Senin, 20 Februari 2017

Pantulan Kaca






Sore ini mendung yang menggantung. Aku baru saja memperhatikannya setelah sejak dua jam yang lalu aku duduk di sini menikmati dunia khayalku, membiarkannya menjelajah hingga jauh tak terjangkau. Dua jam lamanya, entah mengapa ide-ide itu muncul dengan sangat derasnya padahal hujan sore ini pun belum sempat turun walaupun awan sudah gelap. Aku berbahagia, karena tangan ini bisa dengan lincahnya mengutarakan apa yang hendak dikatakan oleh pikiran.

Tarian jemari di atas keyboard laptop putih ini terhenti saat kilatan cahaya langit menembus jendela. Jepretan alam.

Dan akhirnya
rintik hujan mulai turun. Awan sudah tak mampu lagi menampung ribuan liter buliran air.

Aku
menghentikan semua aktivitas dan hanya menatap jalanan melalui kaca jendela yang mulai mengembun, tertutup bulir-bulir air hujan. Aku melihat wajahku yang terpantul melalui kaca jendela.

Oh, tidak hanya wajahku saja yang nampak, tapi sekeliling pengunjung kedai yang ada di belakangku juga
nampak di sana, melalui pantulan kaca jendela. .

Dari pantulan kaca jendela di kedai ini pula terlihat beberapa orang yang datang dan pergi, ada yang sejenak sekadar menghabiskan semangkuk es krim, ada yang sedikit lebih lama ditemani secangkir teh dan sebungkus roti, bahkan ada pula yang tinggal cukup lama dengan secangkir kopi, kentang goreng, beberapa biskuit dan obrolan hangat.

Aku tersenyum, seolah aku melihat masa lalu melalui pantulan kaca itu dimana banyak orang yang hadir dan pergi di kehidupan kita. Ada yang sebentar, ada juga yang lama.

Yang lama, di saat seseorang itu selalu ada di setiap kali kejadian hidup kita, bahagia, sedih, si pencinta, pemberi perhatian, pengumbar janji yang hingga pergi pun janji itu tak kunjung ditepati. Padahal dia adalah salah satu pemberi kenyamanan selain kenyamanan dalam pelukan ibu. Sialnya aku telah berharap banyak padanya. Namun, tanpa sepatah kata pamit dia menghilang.

Yang sebentar, seseorang tiba-tiba datang tanpa disangka-sangka. Ah, apa ini namanya kejutan dari Tuhan? dia, yang hadir tanpa janji-janji manis namun dengan segala kemampuannya berusaha membahagiakanku dengan caranya yang sederhana. Dan aku menyukainya. Namun Tuhan memang Maha Perencana yang Baik yang kemudian menyandingkanku dengannya meskipun tak lama kemudian dia harus berpulang kembali pada-Nya.

Perkaranya bukan seberapa lama mereka ada di kehidupan kita, tapi seberapa banyak warna yang telah dilukiskan di cerita hidup kita. Itulah yang nantinya akan membekas sebagai sebuah kenangan.

Kuseruput lagi cokelat panas di mejaku, sebelum akhirnya kulanjutkan lagi cerita yang belum pernah usai. Cerita tentang kamu, Sore.

***

Note :
ditulis untuk #30HariBercerita di Instagram beberapa waktu lalu

Rabu, 11 Januari 2017

Menjadi Tua

dok. pribadi

Angin sore semilir menerbangkan dedaunan kering di atas bukit ini. Aku telah berada di sini sejak dua jam lalu. Menunggu senja sambil melukis adalah kegemaranku yang tidak pernak berubah sampai saat ini.


"Bagaimana jika aku menjadi tua nanti? Apakah kamu masih akan tetap bersamaku?"
Suara itu menghentikan sapuan kuasku.

 "Bukannya memang seharusnya aku bersamamu sampai mati?" Ujarku. Bukan hanya karena janji yang pernah aku ucapkan saat menikahinya dulu, tapi ini memang janjiku sendiri kepadamu, perempuan yang aku sayangi lebih dari apapun.

