, heuheu... 

Karena perjalanan kali ini dadakan, biar nggak ribet, kami menyewa jasa travel di Banyuwangi dengan tiga tujuan yaitu Kawah Ijen, Baluran, dan Djawatan. Meeting Point di stasiun Jember. Perjalanan ke Banyuwangi dimulai dari Jember.
 

warung di Pos Paltuding
Setengah satu dini hari kami sampai di pos Paltuding. Jangan tanya bagaimana hawa di sini. Kedua tangan saya sampai tidak lepas dari segelas kopi yang panas, sebenarnya saya membawa sarung tangan, tapi tidak tahu kenapa yang ketemu hanya satu yang satunya entah dimana, yaudah akhirnya tidak dipakai semua sajalah.. 😁

Pendakian baru dibuka jam 01.00 dinihari. Sambil menunggu, kami persiapan segala sesuatu yang bisa dibawa, seperti air minum secukupnya, masker (wajib) dan ke toilet tentunya.


Pukul 01.30 kami mulai pendakian ditemani dengan langit yang cerah, gemintang dan bulan terlihat sangat cantik (sayang tidak punya kamera yang bisa mengabadikanya) mengiringi pendakian kami. Langit sedang cerah-cerahnya.


Oh iya sebelum pendakian ke kawah Ijen ada baiknya kalian harus pemanasan dulu beberapa hari atau seminggu sebelumnya seperti jogging atau jalan-jalan (di mall) 😄😄 biar kaki terbiasa untuk berjalan jauh, jadi tidak gampang capek dan bisa bernafas secara teratur. Apakah saya melakukannya? ..hmm tentu tidak 😆 haha, bukannya tidak sama sekali sih, cuma yaa kalau pas hari Minggu atau pagi sesekali jogging.


Setelah hampir dua jam mendaki, sampai juga di Pondok Bunder ini, yang ditandai dengan adanya kantin. Kalau sudah melewati kantin ini medan pendakian sudah tidak terlalu menanjak.

Nafas sudah mulai 'engep' bolak balik tanya ke mas guide nya apakah sudah dekat? dia bilang, 'kurang dikit, tuh depan' seperti itu terus hingga entah pertanyaan ke berapa.. heuheu

Tiga jam pendakian akhirnya kamu pun sampai di bibir kawah. Masih pukul 4.30an belum bisa melihat sekeliling. Sebenarnya niat kami kesini memang ingin melihat blue fire, tapi karena ada beberapa hal, kami dialihkan untuk melihat sunrise


detik-detik matahari terbit



Dan inilah pesona sunrise cantik dari gunung Ijen. Pendakian ke sini, eh bukan, di setiap pendakian pasti melelahkan bahkan sampai habis tenaga, tapi percaya deh apa yang kamu perjuangkan itu tidak akan lagi terasa jika sudah melihat keindahan yang seperti ini di atas. Capek hilang (hanya tinggal dinginnya yang belum 😁) 



Inilah kawah Ijen yang biasanya hanya bisa dilihat lewat foto jalan-jalan di Instagram akhirnya bisa melihatnya langsung. Daebak! benar-benar keren 😍👍


Tapi, harus hati-hati angin kencang dan debu bisa membuat mata kelilipan. Kalian harus sedia masker dan kacamata (bila perlu) agar tidak kemasukan debu-debu yang berterbangan. Kecuali saat foto bisalah dilepas sebentar.. hehehe


Dilihat dari sudut manapun, kawah ini selalu terlihat bagus. Inilah Indonesia, dimanapun banyak terdapat tempat-tempat keren 😊


mereka menyebutnya ojek online 

Dalam setiap pendakian, melewati tanjakan memang berat dan capek luar biasa, tapi itu hanya di fisik saja, yang lebih berat adalah ketika turun, karena tidak hanya fisik tapi juga hati karena harus rela berpisah dengan kenangan dan keindahan apa yang ada di atas sana (ceileeeeh... 😎) buat yang hidup di kota pasti setuju, karena apa yang dinikmati di atas adalah keindahan dan ketenangan yang luar biasa, dibanding dengan hiruk pikuk di kota besar. 

