Jumat, 10 Februari 2012

My Great 22nd Anniversary with My Great Family

Bukan pesta yang mewah, hanya sebuah perayaan kecil di hari ulang tahunku yang ke-22 bersama seluruh keluarga besar. Sebuah acara jamuan makan sederhana yang sangat istimewa karena dirayakan bersama keluarga besar.

Bertempat di rumah makan Warung Apung Rahmawati yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Tempat ini sangat strategis, karena selain dekat juga menyediakan lesehan yang cukup luas bagi keluarga besar kami, 25 orang.

Terima kasih buat mbak, adik, pak de, bud he, om, tante atas semua doa, kue, dan kadonya, he he…
You’re all such a great family, love ya :)

Inilah beberapa moment spesial yang kami abadikan..
say ceess...

terima kasih kuenya :)

makan yuuk :p


w/ the whole family :)


Kamis, 09 Februari 2012

Cerpenku -Aku Tak Bisa Mengungkapkannya dengan Kata-Kata-

Aku Tak Bisa Mengungkapkannya dengan Kata-Kata

Aku pernah melihatmu. Aku pernah mengenalmu. Dan aku jatuh cinta kepadamu.

Aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata bahwa aku mengagumimu, aku hanya bisa menuliskannya di sini, secarik kertas. Aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata bahwa kamu selalu ada dalam mimpi-mimpiku.

Kamu, yang bisa membuatku tersenyum sendiri jika mengingatmu. Bayanganmu, yang mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan. Kamu, yang ada di lubuk hati paling dalam. Aku tak peduli orang bilang aku gila. Ya, memang aku gila karena mencintaimu.

Kamu juga tidak bisa mengungkapkan cintamu dengan kata-kata, namun aku tahu lewat bahasa tubuh dan perhatianmu kepadaku aku tahu bahwa kamu juga mencintai aku sama seperti aku mencintaimu.

Kamu, yang pada akhirnya menjadi labuhan terakhir cintaku, kita menjadi pasangan yang sangat unik, meskipun aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata bahwa aku mencintaimu, aku hanya bisa menulisnya di secarik kertas.

Kamu yang menjadi ayah sekaligus suami terbaik untukku, di sepanjang sisa hidupku yang mulai berkurang karena digerogoti penyakit yang mematikan ini. Kamu selalu ada di saat-saat aku terbaring lemah di ruang yang serba putih ini.

Hanya kamu yang memahami apa yang akan aku inginkan. Kamu, yang selalu mengantar buah hati kita ke sekolah, sementara aku hanya bisa berbaring dan mengangis di sini.

Aku hanya bisa mengucap syukur kepada Tuhan karena Dia telah mengirimkan pangeran penjaga hati untukku. Hingga sebelum aku menutup mata ini untuk selamanya aku hanya ingin kamu membaca setumpuk kertas ini yang mengungkapkan betapa bahagianya aku menjadi istrimu. Karena aku tahu aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata bahwa aku mencintaimu, aku hanya bisa menuliskannya di sini, secarik kertas yang berisi rangakaian kata yang menerangkan betapa aku sangat mencintaimu, rangkaian kata-kata yang kutulis dengan penuh cinta.

Aku juga tahu, kamu memang tidak sempurna, begitu pula denganku, semoga kelak kita dapat menyempurnakan cinta kita di sini, aku menitipkanmu dan putri kecil kita pada Tuhan, semoga kalian bahagia di dunia ini.

Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa mengunkapkannya dengan kata-kata.

Kamis, 02 Februari 2012

Cerpenku -Bulu Mata Ayah-

Bulu Mata Ayah

Pagi ini menunjukkan pukul 04.30 WIB, alarm jam bekerku berdering. Dengan mata yang masih mengantuk aku beranjak dari tempat tidurku yang hangat ini menuju kamar mandi, membersihkan tubuh sekaligus mengambil air wudhu. Segera aku menunaikan kewajibanku kepada Yang Maha Esa. Dalam do’aku kuselipkan permohonan yang tidak pernah alpa kupanjatkan dalam setiap sujudku kepada-Nya, yaitu kebahagiaan dunia akhirat bagiku dan ayahku, satu-satunya yang aku miliki di dunia ini, karena kata ayah ibu telah meninggalkan kami demi mencari kehidupan yang lebih baik dibandingkan hidup sederhana dengan anak dan suaminya ini. Setelah menunaikan kewajibanku pagi ini aku mempersiapkan sarapan pagi untukku dan ayah. Sebenarnya aku tidak perlu mempersiapkan sarapan sepagi ini, karena ayahku bukanlah seorang yang pergi ke kantor tepat pukul 7 pagi, dia hanya seorang pekerja serabutan pergi bekerja jika memang ada pekerjaan. Sementara aku walaupun aku harus pergi sekolah pagi ini, tapi aku sudah terbiasa jika memang keadaan di rumah ini mengharuskanku untuk tidak sarapan.