Perempuan itu tersenyum padaku.

Aku bergeming. Kuarahkan lagi kuas dengan warna jingga ke kanvas di depanku.
 Kugambar senja yang indah disini. Karena kami berdua memang penikmat senja mulai dari jaman kami berpacaran dulu hingga saat ini.

"Kalau aku jadi jelek? Keriput? Gigiku  ompong semua, apa kamu masih tetap mencintaiku?"
Perempuan ini memang sangat cerewet.

Tidak ada yang lebih cerewet daripada dia. Rumah kecil kami adalah kerajaan kecil dengan dia sebagai ratunya. Ketiga anak kami adalah pangeran-pangeran yang tidak pernah sekalipun membantah apa yang dititahkan oleh yang mulia Ratu, apapun yang dilakukan Ratu adalah demi kebaikan kerajaan kecil kami dan semua di bawah pengawasanku yang hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Ratu kami begitu antusiasnya menerapkan aturan ini-itu, karena di tangan Ratu inilah kerajaan kecil kami menjadi sebuah kerajaan yang bahagia.

"Iya" Jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari kanvas.

"Hmm... kalau aku tidak bisa berjalan lagi? Apa kamu siap untuk menggendongku kemanapun aku ingin pergi?" Tanya dia lagi, kali ini tanpa menoleh ke arahku. Aku menoleh ke arahnya, kulihat  dia sedang asyik memainkan ilalang di tangannya.

"Kemanapun itu." Aku menyapukan warna coklat di beberapa bagian pada lukisanku. Lagi, tanpa menoleh ke arahnya.

Dia memegang tanganku, "kalau aku sudah pikun, tidak bisa lagi mengingat siapa kamu, apa kamu masih mengingatku?"

Kali ini kuhentikan sapuanku, kuletakkan kuas kecil yang sudah belepotan warna abu-abu itu kembali. Kuraih tangannya, kugenggam.


Kuamati wajahnya yang sudah penuh keriput. Dia tersenyum saat aku memegang pipinya. Senyumnya masih semanis dulu meski kini tanpa satu gigipun tertinggal di sana. Rambutnya yang berwarna abu-abu juga masih halus seperti pertama aku mengenalnya.

"Kamu siapa?" pertanyaan itu selalu menjadi penutup dari sederet pertanyaannya tadi. Dan serangkaian pertanyaan tadi entah sudah menjadi pertanyaan yang ke berapa kalinya sejak satu tahun terakhir ini.

"Aku teman hidupmu. Sudah jangan paksa untuk mengingat siapa aku, cukup aku saja yang tahu siapa kamu." Aku beranjak, menggendongnya, bersiap untuk menuruni bukit ini.  Pagi tadi ketika aku sedang membuatkan bubur untuk sarapan kami, dia berkata ingin melihat senja sore nanti di atas bukit ini.

"Kakek, sini biar Sore yang bantu bawa lukisannya!" Sore mengamati lukisan Kakeknya. Kanvas yang tadinya putih itu kini telah terlukis dengan sangat sempurna sepasang teman hidup berusia senja duduk bersama di bawah pohon rindang menikmati senja.

-----------------------------------------------

*cerita ini adalah pengembangan dari cerita di proyek ngeblog di instagram saya

Rabu, 04 Januari 2017

30 Hari Ngeblog di Instagram di Januari 2017

Selamat tahun baru 2017 :D
Seperti biasa seiring datangnya tahun yang baru, tentunya banyak deretan resolusi yang akan dicapai di tahun 2017 ini kan? hehe...
Nah salah satu resolusiku di awal bulan Januari 2017 ini adalah dengan mengikuti ngeblog alias nulis cerita apapun lewat Instagram yang diaadkan oleh akun @30haribercerita di Instagram.