Kembali ke cerita, pada waktu naik atau turun jangan kaget akan banyak ojek online yang menemani perjalanan, yang disebut ojek online itu adalah kendaraan yang disewakan kepada pengunjung yang sudah tidak kuat mendaki. Ada biaya yang harus dibayar kepada bapak-bapak yang kuat luar biasa tersebut. Bagaimana tidak kuat luar biasa, saya yang berjalan tanpa membawa barang-barang yang berat saja sudah capek, tapi bapak-bapak ini malah menarik penumpang melewati tanjakan yang seperti itu. Super deh bapak-bapak ini 👏😚



Selain pemandangan ojek online, wisatawan, dan kawah yang indah, pemandangan lain yang menarik perhatian adalah bapak-bapak penambang belerang ini. Hilir mudik membawa hasil tambang yang tidak ringan. Salut juga untuk pekerja tambang ini.





Baiklah, itu secuil cerita dari perjalanan ke Kawah Ijen yang sangat menakjubkan. Meskipun belum sempat lihat langsung blue fire, semoga bisa balik lagi dan melihatnya.. 😄

Tak bisa berhenti mengagumi keindahan Indonesia 😍😍


Thanks to : Banyuwangi Juara Trip, yang sudah menemani perjalanan sehari di Banyuwangi 🙏

Kamis, 21 Juni 2018

Berkunjung ke Monumen Kresek

Jembatan Kresek

Lebaran tahun ini, saya dan keluarga mudik ke Madiun, sebenarnya desanya di Caruban, cuma waktu beli tiket dapatnya yang tiket KA Sancaka, dimana kereta iniitidaj berhenti di stasiun kecil - Caruban - sehingga harus turun di stasiun Madiun.

Saya tidak akan cerita bagaimana suasana mudik lebaran bersama keluarga besar -dari ayah- karena seperti biasa momen mudik lebaran selalu berkesan 😊, yang akan saya ceritakan adalah hari terakhir di Madiun.

Jadi, meskipun tiap tahun mudiknya ke Caruban, saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Madiun. Baru tahun ini saya bisa tahu Madiun itu seperti apa (hmm.. ketahuan katroknya nih saya 😂). Di hari terakhir sebelum balik ke Surabaya sambil menunggu waktu karena tiket pulang baru jam sembilan malam, saya diajak oleh keluarga Caruban main ke Monumen Kresek, Madiun.

Jarak tempuh dari rumah (Caruban) ke Monumen sekitar satu setengah jam, itupun lewat jalan 'dalam' karena sebagian jalan utama Madiun waktu itu masih macet (mohon maaf waktu itu belum sempat tanya jalan 'dalam' yang saya maksudkan. Nanti apabila ada info akan saya update). Tapi setelah masuk ke jalan utama banyak petunjuk jalan menuju ke lokasi kok. Sepanjang perjalanan menuju lokasi akan disuguhkan pegunungan di sebelah kanan dan jalanan mulai sedikit menanjak. Jalanan perais saat kita hendak melakukan perjalanan ke Malang.

Perjalanan semakin indah saat melewati jembatan Kresek, sebagai penanda bahwa kita sudah sampai di daerah Kresek. Dengan latar gunung wilis dan suara air mengalir di bawah jembatan semakin membuat adem. Kami pun berhenti sejenak untuk mengabadikan momen sambil menikmati degan yang dijual di ujung jembatan.

pemandangan di Jembatan Kresek
Oke, perjalanan berlanjut ke Monumen Kresek.
Denah Monumen Kresek
Monumen ini dibangun untuk mengenang para korban kekejaman PKI di tahun 1948 silam. Terdapat beberapa spot yang dibangun untuk mengabadikan sebagian kepingan sejarah ini. 