Usiaku baru menginjak 17 tahun awal bulan kesembilan ini, kelas 2 SMA. Kalau bicara soal memasak aku lumayan jago, hal ini bukan karena aku diajari masak oleh ibuku, tapi justru yang mengajariku masak adalah ayah. Ayahku memang jago sekali memasak. Dulu, sewaktu ibu masih bersama kami ayah yang selalu memasak sarapan dan makan malam untuk kami bertiga, senang sekali membayangkan kenangan makan malam bertiga bersama ayah dan ibu. Kalau boleh aku bilang, ayahku memang lebih luwes daripada ibu.

Pagi ini ayahku terlihat sedikit lesu, ada lingkar hitam di bawah matanya, kecapekan mungkin karena semalam aku tidak tahu dia pulang jam berapa, aku sudah tidur. Tapi tunggu, kenapa ada yang aneh di sekitar matanya. Aku diam-diam mengamatinya, sepertinya itu bukan lingkar hitam mata yang biasanya kurang tidur, tapi itu seperti bekas maskara yang luntur di kantung mata. Apa iya ayah memakai maskara atau make up lainnya? Lalu untuk apa ayah berdandan?.

Karena penasaran , malam berikutnya diam-diam aku memergoki ayah memoles wajah gantengnya dengan lihai. Mulai dari sapuan bedak, goresan alis, lipstik, dan yang paling membuatku kaget adalah ayah menggunakan bulu mata yang lentik, aku hana bisa mematung melihat ayah berdandan , aku tidak menyangka selama ini ayah berbohong padaku dengan mengatakan bahwa dia bekerja di bongkar muat pelabuhan, tapi nyatanya, malam ini dia memoles wajahnya hingga begitu cantik dengan bulu mata lentiknya.

“ Ayah?” aku mendekatinya dan berkata lirih.
Ayah melonjak kaget hingga botol maskaranya jatuh.
“ Jane…” katanya terbata. “Ayah.. ayah ..”
“ Apa maksud ini semua, Yah?”

Akhirnya Ayah menjelaskan semua nya, dia menjadi seorang penari di sebuah kafe, sebenarnya pekerjaan itu sudah dilakukannya sejak masih lajang, lantas sempat berhenti semenjak bertemu dan menikah dengan Ibu, namun ayah kembali melakukannya karena memang tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain menari, dan ternyata karena keluwesan dan gaya kemayu ayah itulah yang menjadi alasan ibu meninggalkan kami. Ayah masih tidak bisa mengubur kenangan masa lalunya.

Senin, 09 Januari 2012

Cerpenku -100hari-

Hari ke 5,
Di hari yang ke lima aku masuk ke kelas ini, aku baru melihatnya. Dia yang berbaju biru, duduk di arah jam 3 dari tempat dudukku. Hari ini aku baru menyadari keberadaannya.

Hari ke 15,
Dia masih disana, duduk di tempat yang sama seperti hari-hari kemarin, arah jam tiga dari posisiku sekarang ini. Dia menoleh ke arahku, menatapku sejenak.

Hari ke 20,
Entah sudah ke berapa kalinya aku meliriknya, menatap wajahnya dari samping, dia menatapku, hanya menatap, tanpa senyum di bibirnya. Hari ini dia tampak keren sekali dengan kemeja warna biru, lagi-lagi warna biru, aku yakin dia pasti salah satu penyuka warna langit itu.

Hari ke 27,
Aku tidak percaya, sudah hampir satu bulan aku belum mengenalnya. Padahal setiap hari kami berada di kelas yang sama, apakah aku terlalu sombong?, tapi yang jelas aku tak pernah absen melihatnya, tubuh tingginya.

Hari ke 30,
Tepat satu bulan, dan aku juga belum mengenalnya, oke, sebenarnya aku tahu namanya sejak jauh-jauh hari, hanya saja aku pura-pura tidak tahu. Dia melihatku, seperti biasa hanya melihat.