Niat awal untuk mengikuti ini adalah agar disiplin menulis. Biar otak terus mencari inspirasi setiap harinya, jadi ide-ide yang tiba-tiba didapat bisa langsung dituliskan melalui instagram. *etttdaaah :D

Biarpun cerita yang ditulis di instagram temanya bebas dan dengan gaya apapun, aku memiliki konsep tersendiri yaitu cerita yang aku tulis nantinya adalah sekumpulan cerita fiksi dengan tokoh utama Sore, aku merangkumnya dalam hastag #Serialsore.

inilah project ajakan 30 Hari Bercerita dari Ig @30haribercerita
#Serialsore yang aku buat akan terbit setiap harinya di instagramku di akun @pebe_pebe yang nantinya cerita singkat yang ada di Instagram itu akan aku kembangkan menjadi sebuah cerita pendek di blog ini. Yaa, itu-itung buat ngisi blog ini yang selama tahun 2016 aku sangat jarang nulis di blog. heheheh.
Semoga masih terus ada inspirasi buat nulis selama 30 hari ke depan. :)

Jadi, bagaimana cerita #SerialSore yang aku ikutkan dalam 30 hari bercerita? Kunjungi saja instagramku di @pebe_pebe kritik dan saran akan dengan senang hati ditampung. Terima kasih. Selamat membaca cerita #SerialSore :D

Rabu, 09 November 2016

Pagi diantara Padi, Belalang, dan Awan

dok. pri

Mentari pagi bersiap untuk segera beranjak dari tempat peraduannya. Cahaya kuning dari timur sudah mulai tampak, sedikit demi sedikit menyembul di balik padi yang sudah mulai meninggi. Tidak ada yang membenci kehadiran sang Mentari.

Awan putih mulai menampakkan dirinya ketika matahari mulai meninggi, tidak ada yang mampu menghalangi putihnya awan selain pekatnya mendung yang mengubah keceriaan menjadi kesedihan.

Semilir angin menggoyangkan ujung-ujung tanaman padi, sebuah sapaan pagi dari angin bahwa hari ini dia akan selalu ada memberikan kesegaran kepada setiap makhluk bumi. Seekor Belalang hinggap di salah satu ujung daun padi yang tampak mulai berisi, masa panen akan tiba beberapa waktu lagi.

"Jadi, bagaimana kabarmu Belalang?" bisik Padi, ujung daunnya semakin bergoyang saat Belalang menghinggapinya.

Belalang masih mengatur kembali nafasnya, pagi ini matahari memang bersinar lebih terang, membuatnya lebih letih dari biasanya.

"Kabarku baik, syukurlah masih bisa berjumpa dengan kalian pagi ini." Ucapnya memicingkan mata menatap matahari pagi. "Sinarmu pagi ini begitu kuat, ada apa gerangan? apa hari ini kamu sedang bahagia?" Tanya belalang kepada Mentari.

"Ha ha ha..!! Ya hari ini aku berbahagia sekali, lihatlah awan bisa menjadi putih jika aku terang seperti ini!"

Sang Awan tersipu, pagi ini memang dia seputih kapas yang berterbangan menghiasi langit biru.

"Belalang, apa padi yang kamu lihat di sawah lain juga sama seperti aku?"

Belalang tertawa, bagaimana mungkin tanaman berbeda, bentuk tanaman padi dimana-mana juga sama

"Belalang, diantara kita hanya aku yang tidak dapat berpindah dan berkeliling mengunjungi tempat-tempat indah, berkelana kesana-kemari" Celetuk Padi. "Jadi bisakah kamu bercerita kepadaku bagaimana gambaran dunia luar, bagaimana binatang yang terbang lain, bagaimana sawah di tempat lain." Lanjutnya.

"Jangan pernah bersedih hanya karena kamu tidak berpindah, kamu tetap tumbuh Padi!" Jelas Belalang.