17 nama korban tertulis di sini

Tampak depan

Pemandangan dari atas


Kekejaman PKI mengacungkan golok





Suasana sore
Selain tempat untuk menceritakan sejarah, monumen ini juga sebagai tempat rekreasi atau bersantai bersama keluarga. Tempatnya pun  ramah dengan anak-anak, karena terdapat taman bermain untuk anak. Meskipun monumen ini menceritakan tentang keganasan PKI tapi suasana yang ditampilkan tidak ada kesan menakutkan sama sekali, sehingga dapat membuat pelajar/anak-anak nyaman untuk belajar sambil bersantai di sini.

Semakin sore tempat ini semakin ramai didatangi pengunjung. Oh iya satu lagi, tempat sholat dan toilet di sini bersih.

Itulah sedikit cerita dari kunjungan saya dan keluarga di Monumen ini. Semoga bermanfaat 😉

Selamat lebaran dan berkumpul bersama keluarga besar 🙏😊


Note :
Tidak ada tiket masuk alias gratis.
Hanya ada pembayaran parkir kendaraan.

Sabtu, 14 April 2018

Cerita di antara Pagi, Siang, Sore, dan Malam


Siang, banyak cerita tersimpan yang kukira telah menghilang
ternyata, hanya tertutup bayang-bayang


Siang ini benar-benar panas, tidak hanya cuaca di luar tapi juga kepal beserta isinya. Aku pusing memikirkan ceritaku yang hilang. Sebenarnya aku tidak yakin cerita yang telah aku tulis itu masih ada di laptop putihmu atau tidak, tapi aku yakin tentang satu hal, bahwa kamu pasti akan menghapus ceritaku. Di saat seperti ini bukan laptop atau kamu yang aku khawatirkan, tapi cerita yang telah aku tulis dengan mengorbankan tiga puluh malam dengan hanya tidur tidak kurang dari dua jam setiap harinya. Aku takut. Benar-benar takut jika cerita itu akan benar-benar hilang. Kamu tahu pasti betapa aku membanggakan cerita itu kepadamu.


Aku mengubek kotak masuk email, barangkali kamu iseng telah mengirimkannya padaku tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Nihil, tidak ada pesan masuk darimu barang satupun. Mungkin semua akan lebih mudah jika aku masih bisa menghubungimu, menanyakan apa kamu masih menyimpan laptop putihmu.. ah bukan, lebih tepatnya apa kamu masih menyimpan ceritaku yang kutitipkan di salah satu folder datamu. Tapi, kamu telah memutus semua media komunikasi denganku sejak dua bulan terakhir ini.

Aku membutuhkan cerita itu, karena cerita itu belum selesai, masih menggantung. Aku harus segera membuat kalimat penutupnya agar cerita itu utuh hingga akhir, entah itu sad ending atau happy ending, aku belum memutuskannya. Sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mungkin buatku untuk menulisnya ulang, karena aku tidak mau menulis lagi cerita yang sama sebanyak dua kali. Kalaupun aku menulis, tentunya aku akan menulis cerita dengan tokoh dan alur cerita yang berbeda.


“Bip” suara notifikasi email masuk. Aku membukanya, karena tidak kenal siapa pengirimnya, hanya subjek email yang langsung menarik perhatianku.


lanjutkan ceritamu, Sekar.


Ada namaku tertulis di sana. Tidak ada pesan apapun di badan email selain tulisan sebuah nama. Aksara, dan sebuah lampiran file ceritaku yang ada di laptop putihmu. Meskipun aku tidak ingat pasti, aku yakin dulu aku telah membuat lebih dari 150 halaman, tapi tidak lebih dari 200. Sementara file cerita yang terbuka di hadapanku ada 212 halaman. Ada 50 halaman dengan cara penulisan yang aku kenal. Tulisan Aksara.


Perlahan aku membaca lima puluh halaman, hingga aku terpaku di kalimat terakhir pada paragraf penutup.


Sekar, ceritamu selama ini tidak hilang, masih utuh seperti sedia kala. ceritamu masih tentang aku, maukan kamu melanjutkan cerita itu lagi denganku?