Hari ke 34,
Dalam kelas ini, dia tidak pernah duduk di dekat bangkuku, karena dia selalu duduk di tempat yang sama setiap harinya. Dengan gayanya yang cool menurutku, dia memasuki kelas dengan tas ransel. Ya Tuhan, kenapa sulit sekali bagiku untuk mengenalnya. Padahal rata-rata aku sedah mengenal teman baruku di kelas ini, kecuali dia.

Hari ke 38,
Hari ini dia tidak masuk kelas, I hate today!

Hari ke 43,
Sampai saat ini pun aku belum berani untuk berkenalan dengannya. L

Hari ke 50,
Ya Tuhan, kenapa semakin aku melihatnya semakin aku merasa sulit untuk berkenalan dengannya?. Tuhan, aku tidak meminta dia untuk menjadi jodohku, aku hanya ingin berkenalan dengannya, tapi kenapa ini sangat sulit? 50 hari sudah aku hanya berani melihatnya dari sini, dari tempat dudukku, dan dia masih di tempat yang sama, arah jam 3 ku. Oh ya satu lagi, selama 50 hari ini aku tidak pernah menceritakan kekagumanku pada makhluk Tuhan yang keren itu kepada teman-temanku. Sungguh. Entah kenapa aku merasa tidak berani untuk sekadar menceritakan, tapi apa mungkin itu menjadi penyebabnya hingga aku sulit untuk berkenalan dengannya?

Hari ke 55,
Nothing’s happened. Soalnya aku tidak masuk kelas. Pengennya sih masuk, tapi mau gimana lagi ada saudaraku yang menikah, jadi yaa terpaksa tidak masuk. Rugi banget, bukan rugi karena tidak masuk kelas tapi karena rugi tidak melihatnya hari ini.

Hari ke 58,
Oh.. God, it must be crazy, mimpi apa aku semalam dia duduk di depanku, ya, baru kali ini aku duduk sedekat ini. J

Hari ke 60,
Sebenarnya dia nggak ganteng-ganteng banget, tapi dia menarik, bagiku, aku nggak tahu dengan yang lain. Menurutku dia proposional banget, keren. It may make me be his secret admirer. Dan satu lagi kemeja biru yang membuatnya lebih di mataku.

Hari ke 65,
Hari ini di kelas ada tugas kelompok, dan ternyata aku satu kelompok sama dia, yeeayy… ada kesempatan untuk berkenalan dengannya. Dia menjulurkan tangannya untuk berkenalan, ya Tuhan sumpah demi apapun aku nggak akan mencuci tanganku ini, he he tapi itu tentu nggak mungkin.

Hari ke 69,
Sejak perkenalan kemarin, dia sekarang mulai duduk disebelahku. Can’t describe how happy I am. Hari itu di kelas aku tidak konsentrasi belajar, karena sibuk mengobrol dengannya, walaupun itu membuatku dilempar tutup spidol oleh dosenku.

Hari ke 73,
Setelah bubaran kelas dia mengajakku makan, hi hi hi bahkan sebelum aku berkenalan dengannya aku tidak pernah memimpikan makan bersamanya.

Hari ke 75,
Entah kenapa sejak perkenalan itu kami semakin dekat, bahkan seperti sudah lama berkenalan. Ada satu rahasianya yang baru diceritakannya hari ini ternyata dia juga sudah tahu namaku sebelumnya, apa jangan-jangan dia juga menjadi gila sepertiku karena sangat ingin berkenalan dengannya?.

Hari ke 80,
Ternyata benar, dia sebenarnya ingin berkenalan denganku sejak dulu, syukur deh berarti tidak hanya aku yang menjadi gila waktu itu. Setelah mengenalnya ternyata dia jauh lebih KEREN!.

Hari 83,
Kami nonton bioskop setelah bubaran kelas. Dia juga sering telpon dan sms aku untuk sekadar say Gud Nite and Gud Morning, biarlah seenggaknya akuadalah orang yang pertama dan terakhir yang dia sms setiap harinya.

Hari ke 85,
Ternyata penyakit gila ku kepadanya naik drastis menjadi penyakit cinta, ya, karena aku telah jatuh cinta padanya. Suasana ini didukung dengan kesendiriannya alias dia jomblo. Wohoo… Miss Cupid di hatiku berteriak riang.

Hari ke 88,
Aku mendapat kabar bahwa neneknya meninggal, dia sangat sedih dan tidak masuk kelas untuk beberapa hari aku menjenguk dan menghiburnya, aku tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang terdekat yang sangat kita sayangi.