"Iya, tapi aku akan tetap di sini dari pijakan pertama tanpa tahu bagaimana suasana di luar sana, tidak seperti kamu yang bisa terbang dengan bebas, matahari yang mengelilingi bumi setiap hari, dan kamu awan yang menghiasi langit dengan warnamu yang bersih. Sementara aku?"

"Hidup tidak akan pernah sama setiap harinya, kamu akan tumbuh berhenti sejenak pada pijakanmu, akan datang waktunya kamu akan beranjak. Percayalah hidup sudah ada yang mengatur. Kamu memang tidak langsung melihat dunia luar tapi dengan adanya kami di sini seolah kamu bisa berkeliling.." jelas Mentari

"Coba lihat, ketika orang-orang di luar sana merasakan hangatnya matahari senja, kamu di sini juga merasakan hangat yang sama bukan? lalu ketika malam bertabur bintang, kamu juga masih bisa memandangnya kan?...." Tambahnya

"Saat mendung menggelayut hitam, kamu juga akan merasakan hujan yang turun setelah beberapa saat kusimpan, air hujan yang mengguyur sekujur badanmu akan selalu sama dimanapun.." Lanjut Awan.

"Iya, tapi aku tidak bisa melihat hewan dan manusia lain dengan beraneka rupa dan bentuk"

"Sekarang coba aku tanya, siapa yang membajak tanah tempat kamu tumbuh? Siapa yang menanam benih, menyemai pupuk, hingga kamu tumbuh dan semakin berisi seperti ini? Manusia. Setiap hari kamu bertemu mereka, kamu yang menjaga kebutuhan mereka hingga mereka dapat melangsungkan hidup beranak pinak, ya mereka adalah manusia. Jika telah tiba waktunya mereka akan memanen dan mengolahmu sedemikian rupa hingga kamu berubah menjadi sebutir beras saat itulah giliranmu untuk berkeliling, menjadi kebutuhan utama makhluk hidup lain, saatnya kamu bisa melihat  dan memberi manfaat pada manusia di luar sana" Mentari  mencoba memberi pengertian kepada Padi.

"Baik Mentari maupun Awan memang tidak tumbuh seperti kita, makhluk hidup, tapi mereka bagian dari hidup kita yang tidak terpisahkan. Mereka akan mengiringi kita tumbuh, tua, kering, mati, hingga muncul kehidupan yang baru lagi." Jelas Belalang.

Padi teringat petani yang menancapkan kehidupan awal padanya melalui sebutir benih, memupuknya, menjaganya setiap hari dari serangan tikus dan hama. Padi juga memahami apa yang dikatakan Mentari, Awan, dan Belalang bahwa tidak semua kehidupan berlangsung sesuai keinginan kita, perubahan memang akan selalu terjadi dan ada saat dimana kita harus berhenti sejenak mengamati sekitar bahwa kita hidup tidak sendiri ada lingkungan yang menyeimbangkan kita, saling melengkapi, hingga datang suatu masa dimana kita harus beranjak untuk melanjutkan hidup dan memberi manfaat di tempat yang baru.

****


Senin, 07 November 2016

Dua Hari Keliling Blitar - part 2

Hari kedua di Blitar.

Rencana di hari kedua ini adalah mengunjungi Candi Penataran, Istana Gebang, dan sebuah tempat yang katanya sedang 'Hits' di Blitar yaitu Kampoeng Coklat, heuheu. Namun lagi-lagi yang menjadi kendala adalah bagaimana cara kami untuk menuju tempat-tempat tersebut mengingat tidak ada kendaraan umum yang bisa digunakan. Baiklah kami akan memikirkannya sambil sarapan pagi yang sudah disediakan di hotel ini :D

Balkon Lantai 2
Setelah sarapan, kami memutuskan untuk mencari rental mobil lewat google, siapa tahu ada yang 'nyantol'  :p, beberapa nomor kami hubungi hingga akhirnya mendapatkan satu nomor yang menyediakan jasa 'muter-muter' kota Blitar + driver. Jam delapan pagi kita sudah beberes sekalian check out dari hotel. Tujuan pertama Candi Penataran.