***

Senja, bukan akhir untuk berpisah,
hanya pertanda bahwa esok akan tiba,
dan kita kembali bercerita


Senja, bukan akhir untuk berpisah, hanya pertanda bahwa esok akan tiba, dan kita kembali bercerita. Kutipan itu kamu gunakan untuk membuka paragraf baru, seolah hendak melanjutkan ceritaku yang belum selesai. Aku kembali membuka email darimu dan membacanya ulang. Duduk di kursi kerjaku menghadap ke jendela barat sambil menikmati tenangnya cahaya jingga sore ini, ditemani dengan secangkir kopi.


Lima puluh halaman yang kamu tulis seolah membuka alur ceritaku kembali yang sebenarnya hendak aku selesaikan dengan satu paragraf pamungkas. Tapi, kamu menambahkan cerita lain, mengajak pembaca terbang kembali menikmati cerita manis seperti di awal ceritaku. Dan aku tidak suka. Aku hanya ingin menyelesaikannya.

“Bip” bunyi itu terdengar lagi. Kubuka kotak masuk emailku. Dari kamu, Aksara.


Sekar,
bagaimana dengan lanjutan ceritamu yang aku tulis? apa kamu menyukainya? aku tidak yakin kamu akan menyukainya.
maafkan aku, Sekar. aku tidak bermaksud lancang untuk melanjutkan cerita itu tanpa persetujuanmu, tapi aku ingin cerita itu berakhir indah, seperti seharusnya.


“Berakhir indah apanya. Aku yang berhak memutuskannya” Aku menggerutu. Enak saja. Lalu kulanjutkan lagi membaca paragraf keduanya.


aku ingin kembali bersamamu, Sekar, kembali untuk melanjutkan cerita hidupku bersamamu yang belum selesai. oke, kamu pasti berfikir aku ini egois, setelah apa yang aku lakukan kepadamu aku dengan entengnya memintamu kembali bersamaku. maaf, aku benar-benar menyesal. aku berharap kamu bisa memaafkan aku.


Sebegitu pengecutnya kamu hingga kamu hanya berani mengirim email tanpa berusaha bertemu denganku dan menyampaikannya langsung. Aksara, kamu masih saja seperti dulu, egois.


sampai saat ini aku tidak berani bertemu langsung denganmu Sekar, bukan karena aku tidak ingin, tapi karena aku takut. aku memang pengecut. aku tidak berani menatapmu secara langsung setelah apa yang aku lakukan. karena itu melalui surat ini aku ingin meminta ijin kepadamu terlebih dulu, jika memang kamu berkenan, minggu depan ketika aku sampai di indonesia aku akan langsung menemuimu.


aku menulis surat ini di kala senja dengan semburat jingganya yang indah. Aku harap kamu pun akan membacanya di saat senja. Aku menunggu kabar baik darimu esok hari, saat hari baru dimulai.


Aku memandang matahari yang perlahan mulai menghilang.


***

Malam, ketika rindu masih tersimpan
di satu tempat yang nyaman
tanpa pernah terungkapkan


Dua bulan lalu…


Malam ini adalah malam yang di bulan yang kedelapan saat kamu pergi tanpa berpamitan langsung, hanya melalui pesan singkat kamu mengabarkan bahwa kamu telah memiliki cinta yang lain. Hatiku sakit sekali kala itu, tapi tidak sesakit malam ini yang aku tidak tahu kenapa bayangan tentang kamu masih saja muncul membawa rindu kepadamu, rindu yang hanya bisa aku simpan sendiri tanpa bisa kubagi dengan yang lain, apalagi denganmu.