Hari ke 90,
Dia sudah bisa mengikhlaskan kepergian neneknya, aku mengatakan padanya bahwa nenek akan lebih bahagia di sana dengan melihatnya disini tetap semangat mengejar cita-citanya.

Hari ke 95,
Semakin hari semakin aku mengenalnya begitu juga sebaliknya, dia adalah pribadi yang baik, entah kenapa hatiku mantap dengannya.

Hari ke 96,
Aku mematut diri di cermin, aku juga tidak jelek-jelek amat, aku lumayan cantik, pujiku pada diri sendiri sambil berharap dia juga merasakan apa yang aku rasakan. He he.

Hari ke 100,
He told me “I Love you”.
Ya Tuhan, apakah ini rencanaMu, engkau tidak membiarkanku untuk mengenalnya dalam waktu singkat karena kamu akan mengirimkannya sebagai pasanganku, apa mungkin dia adalah jodohku, yang pasti Terima Kasih Tuhan engkau mendengarkan doaku dan mengabulkannya lebih.
And I answer “I Love You too”.


Ujian Akhir Semester (lagi)

2 Januari 2012 – 10 Januari 2012…

Senin ini tanggal 2 Januari 2012 hingga tanggal 10 Januari 2012 adalah hari-hari yang menyeramkan karena pada rentang waktu tersebut adalah jadwalnya Ujian Akhir Semester pertamaku di Ahli Jenis Akuntansi Universitas Airlangga Surabaya. Selama seminggu penuh berbagai macam soal-soal akuntansi penuh sesak berjubel di otakku mengantri untuk ku pahami satu per satu… Ya Allah aku hanya bisa boerdoa kepadamu, apalagi setelah melihat hasil Ujian tengah semester kemarin yang hasilnya sungguh tidak maksimal ..*krik krik

Mulai Akuntansi Keuangan Mengengah II, Statistik, Manajemen Keuangan, hingga Akuntansi Biaya yang bagiku adalah momok sewaktu di D3 Perpajakan dulu, hingga yang terakhir adalah Sistem Akuntansi Informasi …waduh waduh muumet rasanya kepala ini @_@.

Usaha sudah dilakukan, doa juga sudah, yang terakhir adalah memasrahkan semua hasilnya kepada Allah…semoga mendapat yang terbaik di tahun pertama ini. Amin ^^.

Rabu, 23 November 2011

Aku membaca -Perahu Kertas-

Waktu jalan-jalan ke sebuah toko buku  aku melihat sekilas sebuah judul novel ”Perahu Kertas”. Pertama kali lihat judul novel karya “Dee” itu aku langsung kepincut dengan gambar covernya yang lucu. dan judulnya yang unik. Niat hati ingin membeli, tapi apa daya isi dompet lagi kering, hehe. Akhirnya dengan berat hati kusimpan sendiri dalam hati rasa penasaran untuk membaca novel tersebut.

Namun yang namanya jodoh memang gak bakal kemana. Walaupun tidak sempat membelinya tempo hari, tapi aku dapat membacanya dengan cara meminjamnya dari sodara, yah walaupun tidak membeli tapi lumayan lah bisa membacanya gratis, hehe. Mungkin memang aku ketinggalan karena baru sempat membaca Perahu Kertas, tapi tak apalah yang penting I can read it by myself, and never too late to read it.

Mulai kupegang novel bersampul hijau bergambar perahu dan bertuliskan Perahu Kertas itu, dan mulai kujelajahi ceritanya satu per satu di tiap halamannya. Pertama kali aku mengenal Keenan (salah satu tokoh utama di novel ini), mulai aku berfantasi ria menggambarkan sosok Keenan sesuai deskripsi di cerita tersebut. Cowok ganteng, berwajah bule, tinggi, putih, wohoo…looks so perfect!, haha biarlah aku menggambarkan sosok ganteng tersebut biar semakin semangat membaca cerita novel ini (I think I fall in love with the name of ‘Keenan’) it sounds unique :).