Pelataran candi Penataran
Foto dari Candi Induk






Sekitar satu jam kami mengelilingi candi, cuaca siang yang panas membuat kami tergoda dengan es dawet yang jual di warung seberang pintu masuk candi, jadi yaa mapirlah kita heuheu....

Istana Gebang, tampak depan
Tujuan kedua sebelum kembali pulang ke Surabaya adalah Istana Gebang, yang merupakan rumah masa kecil Bung Karno. Jam buka Istana gebang ini mulai pukul 07.00 - 17.00 WIB. Saat masuk akan dikenakan biaya retribusu sebesar Rp 2.000,- lalu mengisi buku tamu. Alas kaki wajib dilepas.
Di halaman depan sebelah kiri terdapat Gong perdamaian. Mengelilingi rumah ini berasa kembali ke masa dimana masih ada keluarga Bung Karno, karena semua peralatan dan perabotan masih ada dan tertata rapi. Banyak foto-foto Bung Karno dan keluarga besarnya yang dipajang di setiap ruangan seolah menceritakan perjalanan hidup keluarga ini.

Gong Perdamaian

ruang tamu depan

bilik kamar



Ruang Keluarga

tempat penyimpanan perkakas
foto orang tua Bung Karno (Raden Sosrodihardjo dan Ida Ajoe Njoman Rai)

Raden Roro Soekarmini dan Raden Soekarno
Di dalam rumah suasana terasa sejuk, semua benda yang terdapat di dalam rumah ini boleh diabadikan asal sesuai dengan peraturan yang tertera di setiap ruangan, misalnya seperti pada bilik kamar pengujung dilarang duduk di atas kasur.
Garasi mobil Bung Karno
Di halaman luar terdapat pementasan seni tradisional jaranan pegon, sehingga suara musik gamelan mengiringi perjalanan mengelilingi Istana gebang ini.

Saya berfoto dengan salah satu penari cilik :D
Sebenarnya kami ingin melihat pertunjukkan seni tersebut, tapi setelah tanya kepada salah satu penari bahwa jadwal pementasan mereka baru jam satu siang nanti, kami mengurungkan niat karena harus segera beranjak ke tujuan selanjutnya agar sampai di Surabaya nanti tidak terlalu malam. huhuhu :(

Baiklah kami segera menuju ke tujuan terakhir, yaitu Kampoeng Coklat.
Saya tidak sempat mengabadikan foto yang baik saat di Kampoeng Coklat karena suasana pada Minggu siang itu sangat ramai, berjubel, bahkan parkiran yang di buka di rumah-rumah penduduk sekitar pun sudah penuh dengan kendaraan.

Di dalam suasana kebun coklat memang terasa mengingat tempat duduk ala foodcourt berada tepat di bawah pohon coklat. Makan siang yang dijual di sini pun tidak mahal, dengan penyajian ala prasmanan kita memilih dan mengambil sendiri mulai dari nasi, lauk pauk yang tersedia kemudian nanti dibawa ke bagian kasir untuk dihitung jumlah yang harus dibayar. Menurut saya harga dan makanan di sini sebanding karena rasanya pas di mulut orang Surabaya seperti saya ini. Lalu sebagai bukti kalau pernah ke sini tak lupa membeli minuman rasa coklat original dan oleh-oleh beraneka macam coklat.

Pukul dua siang kami tiba di terminal Patria, sambil menunggu bus kami istirahat dan sholat di mushola terminal. Mushola cukup bersih dan dingin. Syukurlah bus yang dinantikan tiba tidak lama kemudian, dan beruntungnya lagi kami menjadi penumpang pertama yang naik sehingga bisa bebas memilih tempat duduk. Hehe :D Saatnya menikmati perjalanan sore kembali ke Surabaya.


**Part 1 bisa dibaca --> http://shespebe.blogspot.co.id/2016/11/dua-hari-keliling-blitar.html