Benar kata Dilan bahwa rindu itu berat, dan aku hampir saja tidak kuat. Akhirnya aku meletakkan rindu itu di satu tempat yang nyaman, ya hanya aku simpan saja tanpa pernah aku sapa lagi, agar beban rindu itu berkurang. Dan cara yang aku gunakan ini cukup berhasil. Rindu itu pun tidak tumbuh, tidak pula berkembang, rindu menetap dengan manis di salah satu ruang kosong. Biarlah dia di sana, tidak akan pernah lagi aku buka, kecuali kamu memintanya langsung untuk mengambilnya.
Malam ini…


Aku tidak tahu bahwa tempat nyaman itu tidak akan terbuka kecuali ada yang mengetuknya. Kamu melakukan itu di sore ini, saat aku menerima suratmu lagi setelah sekian lama. Rindu yang tidak terungkapkan itu sedikit bergerak, hanya sedikit karena ketukan darimu.

***


Pagi, ketika cerita mulai dicari
dan kembali untuk dibagi


Aku tidak pernah melewatkan dinginnya pagi. Selepas dua rakaat, aku duduk manis di atas atap rumah -dulunya hendak dibuat tempat menjemur cucian, tapi tidak jadi- di sana ada sebuah tempat kecil yang muat untuk satu kursi dan satu meja. Di situlah aku menikmati dinginnya pagiku.


Aku bangun pagi bukan karena ingin berlomba dengan ayam tetangga tentang siapa yang melek lebih dulu, si ayam jago atau aku. Ada beberapa alasan kenapa aku menyukai bangun di pagi buta. Pertama, aku ingin menjadi yang pertama mengucap syukur atas kehidupanku di hari yang baru. Kedua, banyak cerita yang ingin aku cari selama satu hari penuh dan aku tidak mau cerita itu kurang karena waktu sudah keburu malam dan aku harus kembali tidur, maka dari itu aku bertekad memulai semuanya jauh lebih awal.


Secangkir teh manis dengan kepulan asap dan baunya yang harum semakin menambah semangatku menanti pagi. Kupejamkan mata, membiarkan wajahku tersapu lembut oleh dinginnya udara. Kuhirup perlahan bau embun, aroma teh yang masih panas, serta bau tanah yang rupanya masih basah karena hujan semalam.


Matahari pagi mulai menyembul di balik perbukitan yang tampak jelas di tempat aku duduk pagi ini. Sinarnya mulai menyapa siapa saja yang menatapnya saat itu. Aku tersenyum, pagi ini benar-benar pagi yang berbeda.


Pagi ini rasanya satu tempat nyaman yang dulu ada sebongkah rindu kusimpan rapat-rapat di dalamnya kini menghilang. Lega. Aku telah membukanya, bukan untuk aku pupuk kembali agar tumbuh, tapi aku mengembalikannya.


Sesuai dengan apa yang diminta Aksara, aku telah membalas emailnya dini hari tadi. Aku menyetujui untuk melanjutkan kembali ceritaku, tapi tidak dengan ide ceritanya melainkan dari ide ku sendiri. Hanya butuh satu paragraf penutup bagiku untuk menyelesaikan cerita yang belum usai itu. Aku menerima permintaan maafnya. Ajakannya untuk kembali memulai cerita bersamaku aku artikan dengan keinginannya mengambil rindu yang telah aku simpan dengan baik-baik. Aku memberikannya dengan perasaan yang lapang.


Aksara, terima kasih atas semuanya, baik tawaranmu atau usulan ceritamu. betul sekali katamu bahwa cerita itu memang harus berakhir indah dan bahagia, namun kamu lupa satu hal bahwa standar kebahagiaan bagi setiap orang itu berbeda, pun denganku. Bagiku bahagia jika bisa mengakhiri cerita kita seperti ini.


Di pagi yang indah ini, mari sama-sama mulai mencari cerita kita masing-masing dan kembali membaginya dengan orang-orang tersayang kita. Kita mungkin akan melanjutkan cerita bersama-sama tapi di kertas dan jalan cerita yang berbeda. Nikmati pagi ini dengan bahagia, Aksara. Terima kasih.