Cerita berawal dari tokoh utama Keenan, yang baru datang dari Belanda kembali ke Indonesia dan kuliah di Bandung, dan bertemu Kugy (sebagai tokoh utama cewek) dan dua teman mereka. Pada awalnya aku mengira cerita ini adalah hanya sebatas cerita cinta Keenan dan Kugy saja. Tapi ternyata aku salah, di tengah-tengah perjalanan banyak konflik dan alur cerita yang tidak terduga, dan ini semakin membuat saya ketagihan membacanya hingga akhir halaman. Ceritanya seru, membuat saya tertawa, terharu, menagis, dan mengomel sendiri. Tertawa, karena ada part yang lucu. Terharu ketika membayangkah Keenan harus mengundurkan diri dari kuliahnya dan tidak mendapat fasilitas lagi dari orang tuanya karena ia ingin mengikuti kata hatinya yaitu menjadi pelukis, bukan kuliah di jurusan yang ia tidak pernah suka.  Menangis ketika cerita cintanya kepada Kugy yang harus berhenti karena adanya cinta yang lain di hidup mereka masing-masing, Keenan dengan seorang gadis Bali, dan Kugy dengan bosnya sendir,. hingga tak terasa air mata ini menetes.hiks hiks. Lalu ada kalanya aku merasa jengkel terhadap seorang cewek yang membohongi Keenan mengenai lukisannya. Gara-gara cewek tersebut Keenan melepas kuliahnya, karena merasa yakin terhadap lukisannya yang laku terjual, tapi ternyata yang membeli itu adalah cewek itu sendiri dengan menggunakan identitas temannya. Hingga suatu hari Keenan baru mengetahui kalau ternyata lukisannya itu  bukan dibeli oleh orang-orang yang memang menyukai lukisannya, tapi dibeli oleh seorang cewek yang tega memperdayainya. Huuh. Tapi tetep, cinta sejati akan memenangkan pertarungan hati antara mereka berdua. Wuuhh…Love’em so mu(aaa)ch deh ^^.

Membaca novel dengan tebal kira-kira 444 halaman ini bagiku hanya membutuhkan waktu satu hari saya, ya, I spent my whole day to read this novel till end, that was my new record.. LoL. Itu karena memang ceritanya seru, dan saya tidak sabar jika harus menutup dan membukanya esok hari untuk melanjutkan membaca ceritanya. Two thumbs up for ‘Dee’ as a writer of this Novel, ‘n I love this novel so much *5 (five stars).

Minggu, 20 November 2011

She is My Mom




Beliau telah menjadi bagian hidupku selama 21 tahun. Beliau adalah seorang yang melahirkan dan membesarkan aku dengan penuh kasih sayang tiada tara, dan beliau adalah seorang perempuan yang ku panggil Ibu. Ibu, beliau selalu  menungguku setiap hari di rumah. Tidak pernah terlewatkan senyum tulus seorang ibu yang diberikan kepadaku setiap hari ketika aku mencium tangan dan kedua pipinya sebelum aku berangkat kuliah.

Cerita menarik tentang ibuku. Ibuku adalah seorang yang biasa saja, tapi beliau begitu luar biasa di mataku. Sungguh, aku merasa bangga kepada ibuku, ibaratnya ibuku mempunyai tangan-tangan ajaib jika sudah bersentuhan dengan perabotan dan segala macam bumbu dapur. Bagaimana tidak, pagi hari setiap aku baru membuka mata dari tidurku aku melihat ibu sudah bersiap dengan segala “senjatanya” di dapur. Lalu aku beranjak mandi dan mempersiapkan diri untuk segera berangkat kuliah, setelah beres kutengok sebentar ibuku di dapur, dan voila! Sarapan dengan berbagai menu telah tersaji di meja makan. Aku tidak habis pikir, betapa hebatnya ibuku, hanya dalam waktu singkat di setiap paginya semua hidangan sarapan sudah “bertengger manis” di meja makan, uniknya ibu memasak tidak hanya satu menu saja, paling sedikit tiga menu berbeda setiap pagi, padahal di rumah kami hanya ada empat orang saja. It was awesome!. Terkadang, sebagai anaknya aku merasa malu kepada diriku sendiri karena aku tidak begitu mahir memasak seperti beliau. Hehe.

Itulah ibuku, seorang ibu rumah tangga biasa yang setiap hari melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa mengeluh, selalu setia menunggu suami dan anaknya pulang dari segala aktivitasnya masing-masing. Walaupun ibu bukan seorang wanita karir yang berdandan cantik dan pergi ke kantor setiap harinya, but she looks beautiful for me, even without any make up on her.  Waktu duduk dibangku sekolah dulu paling suka mendengar bel pulang berbunyi, itu berarti tanda akan segera pulang, dan aku senang sekali melangkahkan kakiku menuju ke rumah, karena selalu ada ibu yang menungguku. For me, she’s more than just a mom, she’s wonder woman. I love all my family but I love my parents more, especially my mom. Hope I always beside her , because I proud to be her daughter.