Tidak ada rasa menyesal setelah membalas surat itu, karena memang demikianlah seharusnya tidak ada penyesalan. Kisah dalam hidup itu seperti saat kita sedang menjalani hari-hari, apa yang terjadi di pagi hari tidak selalu mempengaruhi yang terjadi nanti siang, sore, ataupun malam. Akan selalu banyak cerita berwarna di hari-hari yang kita jalani. Karena itu aku tidak pernah melewatkan pagi, akan selalu ada kesempatan berbeda di tiap pagi yang datang.

****

Rabu, 17 Januari 2018

Jejak


photo by : Renna


Sebatang rokok yang terselip diantara telunjuk dan jari tengah itu masih utuh. Sama sekali belum tersentuh api. Gelang hitam berseling merah yang terbuat dari tali itu juga masih menemani pergelangan tangan yang kini mulai menghitam terbakar matahari. Sepatu converse buluk yang entah kini telah berubah warna antara kuning muda, abu, tidak jelas apa warnanya padahal sepatu itu dulu putih bersih. Sudah pasti sepatu itu telah menemani pemiliknya berjalan bertahun-tahun hingga rupa sepatu itu sungguh miris.

“Nih korek!” seseorang menyodorkan korek api  kepadanya.

“Terima kasih Mas, saya tidak sedang ingin merokok.” Jawabnya sopan.

“Terus? Ngapain daritadi rokok itu hanya kamu pegang, diputer-puter diantara jemari?”  tanya orang itu yang merupakan seorang penarik becak. Dia menyalakan api dari pemantiknya didekatkan pada sebatang rokok yang hendak dihisapnya.

“Nggak apa-apa Mas, iseng saja, hehe..” tawa yang garing. Memperhatikan tukang becak yang sebenarnya masih muda, paling hanya beberapa tahun di atasnya. Tapi garis wajah yang tegas sekilas membuat orang itu tampak lebih tua.

“Lagi ada masalah?” tanya orang itu lagi yang entah hanya iseng bertanya atau lama-lama merasa terganggu dengan tingkah pemuda disampingnya yang sedari tadi hanya memutar-mutar sebatang rokok di tangannya.

“Aku Joni, tukang becak di sini.. terminal ini sepi bus sudah jarang mampir paling sehari hanya ada satu bus, beberapa penumpang angkot yang biasanya nunggu juga semakin jarang lewat di sini.” Dia menyesap lagi rokoknya. Lalu mematikannya, merasa tidak enak berbicara dengan orang yang baru ditemuinya dengan berhiaskan kepulan asap rokok. “Panggil aja aku Bang Joni” lanjutnya.

Pemuda disampingnya tersenyum, tercetak dua lesung di pipinya. “Saya Jejak.” 

Joni menunggu lanjutan dari kata-kata Jejak. Namun hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“Jejak? Kamu nunggu siapa di sini?” tanya Joni.

“Kenapa Abang di sini? Bukannya tadi Abang bilang kalau di sini sepi?” Jejak bali bertanya.

Joni tertawa, lalu beranjak ke toko penjual minuman yang berada di sebelah tempat mereka duduk. Tak berapa lama Joni kembali membawa dua buah botol minuman jeruk dingin. Mengulurkan satu untuk Jejak. Awalnya Jejak heran, memangnya raut mukanya terkesan sangat kehausan dan tidak sanggup membeli minuman? Oh, separah itukah wajahnya siang ini?

“Aku tahu kamu punya banyak uang, aku membelikan ini bukan karena mengasihanimu, tapi aku anggap kamu adalah tamu di sini.” Seolah Joni paham yang sedang dalam pikiran Jejak.

“Eh, iya, Makasih Bang.” Jejak membuka botol dan meneguk sedikit isinya. 

“Ah... segarnya.” Joni hampir menghabiskan satu botol dalam sekali tegukan. “Kamu tadi bertanya kenapa aku masih tetap menunggu penumpang di sini walaupun terminal ini sudah sepi?” Joni menoleh ke arah  Jejak.

Jejak mengangguk.

“Aku memang sedang tidak menunggu penumpang di sini, tapi aku sedang menunggu istriku. Dia pergi merantau tiga tahun lalu. Dia berkata akan pulang dua bulan sekali setiap hari pasar rame, kamu tahu, di daerah sini setiap dua bulan sekali akan ada pasar rame, pasar dimana penjual dan pengunjung berasal dari beberapa daerah dan berkumpul di balai desa. Ramai sekali. Istriku memintaku untuk menunggunya di tempat keberangkatannya dulu, yaitu di terminal ini...”

Jejak seksama mendengarkan cerita Joni.

“.....dia melakukannya di tahun pertama, mulai jarang di tahun kedua, dan hingga tahun ketiga ini dia tidak pernah datang.” Lanjutnya.

Jejak hanya menatap laki-laki disampingnya, bingung harus mengatakan apa.

“Jadi, karena aku telah berjanji kepadanya untuk selalu menjemputnya,  maka di sinilah aku sekarang, menunggunya dengan becak kesayanganku.”

“Tapi Bang, bagaimana kalau istri Abang tidak pernah datang?” tanya Jejak, yang langsung dibalas dengan tatapan dari Joni.

“Eh, maksud saya bukan seperti itu Bang.....” buru-buru Jejak meralat pertanyaannya.
Joni menepuk ringan bahu Jejak, seolah mereka adalah dua sahabat yang sudah lama akrab. “Ya, aku tahu maksud pertanyaanmu. Jangankan kamu yang baru bertemu denganku, di sini setiap hari, semua orang yang ada di terminal ini selalu menanyaiku bahkan mereka menganggapku laki-laki bodoh yang mau saja menunggu istrinya yang sampai saat ini satu suratpun tidak pernah kudapat.”

“Lalu....?”

“Lalu?” Joni mengulangi pertanyaan Jejak. “Lalu seperti yang kamu temui siang ini, aku masih di sini menunggunya. Karena aku telah berjanji, aku tidak bisa mengingkarinya.”
Jejak tiba-tiba teringat dia pernah berjanji pada seseorang.

“Jejak, kamu tahu hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian, hanya sebuah kematianlah hal yang pasti. Tapi kamu akan menemukan suatu kepastian jika kamu menepati setiap perkataan yang telah kamu ucapkan.”

Jejak pernah berjanji kepada seseorang untuk kembali.

“Aku telah berjanji pada istriku untuk menunggunya, maka sebisa mungkin aku menepatinya hingga aku mendapat suatu kepastian, meskipun kepastian itu adalah untuk selalu menunggu. Aku tidak bisa menyalahkan istriku yang telah melupakan janjinya hingga membuat kepulangannya seolah-olah tidak pasti untukku, karena hal itu biarlah menjadi urusannya yang terpenting aku akan tetap di sini untuk menunggunya.” Joni menyilangkan kakinya

“Kamu tahu, jangan pernah mengubah dirimu hanya untuk dicintai oleh orang lain, cukup perbaiki apa yang ada di dalam diri kamu sehingga jika suatu saat nanti orang yang pergi darimu itu kembali, kamu masih menjadi orang yang sama dimatanya.” Joni mengedarkan pandangan. “Karena tidak selamanya menunggu itu membosankan, kadang terselip pula satu titik kebahagiaan yaitu KEMBALI. Dimana kembalinya kita sangat dinanti-nantikan oleh semua orang yang menunggu kita.” Lanjutnya.

Mata Joni tampak berbinar, dari kejauhan tampak seorang perempuan turun dari sebuah bus antar kota kemudian berjalan menuju ke arahnya. 

Jejak turut beranjak, menyambut kehadiran istri Joni. Setelah berbasa basi singkat Jejak melangkahkan kembali kakainya, menuju ke rumah yang telah dua tahun ini hanya ada dalam angan-angannya saja, seseorang yang mungkin masih tetap sama menunggunya untuk pulang seperti apa yang dilakukan Bang Joni terhadap istrinya.
***
Rumah penuh tanaman itu masih sama seperti dua tahun lalu, rindang dengan mawar yang tetap cantik.